Selasa, 09 November 2010

Politik dan Buto Cakil



Karya Fathony Rinaldy

Perut: Kenyang and Lapar

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

PERUT adalah tempat makanan. Secara biologis, perut adalah tempat penyimpanan makanan dan pencernaan untuk diserap tubuh, juga tempat di mana sisa makanan itu disimpan untuk kemudian dikeluarkan. Teman saya seorang sarjana perikanan, Agus, menjelaskan kepada saya, bahwa dia pernah membuat skripsi tentang pemindangan ikan. Dalam skripsinya tersebut, dia mengupas bahwa ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur dengan baik, memiliki aroma enak, serta memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujarnya.

Aku pikir soal perut adalah soal makan. Soal seseorang itu memasukkan makanan ke dalam perutnya. Banyak persoalan penyakit disebabkan oleh perut, atau lebih tepatnya disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi seseorang. Ini artinya, menu makanan seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya. Kesehatan fisik, tentu saja terkait dengan kesehatan mental dan kejiwaan seseorang. Orang gila atau gelandangan yang keluyuran di jalanan tak pernah memikirkan bersih atau tidaknya makanan yang dimakannya, mereka mengambil sisa makanan di tempat sampah lalu memakannya. Namun, kita lihat kondisi fisik mereka seolah tidak mengalami masalah.

Ada sebentuk anggapan aneh. Kenapa bupati, orang kaya yang kikir, pejabat yang korup itu perutnya selalu terlihat gendut? Seringkali penyakit yang mereka derita itu macam-macam. Ini karena perut mereka sering dijejali oleh makanan banyak, kurang mempertimbangkan unsur lemak atau kolesterol dalam makanan yang dikonsumsinya. Dibandingkan gelandangan yang makannya tidak higenis, diambil dari tempat sampah yang kotor, kesehatan para pejabat itu kalah dengan gelandangan yang kelihatan penyakitan. Terbukti mereka tetap sehat dalam usia yang terhitung cukup tua di jalanan. Ini karena, menurut Kang Fatah, karena walaupun yang dimakan gelandangan itu kotor, namun terhitung halal. Nah, pejabat itu banyak makan yang unsur halalnya sangat minim di dalam makanannya. Sehingga menyebabkan perut mereka gendut, penyakitan, gemuk tidak enak dipandang. Gak ideal. Coba kita lihat perut para anggota dewan kita, perut bupati, kepala dinas, dll. Kalaupun ada yang kurus kering, itu mungkin karena model tubuh mereka memang kurus, tapi perutnya lentur. Ada lho orang kurus yang makannya banyak sampai berpiring-piring. Yang gendut, lha itu makannya kadang sedikit tapi unsur lemaknya (terutama lemak yang “tidak halal”) banyak. Jadi, sebenarnya kurus atau gendut, kalau itu perut pejabat tentu saja kita curiga itu bersih dan higenis.

Itu subyektif. Gak logis!

Nah, ketika perut terlalu banyak diisi makanan enak, maka dampaknya adalah ngantuk. Ini ilmiah. Ada banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh kita menyebabkan kita mengantuk. Mengantuk tentu membutuhkan tidur. Tidur adalah aktivitas yang sangat penting bagi manusia. Cuma tidak boleh terlalu banyak tidur. Terlalu banyak makan, menyebabkan sering mengantuk dan sering tidur. Sering tidur menyebabkan malas. Itu rentetannya. Makanya gak heran kalau banyak pejabat kita malas. Mungkin yang begitu itu. Ketika perut terlalu kenyang atau sering kenyang, maka badan lemas, namun kehendak hasrat tinggi. Maksudnya, kalau perut kenyang dengan makanan yang bergizi tinggi, yang di bawah perut akan bergerak-gerak bergairah. Karena yang di bawah perut bergairah, maka ia butuh pemuasan tidak cukup dengan satu lobang saja, perlu berlobang-lobang untuk memenuhi seksualitasnya. Kata Mbah Freud, libido orang yang suka makan itu lebih tinggi dari nafsu senggama binatang.

Subyektif lagi! Ngawur!

Ketika perut seringkali kenyang, seringkali ngantuk dan seringkali tidur. Bangun tidur, yang di bawah perutnya minta giliran. Sehingga prosentase hidupnya banyak terfokus pada makan, tidur, seks, buang air. “Mangan, turu, melek, kawin, nelek, nemplek,” kata sebuah kitab kuno berbahasa Jawa yang dituturkan Darmono. Maksudnya jangan jadi orang yang kayak gitu, yakni yang hanya banyak “makan, tidur, bangun, seks, buang air, dan merengek.” Yang demikian itu adalah kuantitas manusia yang sempurna sebagai penjelmaan binatang, dia tidak mampu menggerakkan kualitasnya; potensi keberadabannya, akal, dan kebudayaan yang bermanfaat bagi sesama. Hidup hanya untuk hidup, bukan lagi hidup untuk menerima, menjalankan, dan mengolah kehidupan.

Subyektif! Gak ilmiah!

