Senin, 01 November 2010

PABLO

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

Di tepi sehelai sungai muara yang jernih, airnya mengalir segar dan tenang ke laut. Ikan-ikan berenang di sungai itu. Sebuah rumah kayu sederhana menghadap ke laut yang selalu mendebur, angin pantai, awan-awan melayang bagaikan dalam impian. Di situ ia hidup menghabiskan usia, menulis puisi dan berpolitik. Tukang pos hampir setiap saat mengantar surat-surat kepadanya, ia membaca surat-surat dan menulis surat-surat, membaca buku dan menulis buku. Karya sastra dan politiknya membawanya pada popularitas di mata dunia, menjadi integritas yang seolah tak tergantikan. Namun sama sekali ia tidak asing di kampungnya yang terpencil. Ia berbaur dengan rakyat kecil yang buta huruf di pedalaman Cile. Bisa kita bayangkan, betapa gilanya orang ini, seorang penyair yang hidup di tengah masyarakat buta huruf dan masyarakat itu menokohkannya justru karena puisi-puisinya. Semangat hidup yang berkilau yang tak terbantah oleh gairah gelombang lautan atau sekadar Nobel Sastra. Integritasnya diusung dari keterpencilan tempat tinggalnya yang terasing dari pergaulan nasional dan internasional, terbelakang dan ditinggalkan. Itu bukan kemustahilan. Ia tampil sebagai wakil mereka yang tertinggal di mata negara dan dunia.

Dia tersenyum bijak. Tertawa dengan renyah, ringan dan putih. Orang-orang buta huruf itu mengoleksi buku-buku puisinya, mereka memajangnya di almari kaca, setiap hari dibersihkan dan diberi wewangian. Masyarakat buta huruf itu selalu kagum dan terpana ketika ia membacakan puisi-puisinya, mereka selalu berharap mendengarkannya membaca puisi-puisinya. Puisinya menjadi penting bagi masyarakat buta huruf itu.

Demikian secarik kecil kisah Anthonio Skarmeta tentang Pablo Neruda.

Muncar, 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Catatan Akhir Oktober

Orang boleh terkena masuk angin, kedua lobang hidungnya mengeluarkan lendir, bersin-bensin dicampur batuk, tenggorokan seperti lengket di dalam karena pilek. Musim hujan tahun ini tidak konsisten, kadang panas tiba-tiba saja lalu hujan tiba-tiba pula. Perubahan cuaca yang cepat membuat orang gampang flu. Kau boleh mengusir flumu dengan minum jamu atau obat di toko, boleh juga dengan cara lama, yakni dikerok.

Ia pun menulis. Diam-diam sebenarnya ia mengimpikan rumah. Penulis itu, tentu saja ada yang punya rumah sendiri dan ada pula yang belum punya sendiri. Kau boleh meyakinkan dirimu bahwa sejatinya menulis itu adalah menyelenggarakan pesta pemikiran dan keindahan, bahan bacan yang kaya akan menjadi penentu pula kualitas tulisan.

Hari ini tubuhmu lemas akibat flu, padahal sudah minum jamu dan obat toko. Istrimu bermain bersama anakmu yang masih tiga tahun. Melihat istrimu, kau terkagum-kagum. Bagimu, istrimu adalah wanita seksi dengan kulit bersih yang selalu membuatmu ingin selalu bercinta dengannya di atas spring bed baru. Kau merasa sudah lama tidak bercinta dengan istrimu pada siang hari. Seks yang panas akan menyembuhkan flu, kata seorang pakar seksologi, karena itu membakar karbon dioksida dalam tubuh, tambahnya.

Sementara di luar sana, orang-orang berlalu-lalang di jalanan. Kita tidak tahu apa yang disibukkan oleh mereka satu persatu. Kita hanya melihat kesibukan yang begitu ramai dan terburu. Bulan ini Merapi menelan nyawa, termasuk juru kunci yang mati begitu indah itu, Mbah Maridjan. Kehidupan ini terkadang penuh misteri, tentu saja apa yang terpegang hari ini belum tentu terpegang esok hari. Apa boleh buat, waktu terus berlalu dan kehidupan hanya mengenal perubahan yang terus-menerus.