Persoalan perut adalah persoalan manusia. Persoalan sejarah. Demi kepuasan perutnya (yang kemudian turun sedikit ke bawah perut) manusia melakukan hal-hal di luar kewajaran akal dan pikiran. Sejumlah ingatan tentang itu kita bongkar lagi di sini, tumpukan kertas dokumen terpaksa harus kita bongkar lagi dari dalam laci kesejarahan. Akan kita temukan sebentuk kengerian menjalar hingga ke ubun-ubun kepala. Tidak semua alasan kebrutalan dan kelicikan itu disebabkan perut. Tapi, ada harga diri, martabat, kejayaan, kekuasaan, dan sekeranjang alasan-alasan lain. Namun, setelah perut ini kenyang, bukankah kemudian kebinalan akan terangsang? Perut yang kosong sekosong-kosongnya, akan menyebabkan seseorang lemas untuk berbuat sesuatu. Meskipun perut lapar juga bukan alasan seseorang untuk tidak bisa berbuat apa-apa. Karl Marx juga kelaparan sampai ia minggalkan dunia. Tapi, soal lapar di sini, tentu bukan soal lapar karena tidak makan. Lapar lebih saya artikan sebentuk susahnya nyari makan, kefakiran hidup yang sesungguhnya. Untuk makan saja susah, tidur susah, apalagi berdialektika. Kebodohan dan kedunguan merajalela, lalu kita terpaksa harus menjual harga diri, bersedia untuk dihina, bersedia untuk dipermalukan, bersedia membudakkan diri demi perut yang harus diisi kemudian demi kebutuhan hidup yang lainnya setelah perut kita kenyang, demikian ciri khas Indonesia mutakhir. Bukan alasan yang tepat memang jika kita katakan bahwa segala bentuk kriminalitas seperti pencurian, perampokan, dan lain-lain kejahatan itu karena disebabkan perut lapar. Pun tentu bukan sebentuk alasan yang benar jika perut kenyang lantas menyebabkan seseorang menjadi baik, tidak kriminal, tidak menyimpang, pendeknya tidak jahat. Soal kenyang dan lapar ternyata berpengaruh kuat terhadap mentalitas seseorang. Orang yang makan melebihi porsinya dan dengan nafsu makan yang enak-enak, cenderung rakus. Mungkin juga akan rakus dalam banyak hal. Kelaminnya akan berfungsi dengan panas, variasi kelainan pemuasan yang tidak masuk akal mungkin akan terjadi. Menahan lapar bukan berarti berkehendak untuk menjadi baik, begitu sebaliknya, memperkenyang perut bukan untuk menjadi jahat. Soalnya terletak pada sejauh mana kehendak kenyang dan kehendak menahan lapar itu memulai dirinya, demi kepentingan apa. Jika kepentingannya hanya untuk hidup, maka kenyang tentu diperlukan secara wajar. Namun bila hidup ini hanya sekadar untuk makan, sudah sedemikian parahnya kehidupan kita, bukan?.

Banyuwangi, 2010

Sabtu, 06 November 2010

Bencana dan Kemujuran

Allah Maha Memaklumi dan Allah Maha Berpikir dan Maha Berakal. Pikiran (rasionalitas) dan akal dikaruniakan Allah pada manusia dan Allah menyuruh manusia berpikir dan menggunakan akalnya agar manusia tidak semberono mengolah hidup, Allah pun menyuruh manusia pasrah agar tidak lalai dan sombong dengan akal pikirannya. Ketidakpasrahan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah, karena tidak pasrah maka ia lalai pada kenyataan kehidupan yang tengah berjalan yang dilingkupi kompleksitas dan keberadaan makhluk-makhluk lain dan pengetahuan obyektif. Dari mana dimulai revolusi "nurani"? Siapa dan bagaimana? Analogi tersia dalam kontekstualisasi. Manusia dan segala perangkatnya sudah menjadi "jenak" (praktis/instan) dan tidak berproses.kita hanya perlu keseimbangan (harmoni), sambil menikmati irama-irama kehancuran dan harapan-harapan kebangkitan. Manusia tidak bisa menjangkau bulan tanpa alat-alat dari hasil-hasil kebudayaan (akal pikir dan rasa), tapi manusia tidak bisa tiba di bulan tanpa pasrah (rasa sejati yang melupakan kecemasan-kecemasan dari kelalaian yang mungkin terjadi), ia punya alasan untuk pesimis sebagaimana ia punya alasan untuk optimis.

Karena tidak ada satu pun hal sekecil apa pun yang itu bukan nikmat. Hanya persepsi kitalah yang memilah-milah mana nikmat dan mana bencana atau azab. Bahwa sesungguhnya azab itu bukanlah letusan gunung, tsunami, atau banjir, kemiskinan, dan lain-lain. Tapi, azab yang sebenarnya adalah kebuntuan pikiran dan mengerasnya hati terhadap anugerah hidup yang telah Tuhan karuniakan dengan cuma-cuma. Letusan gunung, banjir, kemiskinan, dan lain-lain hanya akibat dari kerasnya hati dan buntunya pikiran yang melepas fungsinya sebagai "Ganjal Meja" (Penjaga keseimbangan alam dan nilai-nilai). Allah Maha Sabar, Maha Tidak Pemarah, Maha Ramah, Maha Kaya Maha Pemberi Nikmat, Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Pengampun Maha Latif.

Taufiq Wr. Hidayat
Purwoharjo, 2010

Jumat, 05 November 2010

Pecahan-pecahan Catatan

Taufiq Wr. Hidayat

(1)
Bunyi yang ramai, ayam jantan, kleneng jam, gelas yang diletakkan secara agak keras. Harum kopi dan asap rokok. Ada sebentuk kecemasan hari yang menggelung di saku baju tiap baju yang ada sakunya. Bom meledak lagi. Lalu kalian memainkan bola di atas hampa.

(2)
Dan Sang Bima Suci (Brontoseno) menyelam ke dasar samudera. Ia masuk ke dalam tubuh kecil Sang Dewa Ruci. Pulang ia membawa tirta kesucian yang sejati. Maka Surendrajati-lah ia dengan segala keluhuran Mohammad-ku (Muncar, 27 Janurai 2008)

(3)
Aku lari ke atas bukit rindu yang setiap pagi selalu kau sirami dengan tanganmu. Hingga di situ aku telah meleleh bersama embun, dan udara membawakan sehelai namamu ke dalam ketiadaanku.

(4)
Malam. Begitu rebah. Setelah segala awal adalah kenisbian. Kita mendengkur pada malam. Kemudian bangun dini hari, membangun sebentuk sungai di muka jendela. Masih saja, canda cabul dan kata yang tak termaknai. Masih saja kita membudakkan diri, mengurai kenyataan menjadi lobang sampah. Malam. Begitu rebah. Pelan. Sunyi lecet dalam kelam.

Banyuwangi, 29 Agustus 2009

(5)
Perjalanan kita, bagian dari kehidupan itu, bukan lagi yang itu, tapi telah menjadi keharusan penerimaan kehidupan. Mari bertamasya pada bukit kesadaran. Mungkin di luar susah kering, daun akasia gugur usia. Para penambang hendak merusak bukit kita. Kita jangan diam, atau mati dalam kemusnahan. Mari merayakan pembelaan, sebab hidup adalah sebutir kerikil yang mencemplung di dasar segelas kopi, tenggelam, tenang dan angkuh.

(6)
‎"Wong kang soleh kumpulono" demikian sepenggal syair Tombo Ati. Tentu saja itu shoheh, tak terbantah. Itu adalah upaya menemukan penawar hati yang sedang tidak sehat akibat benturan sehari-hari. Namun, menjadikan teman dari mana pun dan siapa pun, kupikir merupakan sebentuk upaya pengendapan diri. Ikan di laut tentu dagingnya tidak akan seasin lautan yang ditempati, bukan?


(7)
Lihat saja. Orang-orang meminum bensin dengan harga 4500,- Tiap hari siapa yang sibuk berkendara di belakang sebuah bis kota. Hari ini, siapa yang tidak menipu? Siapa yang tidak mengatasnamakan? Siapa yang sinting dan ngawur? Ternyata mengucapkan sebentuk kesadaran itu mudah, tapi senyatanya susah dalam kenyataan. Waktu juga yang akan memilih apa-apa yang layak diterima dan apa-apa yang semestinya dicampakkan dari kehidupan.

(8)
Perjalanan waktu tak tertahan. Menyemai serbuk racun pada ruang. Hutan lindung yang agung, sebentar lagi akan menjadi bubuk kopi di gelasmu pagi hari. Transportasi emas sudah siap. “Gali! Gali!" bisik bupati. Kepalanya mengeluarkan asap belerang, mulutnya dipenuhi garam, sianida dan mercuri. Kalau ikan-ikan mati, dagingnya tercemar racun, anak-anak akan menderita sakit, Tumpangpitu roboh, bupati terkekeh-kekeh, pemodal tertawa lantang. Baiklah. Ini saatnya mengenakan seragam medan laga. Kalian pakai apa? Aku tetap memakai pena.

(9)
Hanya selintas. Mari melintas. Dan hati-hati, karena sungguh jembatan itu sangat licin.

(10)
Tidak ada yang salah. Dan tentu, perduli dan tidak perduli itu adalah kehendak tiap-tiap orang. Keperdulain dan ketidakperdualian pun bukan hal yang biasa, juga bukan hal yang tidak bisa. Wajar-wajar saja. Semua memiliki keperdualian dan ketidakperdulian. Begitu pun aku. "O, betapa dia ya," kata seseorang. "Apa perdulinya?" jawab orang lain. Buku tidak laku bagi seorang yang buta huruf. Apa gunanya selembar makalah pertanian bagi para petani di Curahjati, Tegaldlimo. Mereka hanya mengenal menanam. "Silahkan kopinya," kata si penerima tamu. "Terima kasih," jawab si tamu. Wajar, bukan? Jadi, tidak ada yang genting di sini. Semuanya biasa-biasa saja, seperti air yang mengalir ya mengalir saja, angin berhembus ya berhembus saja. Ha.ha.ha.ha. "Kenapa kamu ketawa," tanya Charlie Chaplin (si tokoh badut dunia). "Karena aku mencintaimu," jawab isterinya.

(11)
Sejenak Mengenai Darmo Kanal

Samiro juga menulis mengenai kesibukan Darmo Kanal sebagai Jogo Tirto dan kesibukannya bermain layangan dengan anak-anak. Darmo Kanal suka sekali berteduh di bawah pohon duren tanpa sedikit pun takut kejatuhan buahnya yang berduri. Sejumlah keterangan yang berhasil kuhimpun dari beberapa orang yang mengetahui perihal Darmo Kanal, memberikan sedikit gambaran tentang kebiasaan Darmo Kanal yang sering ketiduran di bawah pohon duren. Padahal menurutku: rawan. Siapa tahu tiba-tiba buah duren jatuh menimpa kepalanya. Tapi, menurut keterangan yang kudapat, Darmo Kanal memiliki keyakinan, bahwa kalau tertimpa duren alamat mendapat nasib mujur bagai kejatuhan bintang. “Lebih baik kejatuhan duren, itu nyata. Daripada kejatuhan bintang, itu mustahil,” ujar Darmo Kanal kepada Samiro yang pernah menanyakan perihal kebiasaannya tidur lelap di bawah pohon duren ketika siang hari.