Tadi malam, seseorang telah menabrak kucing dengan motornya yang berlari kencang. Mayat kucing itu dibungkus bajunya, lalu dikuburkan menghadap ke utara dengan bunga pada pukul 23.00 Wib. Itu harus dilakukan untuk menghindarkan kesialan, nasehat Mbah Buyut. Ya. Lakukanlah dengan baik. Karena sejatinya, kau dididik untuk menghargai setiap makhluk ciptaan Tuhan sekecil apa pun, setelah menabrak kucing atau binatang lain hingga mati, sudah seyogianya kau menghormati bangkai binatang sebagai wujud penghormatan dan kerendahhatianmu kepada setiap ciptaan Tuhan yang Dia ciptakan dengan cinta. Jika kau tak menghargai ciptaan-Nya, seperti bangkai kucing itu, maka level kehambaan sama saja dengan kucing. Ironis. Manusia kayak kucing, itu merusak kehidupan.

Muncar, 31 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat

Hanya Menulis

Sebagaimana bersama kita ketahui, teks adalah sarana yang teramat penting. Dengan teks kita mencatat sejarah, mendedahkan sejumlah gagasan dan hasil-hasil pemikiran, teks mengabadikan sastra, teks menjadi acuan aktual dalam mendefinisikan kontruksi kehidupan. Tuhan menurunkan wahyu dengan bahasa manusia yang kemudian diabadikan dalam sarana budaya sebagai teks kitab suci. Kita tidak percaya bahwa seseorang akan dianggap memiliki eksistensi dan pengaruh keilmuan tanpa memproduksi teks. Ini sekadar propaganda bahwa teks itu penting dalam kehidupan kita.

Seorang penulis, demikian menurut Hemingway, adalah manusia yang senantiasa menghadapi dirinya sendiri dalam kesunyian saat ia tengah sibuk memproses rangkaian teks. Ia akan mati dalam arti harafiah jika ia telah terlena dalam sebentuk aktivitas yang berada di luar teks yang dibuatnya. Penulis akan melahirkan tulisan "kacangan" bila ia dengan lena mencebur dalam keramaian di luar teks itu sendiri. Tendensi berlebih terhadap "keramaian" atau pembaca akan menjebak penulis dalam keasyikan menulis hal-hal yang tidak berkualitas dan hanya pemuasan tanpa kesejatian nilai. Ini bukan 'sok moralis'.

Kembali dalam kesunyian dan menghadapi diri sendiri setelah ia melepaskan diri dari belenggu "keramaian" adalah keniscayaan bagi penulis yang baik. Jika tidak, maka ia hanya menulis dan merasa teksnya adalah segalanya. Padahal hanya tulisan, bukan bahan bacaan, tetapi sekadar rangkaian huruf-huruf yang dibuang sejarah setelah cukup dibaca atau dilihat-lihat. Kira-kira demikian Ernest Hemingway dalam pidato penerimaan hadiah Nobel Sastra di tahun 1954.

***

Kemudian waktu membentuk benda persegi empat. Dan malam menyalakan lampu-lampu. Hujan dari suatu musim masih kembara dari negeri-negeri jauh yang dihiasi sejarah menjelma cukup rangkaian bunga. Orang-orang mendiskusikan sesuatu yang lain dari perjalanan panjang suatu peradaban. Kali ini, siapa yang meratap dari balik jendela rumah yang basah? Ia ialah mata yang mencari-cari makna yang tak terpahami, ia menjadi sia-sia, seperti buku dan koran yang hanya menerbitkan huruf-huruf dan angka-angka. Tulisan belaka.

Muncar, 31 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat

TV dan Kotak Rokok Pakubuwono (Surat Terbuka Kepada Yth. Sastrawan Pelopor RSP, Kusprihyanto Namma)


Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


Di tahun 1990an, ketika itu saya masih SD,bapak saya yang seorang PNS rendahan berlangganan Jawa Pos dan koran Karya Dharma. Di Jawa Pos dan Karya Dharma itulah, saya membaca puisi-puisi, juga cerpen dan tulisan-tulisan sampeyan, Mas Kus. Apa yang masih lengket dalam ingatan saya hingga hari ini adalah tulisan dan cerpen Mas Kus. Baru kali ini saya sempat bisa menulis untuk sampeyan tentang kekaguman saya pada tulisan-tulisan sampeyan.