Darmo Kanal bertutur kepada Samiro begini:

"Kita tidak perlu menggabung-gabungkan antara istilah "tulus" dan "profesional". Kedua hal itu bisa berkaitan, bisa juga tidak ada kaitannya sama sekali. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Jika kita melihat segi empat dari sudut miring, maka segi empat akan terlihat seperti segi tiga. Ketulusan itu perkara hati, perkara hati yang tahu hanya Tuhan dan orang bersangkutan. Yang terutama perlu kita nilai adalah sejauh apa seseorang berjalan dengan jujur dan "sembodo" dalam setiap sikap hidupnya sampai pada hal yang terkecil. Bagaimana seseorang menjalani hal-hal kecil dalam hidupnya, itulah yang akan menegaskan jati diri seseorang dengan niscaya. Soal ketulusan, itu urusan Tuhan, dan Tuhan merahasiakannya, sebab kalau diketahui manusia, manusia akan sombong. Kenapa hanya Tuhan yang pantas untuk dipuji sebagai Tuhan Yang Maha Tulus? Ya. Karena hanya Tuhan yang kuat atas segala pujian. Selain Tuhan, yakni manusia, itu tidak kuat terhadap pujian, ia akan menengadahkan kepala, tersenyum malu, bahkan ngakak kepingkel-pingkel karena dipuji, sikapnya bisa berubah seketika. Agar ketulusan benar-benar dinilai Tuhan tanpa dibocorkan-Nya kepada siapa pun. Ada hal-hal yang mungkin perlu kita maklumi dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita renung-dalami dalam-dalam dengan kehalusan pikir dan rasa. Agar, tentu saja, pemahaman kita tidak sekadar bersifat kulit muka saja dan belum sampai pada sejati dan nikmatnya pengertian. “

(12)
Hujan dan Kolak Pisang

Hari ini Banyuwangi hujan. Lalu hendak apa lagi. Memang sudah air jatuh dari langit. Bahwa mungkin keindahan. Masih terpenjara dalam kosa kata. Dan susunan huruf yang selalu gagal kau rangkai-rangkai kembali. Bagaikan harum tubuhnya yang terus terkenang. Dan entah di liang bimbang.

Kali ini masih hujan. Kau pun merokok sambil menghadapi kecemasan. Atau tak tau entah apa yang akan dikerjakan lagi. Sebab daun-daun memang tak pernah mengeluh. Begitu tekun menampung air dari situ.

Memang hujan. Anak-anak berlari tak memakai baju. Mengejar masa kecilnya di jalan sebelum perempatan. Kau masih merindukan. Tidur di kasur empuk. Atau memandang hujan dari balik jendela. Sambil membayangkan ibumu yang tengah memasak kolak pisang dicampur duren. Dan bapakmu yang membaca koran di ruang tengah.

Tapi, memang sudah hujan. Segala yang sudah kau gariskan di atas tanah sudah terhapus. Dan mungkin tak mudah diingat kembali. Selain bahwa kau pernah menggores di atas tanah. Pada suatu tempat. Entah di mana.

Banyuwangi, 2010

(13)
Aku Telaga, dan Kamu

akulah telaga,
maka layarkan perahumu di atasnya;
di situ hayut pula, bunga-bunga kemboja,
juga melati,
dan mawar kali yang maunya abadi.

tapi, fana juga.
seperti juga senja dan fajar,
warnanya hampir serupa.

akulah telaga,
lalu berenanglah, mandilah di tepiannya
di saat jingga senja.
mungkin kau akan kedinginan sesudahnya,
kemudian masuklah ke dalam rumah kayu,
nyalakan api, agar kau hangat,
sambil memandangi api,
sedang tubuhmu meringkuk dalam selimut.

akulah telaga,
kemudian pandangilah dari balik jendela,
sebab mungkin akan kau temukan sebentuk cerita,
yang entah tentang apa

Banyuwangi, 2010

(14)
Aku Jalan, dan Kamu

akulah jalan itu,
lewatilah dengan sendalmu,
setibanya di ujung itu,
ciumilah harumnya derita,
lepaskan sendalmu,
dan biarlah aku yang akan menjaganya

Banyuwangi, 2010

(15)
Germis dan Kopi, Ibunya

Ada seorang gadis kecil di tepi gerimis
Rambutnya basah, sandalnya kecil dan berlumpur,
Ia telah berlari seharian di bawah hujan,
Kini reda, dan ia di tepi gerimis yang sisa,
Ia tidak pernah berhenti menciumi tangis,
Ketika ia ingat, bahwa ibunya
Pernah memasakkannya bayam,
Lalu merenda di balik jendela,
Sambil menikmati kopi
Bersama bapaknya

Sandalnya yang berlumpur,
Ia lepaskan di situ,
Di ujung halaman,
Dan kini aku tengah menjaganya,
Dari banjir yang mungkin akan menghanyutkannya,
Ia masuk rumah, mandi,
Lalu ia berpakaian rapi,
Kemudian memandang jauh ke pohon jambu itu,
Begitu lama,
Entah untuk siapa,
Dan ia tidak pernah ingin ada yang menanyakannya

Banyuwangi, 2010

(16)
Suraji van Houten bercerita, bahwa orang-orang selalu bertanya-tanya tentang siapa perempuan tua yang berleher jenjang itu. Percakapan di warung tepi jalan saat pagi tidak pernah selesai mempertanyakan siapa sebenarnya perempuan tua berleher jenjang itu yang setiap pagi menyapu halaman rumahnya yang tua, lalu masuk lagi, saat malam ia menyalakan lampu minyak. Tidak ada yang banyak tahu tentang perempuan tua itu, mungkin karena desa itu sudah jarang terdapat orang tua seusia perempuan tua itu, sehinga riwayat perempuan tua itu seperti terlipat dalam rahasia waktu yang misterius.

Tentu saja Suraji van Houten tidak tahu. Dia menceritakan hal itu. Pemuda desa yang biasa-biasa saja tidak tahu. Kadang-kadang perbincangan tentang perempuan tua berleher jenjang itu terbenam dalam percakapan lain-lain, tak lagi menjadi penting. Tapi, menurut Suraji van Houten, tak ada yang menggetarkan di desanya selain nada tembang perempuan tua berleher jenjang itu di bale rumahnya sembari memetik sayuran untuk besok pagi, dan bayangan tubuhnya terpantul di gedek rumahnya oleh cahaya lampu minyak. Kata Suraji van Houten, dirinya selalu menduga-duga tentang perempuan tua itu, tapi dia segera mengatakan bahwa dugaan-dugaan itu ia yakini tidak benar. Tapi kenapa ia terus menduga-duga? Dan sore itu, Suraji van Houten menutup ceritanya sambil tersenyum, seperti senyum menang dariku yang sejak awal menyimak ceritanya dengan seksama.

(17)
Siang itu memang panas. Matahari bagaikan dengung ribuan lebah menyegat kepala. Bulan puasa.

"Kau harus pulang," kata suara entah siapa.

Sepeda motor tadi sudah minum bensin lima ribu rupiah.

"Siapa di situ?" tanya suara entah siapa.
Para pengemis bergerombol di simpang lima. Ada di antara mereka bertanya kepada yang lainnya: "Kamu sudah dapat berapa?"

"Baru tiga ribu," jawabnya.

"Pernahkah kau bertanya; kenapa orang-orang mengemis? Pernahkah kau tahu, ada kerajaan pengemis di sebuah negeri pengemis di dalam suatu negeri yang tidak pernah bermimpi untuk menciptakan pengemis?" tanya suara entah siapa.

Dan akupun berbuka.

Banyuwangi-Muncar, 2009-2010

Kamis, 04 November 2010

Rabu, 03 November 2010

Panduman


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Sehelai sungai. Panduman duduk di tepi. Tentu saja itu bukan sehelai sungai yang jernih, bercahaya, di tepinya ada bunga-bunga, kupu-kupu, dan ikan-ikan berkejaran di dalamnya bagaikan keterangan-keterangan dalam dongeng. Tapi, sehelai sungai yang di tepinya terdapat Panduman duduk melamun memandang air, adalah sungai di tepi kota yang bau, bangkai anjing mengapung, kaleng-kaleng, dan kotoran manusia, tidak ada ikan, cuma cahaya lampu-lampu dari bangunan-bangunan besar bersusah payah menggapai air sungai. Bagi Panduman, menghabiskan malam dengan duduk berlama-lama di tepi sehelai sungai yang bukan sehelai sungai seperti dalam dongeng, adalah keharusan. Entah kenapa itu harus menjadi keharusan bagi Panduman. Dan itu dilakukan Panduman pada musim-musim hujan. Panduman tidak berteduh. Ia tidak takut banjir. Ia duduk memandang sungai saat hujan turun malam, jutaan butir air tumpah ke permukaan sungai. Panduman adalah pelamun. Dia bukan penyair, bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang laki-laki bernama Panduman.

Paduman memandangi dengan tekun air sungai yang mengalir pelan membawa kotoran entah apa saja. Remang cahaya lampu-lampu menyinar ke muka air. Hujan turun. Musim hujan, hampir tiap malam hujan turun. Dan pada saat hujan lebat, sehelai sungai itu banjir. Panduman duduk di tepi sungai, tepatnya di atas gundukan tanah. Air selalu hampir meluap. Tapi,tidak menggapai Panduman.Dan Panduman kembali mengingat mimpi itu.Mimpi yang paling ganjil.Ia bermimpi membunuh seorang wanita tak dikenal berulang kali.
***

Panduman selalu diganggu mimpi-mimpi ganjil itu. Sehingga Panduman merasa takut untuk tidur pada malam hari."Setiap malam,orang akan tidur,dan mungkin dalam tidur mereka berharap bermimpi indah tentang segala hal yang barangkali gagal untuk didapatkan dalam kenyataan. Tapi,bagi saya, malam dan tidur adalah teror. Mimpi-mimpi ganjil itu mencekik leher saya. Saya tidak bisa bernafas setelah sadar dari mimpi-mimpi ganjil itu. Dan anehnya, mimpi-mimpi ganjil itu selalu menerorku di musim penghujan," kata Panduman entah kepada siapa. Itulah karenanya, Panduman tidak mau tidur malam hari. Dia tidak berani menghadapi mimpi. Lebih baik menghabiskan malam di tepi sehelai sungai yang sama sekali tidak menyenangkan, hujan, bau, kotor, suara katak, dan nyamuk. Sehelai sungai yang tidak seperti dalam dongeng.

Di kota itu, Panduman adalah pengangguran. Dia tinggal di rumah buruk warisan orangtuanya. Kedua orangtua Panduman tidak di situ. Kedua orangtua Panduman telah meninggalkan kota itu dan tinggal di kota lain bersama adik Panduman yang sukses di kota lain. Sebagai kakak, Panduman tidak bisa memberi contoh kesuksesan bagi adiknya. Rumah buruk itu ditempati Panduman, orangtuanya menyerahkan rumah buruk itu buat Panduman, orangtua Panduman telah dibuatkan rumah di sebelah rumah adik Panduman yang sudah sukses di kota lain. Orangtua Panduman berpesan kepada Panduman agar Panduman tidak menjual rumah buruk itu, agar Panduman segera mencari pekerjaan lalu menikah karena sudah berumur, agar Panduman bisa sukses seperti adik Panduman. Panduman tahu itu. Dan Panduman tidak tahu bagaimana bisa mencapai sukses seperti adiknya yang sukses sebagai pengusaha di kota lain. Panduman menolak bantuan adiknya. Dia sebagai kakak. Panduman hanya lulus SMA. Kerja tidak mudah. Uang tidak gampang. Hidup tidak semudah adik Panduman dan tidak semudah orang lain.

Panduman terkejut. Kedua matanya menangkap ada sesuatu mengapung di sungai. Sesuatu itu bukan bangkai anjing. Tidak jelas. Lampu-lampu remang tidak memperjelas pandangan Panduman. Hujan turun. Tidak lebat. Panduman basah. Sungai tidak banjir karena hujan tidak lebat. Panduman melihat ke sungai. Yang mengapung itu, sepertinya adalah tubuh manusia. "Mayat!" pekik Panduman pada dirinya sendiri. Panduman ingin pulang. Tapi, di rumah pasti dia akan tersiksa karena harus menahan diri supaya tidak tidur. Tidur berarti mimpi. Dan mimpi adalah teror. Panduman tidak mau.