Waktu itu, membaca cerpen dan tulisan sampeyan di tahun 90-an, tak menitik sedikit pun dalam benak saya untuk bisa kenal dan berkomunikasi dengan sampeyan. Waktu itu, saya hanya bisa membaca. Dan karena ketidaktahuan akan pentingnya sebuah dokumentasi (karena memang masih usia SD), koran-koran yang memuat tulisan sampeyan itu tidak saya miliki, karena koran-koran itu dibakar oleh ibu saya di dapur untuk menanak nasi atau mendidihkan air demi secangkir kopi malam hari ketika kami tidak bisa lagi membeli minyak gas untuk menghidupkan kompor. Kami sekeluarga selalu ngumpul bila malam, berbincang, minum kopi, bapak melinting tembakau apek, dan nonton tv hitam putih.Kami hidup di sebuah perumahan PNS yang sempit, satu kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan wc, dan dapur menjadi satu ruang yang menumpang-tindih; sempit. Bila hujan, air menggenang di rumah kami. Gaji PNS bapak saya tidak cukup menyejahterakan kami, walaupun kami tetap hidup dan saya bisa bersekolah hingga dua kali DO fakultas sastra dari universitas: UGM dan Unej. Dalam perumahan PNS yang sempit itu, kami hidup bertujuh, ibu dan bapak saya, adik, dan tiga orang kakak saya. Bapak tidak pernah patuh pada KB yang merupakan anjuran pemerintah waktu itu.

Tulisan-tulisan Mas Kus saya baca dalam kondisi yang seperti saya gambarkan tadi. Saya tidak tahu (waktu itu) sastra baik atau tidak baik, yang saya tahu bahwa tulisan Mas Kus itu bagus, dan saya selalu membacanya berulang-ulang, sehingga tercipta bayangan dunia baru yang nikmat di dalam benak saya. Saya suka itu. Walaupun hingga kini saya tidak memiliki koleksi tulisan-tulisan sampeyan, namun beberapa tulisan sampeyan yang pernah saya baca sekitar 19 tahun yang lalu, masih sebagian kuingat dengan baik. Ada tulisan yang mengisahkan tentang Ronggowarsito yang diminta menebak isi sebuah kotak rokok oleh Pakubuwono IV. Sebelumnya, Pakubuwono IV telah mengeluarkan seluruh rokok di dalam kotak rokoknya tersebut tanpa sepengetahuan siapa pun. Esoknya, ia memanggil Ronggowarsito ke istana. Pakubuwono IV meminta Ronggowarsito menebak, apakah kotak rokok yang isinya sudah dikeluarkan oleh Pakubuwono IV tanpa sepengetahuan siapa pun itu kosong atau masih ada isinya. Kotak rokok itu diletakkan tepat di depan Ronggowarsito. Pakubuwono IV mengejek Ronggowarsito yang tidak bisa langsung memberikan jawaban apakah kotak tersebut bersisi rokok atau sudah kosong. Pakubuwono IV berkata: "Mana mungkin kamu bisa melihat sesuatu yang jauh dan gaib, jika melihat isi kotak rokok tertutup yang di depan matamu ini saja kamu tidak mampu." (Saya masih mengingat dialog dalam tulisan sampeyan itu, Mas Kus). Setelah merenung (di dalam renungannya, Ronggowarsito hanyut dalam dimensi ketuhanan yang mendalam, batinnya berperang tentang ada dan tiada isi di dalam kotak rokok yang tertutup dan tidak terlihat oleh pandangan matanya itu, hingga ia menemukan keyakinan yang final bahwa ada dan tiada menyatu dalam keutuhan), Ronggowarsito lalu menjawab:

"Kotak rokok itu berisi, Sinuhun," kata Ronggowarsito dengan mantap dan seyakin-yakinnya.