Panduman meyakinkan matanya. Ia menajamkan tatapannya. Dan yang mengapung dan hanyut dengan pelan bersama sampah-sampah itu sepertinya adalah tubuh manusia. Hujan turun tidak lebat, tapi hujan turun malam seolah tak mau berhenti. Panduman merasa gentar. Ia khawatir itu tubuh manusia korban pembunuhan. Tapi, mungkinkah yang mengapung itu mayat? Panduman belum yakin dengan matanya. Paduman meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi. Panduman menoleh ke kiri ke kanan, ia khawatir ada orang lain selain dirinya. Panduman memutuskan meninggalkan sungai. Panduman bergegas. Hujan turun malam, tidak lebat dan seolah tidak mau berhenti. Panduman bergegas. Panduman mempecepat langkahnya.

"Berhenti!" sesesorang mencegahnya.

"Siapa?" Panduman tidak mengenal orang yang mencegahnya.

"Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan seorang wanita dan mayatnya Anda hanyutkan di sungai," petugas menangkap dan memborgol tangan Panduman. Hujan turun malam, tidak lebat, dan seperti tidak mau berhenti. Dan Panduman kini betul-betul yakin, dia tidak sedang bermimpi. Panduman tidak berkata-kata. Panduman dibawa petugas. Tangannya diborgol.

Banyuwangi, 2010

Selasa, 02 November 2010

SEBUAH KARANGANYAR

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


Tetese Eluh
Cipt: Yon’s DD

Sedino-dino mung nangis gawene
Sing leren-leren sampek alum matane

Yo mesesegen ilang suaranae
Kesuwen nangis sampek nono iluhe

Kepingin seru ketemu, eman
Nong kembang hang biso ngudang atine

Kadung urip nong endi sangkane
Dung wes mati nong endi paesane

Arep sun kirim kembang hang wangi gandane
Arep sun kirim gending nawi tah biso nentremaken atine

Terjemahan bebas:


Hanya hari mengurai tangis hidupnya
Tiada henti hingga layu matanya

Ya. Tersedu sedan putuslah suaranya
Terlampau jauh menangis hingga keringlah air mata

Berharap sangat untuk bertemu, sayang
Bunga yang kuasa menghibur hatinya

Jika masih hidup, di mana alamatnya
Bilapun telah tiada, di mana nisannya

Akan kukirim bunga yang wangi semerbaknya
Akan kukirimkan nyanyi, andailah bisa menentramkan hatinya

Syair di atas menggambarkan situasi pada tahun 1965 di Banyuwangi. Menurut pengakuan pencipta lagu tersebut, Yon’s DD, kepada saya, bahwa memang benar syair lagu tersebut menggambarkan kondisi sosial-psikologis akibat geger politik pada tahun 1965. Secara utuh dan orisinil, syair Yon DD tersebut sangat berhasil, pun mengusung nilai-nilai sejarah dan kemanusiaan. Secara historis, di Banyuwangi terdapat banyak orang yang dulunya sangat mengagumi dan menganut paham komunis, sehingga banyak yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia). Tentu tidaklah mengherankan, sebab PKI pada tahun 1955 memenangkan Pemilu; berada di urutan tiga besar. Tentu saja, ajaran komunis di Banyuwangi musti kita pisahkan dari peristiwa geger politik 1965 yang banyak menelan nyawa manusia dengan banyak pembantaian yang tidak beradab: manusia dipotong lehernya, lalu mayatnya digeletakkan di selokan, atau kedua kaki dan kedua tangan seseorang diikat dengan rantai, lalu keempat ujung rantai itu diikatkan pada sebuah truk, truk dijalankan pada empat arah yang berlawanan, lantas tubuh seseorang tersebut menjadi tersobek empat atau lima bagian, kepala manusia menggelinding dengan mata melotot, bibir menjulur, dan badannya entah ada di mana.

Geger politik yang ditandai dengan istilah “Pemberontakan Gerakan 30 September/PKI” (G 30 S/PKI) yang hingga tulisan ini ditulis, masih menyisakan kontroversi dan trauma sejarah yang misterius, semisterius kenapa orang-orang melakukan pembantaian sedemikain sadisnya. Perebutan tampuk kekuasaan di Indonesia dan eskalasi politik secara internasional telah mengakibatkan hal itu terjadi. Mungkin saya terlalu awam terhadap sejarah. Tapi, tentu saja agama dan budaya mana pun tidak akan pernah setuju dengan perbuatan sadis sebagai imbas pergolakan politik. Bangsa ini telah melakukan pembantaian terhadap dirinya sendiri, atau kepentingan politik dan negara telah berakibat menelan mentah-mentah daging anak kandungnya sendiri. Karena keawaman terhadap sejarah itulah, maka nampaknya saya lebih tepat bercerita.
* * *


Karanganyar adalah sebuah desa yang terletak di Kab. Banyuwangi, Kec. Rogojampi. Desa ini, lebih tepatnya dusun, memiliki penduduk mayoritas berdialek Using, beberapa pendatang juga ada di sini. Di situ kebun kelapa dan sawah yang cukup luas. Cukup untuk menghidupi daging kehidupan. Di situ anak-anak bermain dengan riang, sebagaimana di dusun-dusun lain. Organisasi politik dan Ormas berdiri. Hingga ke Karanganyar, underbouw PKI seperti Lekra, BTI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat tumbuh dengan subur dan hidup rukun bersama NU dengan segala underbouw-nya, seperti GP Ansor. Lesbumi, dll. Keguyuban ini tentu saja sebagai sebentuk wujud betapa masyarakat Banyuwangi adalah masyarakat yang humanis, kita adalah bangsa besar yang sejatinya guyub, walaupun sejarah kita telah diwarnai oleh darah, yakni realisasi konkret dari Amukti Palapa-nya Gajah Mada. Tanpa sedikitpun mengurangi kecintaan kepada sejarah bangsa sendiri, saya mencoba kritis, bahwa ekspansi dan invasi Majapahit terhadap bangsa-bangsa lain adalah sebentuk kekerasan yang tidak demokratis dan humanis.
* * *


Pada suatu malam. Udara dingin di tengah dusun Karanganyar melelapkan penduduk. Ketakutan dan keputusasaan merebah kelam ke dalam jiwa. Sebagian ada yang gemigil. Sebuah pesantren kecil yang diasuh oleh seorang kiyai (sebut saja Kiyai Ali), malam itu pun lelap. Para santri kecil berusia antara 8 sampai 10 tahun lelap dalam kamar-kamar. Umumnya para santri itu adalah yatim piatu. Rumah sang kiyai sepi. Isterinya telah tertidur dengan lelap. Isteri sang kiyai adalah seorang janda beranak satu, yang dinikahi sang kiyai. Dari isterinya itu, sang kiyai memiliki seorang anak laki-laki baru berusia 9 tahun.

Malam itu terasa dingin bagai jutaan jarum yang menyerbu kulit sampai ke tulang. Sang kiyai yang jangkung, wajahnya teduh, dan alisnya tebal itu belum tidur. Dini hari. Ia tegar di atas sajadah malamnya. Memutar tasbih dengan mata terpejam. Sunyi dan mencekam.

Dalam wiridnya, sang kiyai tak henti-hentinya melafazdkan “Ya Rahman Ya Rahim” (Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Hingga kekhusyukan sang kiyai tersentak oleh suara riuh di halaman rumahnya. Sekitar 25 orang turun dari atas truk, lalu 7 orang di antara mereka menggedor pintu rumahnya yang sederhana.

“Keluar, Ali! Keluar!” teriak mereka tak bersahabat.

Dengan tenang sang kiyai beranjak dari sajadahnya. Langkahnya tenang bagai tak menyentuh lantai. Seolah ia telah tahu apa yang akan terjadi. Raut wajahnya sedikitpun tidak berubah. Tetap teduh tak berganti warna. Sang kiyai membuka pintu. Isterinya mengikutinya dari belakang bersama anaknya yang juga terbangun oleh suara riuh. Begitu pintu dibuka, sekitar tujuh orang yang mengenakan baju hijau bermotif seperti kulit harimau, menerobos masuk ke ruang tamu sang kiyai. Dengan cekatan, mereka meringkus sang kiyai. Sang kiyai tidak melakukan perlawanan. Beliau hanya berkata tanpa penekanan suara.

“Silahkan saya dibawa. Biarkan anak isteri dan santri-santri saya tetap di sini,” katanya. Tanpa sedikitpun memberikan penekanan. Lembut. Suaranya terasa sejuk. Seperti air dari sumur yang dalam.

Namun tujuh orang yang berbaju hijau bermotif kulit macan itu tetap terbakar. Mereka melempar sang kiyai ke atas meja. Meja pecah ditimpa tubuh sang kiyai yang jangkung. Tapi, seolah tak sedikitpun sang kiyai merasakan sakit. Beliau diam saja. Tidak mengerang sakit. Tidak apa-apa. Tetap tenang dan tak sedikitpun raut wajahnya berubah. Wajah dan kedua bola matanya yang bening itu bagaikan danau yang dilempari beberapa batu besar ke dalamnya, sejenak berdebur, lalu tenang dengan segera.

Sang kiyai bangkit. Ditatapnya sebentar wajah isteri dan anaknya yang masih 9 tahun itu. Sang isteri menjerit meminta tolong sambil menangis. Sang isteri berteriak: “Maling... Maling... Maling...”

Sang kiyai hanya tersenyum kecil melihat ketakutan isterinya.

“Ayo teriak! Tidak ada satu pun yang bisa menolong!” jawab salah seorang dari tujuh lelaki kekar berbaju hijau bermotif kulit macan.

Mereka mengikat tangan sang kiya ke belakangi. Puluhan santri terbangun. Mereka berhambur ke rumah sang kiyai. Santri-santri kecil berusia 9 tahunan dan yatim piatu, menyaksikan kiyainya dilemparkan ke atas truk berisi beberapa orang tak dikenal.

“Ini orang komunis! Harus ditangkap dan ditiadakan!” ujar mereka.

Sang kiyai ditutup kepalanya dengan karung diikat ke lehernya. Dalam karung itu, matanya terpejam. Bibirnya bergetar kalimat “Ya Rahman Ya Rahim”. Suara itu pelan namun tegas. Truk berangkat menembus tikungan gelap di dusun Karanganyar. Dalam perjalanan entah ke mana, dzikir dari mulut sang kiyai tidak henti-hentinya. Mereka yang meringkus, mendengar dzikirnya. Mereka membentak.

“Diam! Bahkan Tuhan pun tidak akan bisa menyelamatkan kamu, komunis!” gertak mereka dengan kasar sambil membenturkan kepala kiyai ke dinding bak truk. Benturan yang keras. Kepalanya bocor. Tapi, sang kiyai tidak mengerang sakit. Dzikir dari mulutnya berhenti.

* * *


Pada sebuah hutan, truk berhenti. Di tengah hutan yang gelap, hanya diterangi lampu petromak dan sinar bulan sabit awal Ramadan. Di tepi sebuah jurang yang dalam, terdapat sebatang pohon jambu hutan yang tua. Dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan kepala ditutup karung, sang kiyai dilemparkan ke tanah, tubuhnya yang jangkung menghantam pohon jambu hutan yang tua. Terdengar suara patah dari tulang tangannya. Namun, tak terdengar erang dari mulutnya.