Pakubuwono IV ngakak-ngakak, tertawa kepingkel-pingkel, karena jelas jawaban penasehatnya itu, Ronggowarsito, salah besar. Pastinya isi kotak itu sudah kosong sebab tadi malam ia telah mengeluarkan seluruh isinya. Setelah Pakubuwono IV puas mengejek dan menghina penasehatnya sendiri, Ronggowarsito meminta sinuhun Pakubuwono IV untuk membuka kotak tersebut. Pakubuwono IV membuka kotak tersebut. Dan memang kosong.

"Coba sinuhun periksa lagi," kata Ronggowarsito tenang dan tetap yakin.

Pakubuwono IV memeriksa lagi kotak rokoknya itu. Takjub! Ternyata masih ada sebatang rokok yang tersangkut di sela lipatan penutup kotak rokok, hal itu terjadi tentu tanpa disadari sama sekali oleh Pakubuwono IV tadi malam saat mengeluarkan seluruh isi rokok dari dalam kotak. Dan dengan demikian, jawaban Ronggowarsito benar. Pakubuwono IV merasa tersudut, ia marah, lalu melemparkan kotak rokok itu ke hadapan Ronggowarsito dan mengusir Ronggowarsito dari hadapannya.

"Keluar!" teriak Pakubuwono IV dengan wajah yang terbakar.

Tulisan selesai. Ketika saat ini saya mengingat kembali, betapa satire dan kritis, tajam dan menyehatkan tulisan sampeyan itu, Mas Kus, di mana tulisan itu terbit di tahun 90-an saat Soeharto masih gagah perkasa.

Ada lagi tulisan sampeyan tentang televisi (tentu saja judul dan isi detil tulisan-tulisan sampeyan itu, saya sudah lupa). Sebuah keluarga kecil yang memiliki tv hitam putih yang tv mereka selalu gangguan, muncul bintik-bintik hitam di layarnya. Dialog pun terbangun antara tokoh aku dengan istrinya tentang tv mereka. Anak-anak mereka selalu protes, kenapa tv selalu mengeluarkan bintik hitam dan gambarnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Malam hari, ketika tv gangguang dan diperbaiki berulang-ulang tetap saja tidak beres, tokoh aku mematikan tvnya. Anak-anak mereka sudah tidur. Tokoh aku dan istrinya berdialog tentang masa lalu mereka, saudara-saudara mereka, juga teman-teman mereka dulu. Hingga larut malam dan keduanya tertidur melupakan tv mereka. Itu tulisan sampeyan yang segar menurut saya, yang saya baca dulu ketika saya berusia SD, 19 tahun yang lalu.

Mungkin sampeyan sudah lupa bahwa sampeyan pernah menulis tulisan-tulisan yang pernah saya baca 19 tahun yang lalu itu. Tapi, saya masih cukup mengingatnya dan memetik manfaat darinya. Andai saya bisa memiliki koleksi karya sampeyan, betapa senangnya saya. Karena di toko-toko buku saya cari tulisan sampeyan, saya tidak menemukan, mungkin karena toko buku di kota kabupaten yang saya tempati ini hanya ada satu toko buku yang kurang lengkap. Untuk ke kota besar mencari buku-buku, saya mungkin tidak bisa melakukannya karena kendala waktu dan uang. Jika Mas Kus berkenan memberi saya koleksi tulisan-tulisan Mas Kus yang lama-lama, saya akan sangat berterima kasih. Entah bagaimana caranya, lewat pos, lewat email, atau apalah. Saya hanya meyakini, bahwa jika Tuhan menakdirkan saya bertemu kembali dengan tulisan-tulisan sampeyan, maka saya akan menemukannya. Teman-teman saya bilang, bahwa Kusprihyanto itu pelopornya "revitalisasi sastra pedalaman". Jika iya, saya berada dalam "barisan" itu. Karena sastra kadang kala dipengaruhi oleh jaringan, uang dan tempat ("pusat" atau "non-pusat"). Lalu bagaimana dengan mereka yang berkarya di tengah keterpencilan tempat dan miskinnya uang dan jaringan? Saya rindu kebersamaan dan kesejajaran yang obyektif, sehingga karya ditimbang dari kualitasnya, bukan kuantitasnya.

Salam Kebudayaan

Kamis, 28 Oktober 2010

Pantat Mbah Maridjan

Sejumlah orang menjemput Mbah Maridjan di rumahnya untuk mengajaknya segera meninggalkan rumah, mengungsi karena Merapi emergency. Mbah Maridjan tahu bahwa Merapi akan memuntahkan "wedhus gembel" dan menelan nyawa. Karena ketahuannya itulah, dia memerintahkan seluruh warga Kinahrejo mengungsi segera. Dan setelah semua warga mengungsi, tinggal Mbah Maridjan hendak mengungsi belakangan setelah yang lain telah dipastikannya aman.

"Ayo, Mbah, kita ngungsi," kata salah seorang yang menjemputnya.

"Yo ayo! Aku sembahyang disek yo, entenono sedilut," jawab Mbah Maridjan.

Lalu dia pun sembahyang. Di saat sujud, Merapi muntah, Mbah Maridjan wafat dan mayatnya ditemukan dalam posisi sedang bersujud membelakangi Merapi. Mbah Maridjan tahu bahwa Merapi itu hanya level "silit" (pantat) dibanding kepasrahan penghambaannya kepada Tuhan yang ia sembah. Dan para penemu mayatnya dan yang melihat posisi mayatnya (baik itu ustad atau ulama'-ulama' karbitan yang menyeru-nyeru moral, para pemimpin mulai lurah sampai presiden, anggota dewan atau siapa pun yang pengabdiannya hanya untuk dirinya sendiri dan gemerlap segala hal selain ketulusan) hanya selevel pantat Mbah Maridjan. Dan dengan tanpa beban Mbah Maridjan memantati mereka seperti ia memantati Merapi. Itu benar-benar "roso", pengabdiannya lebih roso daripada sekadar Merapi, pengabdian sejati yang mengabdi-sembah hingga akhir. Mbah Maridjan meyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa bukan Merapi atau sultan mana pun yang ia jaga dan ia junjung dengan jiwa raganya, tapi bahwa sejatinya ia mengabdi kepada Kang Murbheng Dumadi, Allah, sesembahan manusia dan muara segala pengabdian total. Karena "tidaklah diciptakan segala makhluk selain hanya untuk mengabdi-nyembah kepada Allah Kang Murbheng Dumadi", dhawuh-Nya. Kematian Mbah Maridjan itu kematian paling indah dan yang paling dirindu-dambakan bagi tiap-tiap kita yang berhati nurani dan yang mengorbankan seluruh jiwa raga hanya untuk mengabdi-sembah kepada-Nya dengan menunaikan selunas-lunasnya pengabdian pada tanggungjawab kemanusiaan yang sejati. Sampai akhir. Sampai tiba nyata segala rindu pada perjumpaan dengan Tuhan Yang Maha Menguasai Segalanya.

Muncar, 29 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat

Rabu, 27 Oktober 2010

Simponi 2006


(buat Muzayana)

diam-diam embun membasahi jendela
di antara kecemasan
udara yang dingin menjadi jaket
lama kumaknai cahaya matamu, Za
ketika lidah lautan
mengusung banyak kisah pelayaran
yang tak sepenuhnya tercatat
dalam nyanyian musim gugur

di lengkung alismu, Za
ketemukan hening
di mana segala jawaban
menemukan diri
dan aku ingin tenang, Za
bersama Za
bermain makna bersama kanak-kanak
berpanjang usia hingga tua
dan pasrah segala

Ofiq
Desember, 2006

SEEKOR MOTOR HONDA

Catatan “Di Penjelang Hukum”

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


Orang-orang bersilangan dalam kecemasan. Suara-suara kembali pulang ke dalam kesunyian. Hujan turun. Dari balik jendela, kepergian seolah seorang dengan wajah yang dingin-basah melambaikan tangan pada perpisahan. Hamba-hamba hukum merasa yang paling menghamba, segalanya dipersembahkan bagi sang tuan. Telah menjadi yang lain antara penderitaan dan obat penawar.