“Buka karung di kepalanya!” perintah salah seorang yang mengenakan baju hijau bermotif kulit macan. Tiga orang membuka karung di kepala sang kiyai. Dua orang lainnya memegang tangannya. Salah seorang berbaju hijau bermotif kulit macan, mengeluarkan sebilang pedang. Pedang itu mengkilat.

“Sebelum pedang ini saya tebaskan ke lehermu, katakan apa yang kau minta sebagai permintaan terakhir, anjing!”

Sang kiyai tetap tersenyum, membuat kesiur aneh pikiran orang-orang yang akan membantainya.

“Almautul Baabun,” jawab kiyai dengan nada lirih. Tersenyum.

Mereka tidak mengerti. Mereka segera menjalankan niatnya.

* * *


Pagi. Pesantren ramai. Santri-santri yatim piatu kehilangan pengasuhnya yang selalu bersahabat dan bercanda dengan mereka. Isteri dan anak sang kiyai tidak keluar dari kamarnya. Ketakutan dari kejadian tadi malam telah membekas di dalam jiwa mereka. Begitu dalam, begitu lengket, begitu mengerikan. Gemigil.

Beberapa saat kemudian. Sebuah truk datang lagi, menerobos ke dalam pesantren, menabrak pintu kayu pesantren hingga roboh. Tiga orang turun dari truk. Mesin truk tidak dimatikan. Tiga orang itu mendekati pintu rumah kiyai. Menggedor. Isteri sang kiyai sambil menggendong anaknya, membukakan daun pintu.

“Siapa?”

“Ini baju suamimu,” jawab mereka melemparkan baju putih penuh darah yang masih segar ke wajah perempuan yang menggendong anaknya. Mereka lalu melompat ke atas truk. Truk berputar. Lalu keluar dari pesantren. Truk itu berwarna hijau. Menghilang di tikungan sebelum ramai orang berangkat ke sawah dan ke pasar. Truk itu mengeluarkan asap knalpot. Hitam.

Baju putih sang kiyai, baju putih berlumuran darah segar. Sang isteri menangis meratap-ratap. Sang anak hanya terdiam memandang dan tak mengerti apa tengah terjadi. Sejak itu, setiap hari, setiap saat, malam atau siang, petang atau senja hari, perempuan itu selalu meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Tiada henti-hentinya mengenang suaminya yang hilang entah ke mana. Tak ada kabar. Tak ada apa-apa.
* * *


Waktu terus bergeser. Politik pun bergerak membuat rumah-rumah kekuasaan dan kekayaan dari tangis dan kematian. Pesantren itu dirobohkan massa yang mengamuk. Puluhan anak yatim piatu penghuni pesantren menghambur pergi, dan entah ke mana mereka melanjutkan hidup. Rumah sang kiyai telah dikuasai oleh saudara-saudaranya. Beberapa hektar kebun kelapa dan sawah telah dirampas oleh saudara-saudara sang kiyai. Anak dan isteri sang kiyai pergi dari Karanganyar. Mereka keluar. Perempuan itu berjalan tanpa tujuan, medatangi kota-kota di luar Banyuwangi sambil membesarkan anaknya. Ia menjadi pembantu rumah tangga di tiap kota yang sempat disinggahinya, atau menjajakan kain ke tiap-tiap tempat asing dan jauh. Baju suaminya yang berlumur darah itu tetap disimpan di dalam tasnya yang lapuk. Tiap kuburan yang dilewati dalam perjalanan, ia singgahi, ia duduk di tepi kuburan entah kuburan siapa, perempuan itu meyakini bahwa kuburan itu adalah kuburan suaminya. Ia tidak bisa baca tulis. Ia tidak membaca tulisan pada batu nisan. Ia mengaji di sana bersama anaknya. Ia yakin itu kuburan suaminya. Ia mengaji sambil menangis. Membaca Surat Yasin. Berdoa.

Waktu menggelinding terus. Sang anak tumbuh dewasa dengan kelainan mental. Perempuan itu dianggap masyakarat Karanganyar sebagai perempuan tua tidak waras, karena tiap kuburan ia datangi dan ia yakini sebagai kuburan suaminya tercinta, ia mengaji dan menabur bunga. Waktu terus menggelinding seperti kelereng di lantai keramik rumahmu. Dan tak ada yang mengetahui kisah ini, mungkin juga tak ada yang mau tahu. Sebuah kisah di antara ribuan kisah lain yang lebih mengerikan lagi. Secuil kisah terpendam di antara hiruk pikuk politik. Hingga ia menghembuskan nafas terakhir di Karanganyar karena tua, lelah, dan kesepian. Ia kembali ke Karanganyar, dusun yang pernah melahirkannya, dusun yang mencabik hatinya, dusun di mana cintanya bersemi kala remaja, dusun yang pernah ditanami jutaan harapannya bersama sang suami, Kiyai Ali, beserta puluhan santri yatim piatu yang pernah dirawat dan disekolahkan. Ia sudah tiada dalam keadaan tua, kurus, tak terawat, dan sunyi sekali. Rambutnya rontok, kulit rambutnya terlihat. Warnanya putih.

* * *


Tentu saja, saya tidak mengerti sejarah. Saya hanya bisa bercerita. Cerita ini saya dapatkan dari perempuan itu secara langsung. Ia bercerita sambil menangis dan tak pernah berhenti mengeluhkan tulang kakinya yang selalu linu. Ada sebuah kalimat yang tetap saya ingat hingga kini: “Tidurlah! Waktu sudah malam. Besok kamu harus hidup sebagaimana biasa. Alah.. alah... alah...”

Banyuwangi, 2009

Catatan:

Almautul Baabun= kata Bahasa Arab yang berarti: “mati hanyalah pintu.”