Lalu bumi. Di situ kau berdiri sambil bersandar pada tiang kantor pengadilan yang megah. Kasus korupsi sampai kasus orang jompo yang mencuri setengah kilo biji kopi disidangkan, dan terus disidangkan. Kantor pengadilan yang ramai selalu bagai pasar, seperti juga kantor kejaksaan dan kantor polisi. Orang-orang dikerubung kegelisahan dan dikeroyok kecemasan. Kecemasan dan kegelisahan sebesar-besar gajah; mengeroyok, mengerubung. Jari-jari tangan bersembunyi di dalam kantong celana yang dalam. Hujan yang mengerikan, angin celaka, asap rokok, bau keringat bercampur aroma parfum para hakim dan jaksa. Kegelisahan dan kecemasan bersekutu bersama udara jahat, orang-orang menanti-nanti keputusan mejelis hakim, menunggu kemungkinan-kemungkinan yang tak terpastikan sembari meyakini koran, buku, pasal-pasal, ingin meninggalkan alangkah sayang. Segalanya terlanjur dipersembahkan bagi yang telah dipertuan-agungkan. Orang-orang mondar-mandir, di antara mereka terbatuk-batuk bagai mendapat firasat buruk. Menanti. Menanti keputusan hukum. Menanti sebuah hukum, suatu hukum (tidak jelas), seekor hukum, ataukah sesosok hukum, seorang hukum. Pranoto membuat film yang memvisualisasikan “ilustrasi sastra”-nya Franz Kafka; “Di mana hukum?” atau “Di mana Tuan Hukum?”. Maka, dijawablah oleh sang penjaga: “Hukum sedang keluar”, atau “Tuan Hukum sedang sibuk, sehingga tidak bisa segera ditemui. Silahkan menunggu. Terima kasih.” Lalu, sang pencari itu pun menunggu hingga rambut dan cambangnya memanjang tiga meter.

Seorang hukum. Ya. Seorang hukum. Bernyawa ia, berpikir, berkata-kata, dan mengantuk layaknya manusia. Atau sebuah hukum, lebihkah itu? Sebuah hukum; diam tak bergerak seperti batu. Atau seekor hukum; bertindak dengan insting, tanpa kebenaran dan tanpa keadilan, memakan tanpa perasaan. Tak sebagaimana layakkah Kafka dengan “seorang hukum”-nya? Iakah kedaulatan? Seorang kedaulatan? Seekor? Sebuah benda? Kata tak mendedah! Para penjaga itu sekadar penunggu pintu kandang seekor hukum atau seekor kedaulatan. Seekor itu boleh ular, singa, komodo, cicak, buaya atau apa pun terserah tafsirmu.

Tapi, di manakah seorang keadilan? Kenapa seorang? Kenapa tidak seekor atau sebuah keadilan saja? Tak lebihkah segala ini hal ini ikhwal ialah abstraksi absurditas kita? Ia belaka sajakah?

“Di Penjelang Hukum”, judul film yang dibuat oleh Dwi Pranoto dengan uang dari penjualan “seekor” motor honda lamanya. “Di Penjelang Hukum”-nya Kafka, film menafsir teks, menafsir keterpencilan. Tafsir yang membuih-buih. Di penjelang yang jatuh dalam penantian membosankan, dalam tragedi yang tak terjelaskan, penantian yang mustahil, kenyataan yang mustahil namun merupakan hasil tafsir yang membuih-buncah aktualitas. Ia nyata. Di depan mata. Jelas. Up to date. Tapi, mustahil dalam jangkau kewarasan. Di penjelang yang mustahil terjelang, tetapi ia menjelang. Di penantian yang mustahil dinantikan, namun ia menanti. Tapi, ia berharap dalam pengharapan yang mustahil diharapkan. Dan orang-orang membincangkannya dengan serius, bersungguh-sungguh dengan ilmu, teori, metode-metode, tentu saja sangat mendalam, bersama dugaan, tafsiran, anggapan, mungkin juga kecurigaan, dan entah apa lagi. Mereka membincang sambil minum kopi dan menghisap rokok di sebuah rumah makan atau kafe. Sambil tertawa dengan gigi yang beberapa telah tanggal, gusi hitam oleh nikotin. Menggairahkan. Dan diam-diam ada yang mengendap-endap di pojokan.

Banyuwangi, 2010