Cerita: Taufiq Wr. Hidayat
Dari balik jendela, embun menggantung di tepi dedaunan. Kupikir hari ini tidak ada yang benar-benar hadir dari dalam mulut-mulut berita, tentang kota tua yang tak tertata dengan rapi. Pohon mangga belum berbuah. Kain-kain dikibarkan. Barangkali pagi tak lagi menawarkan sebentuk penegasan tentang perjalanan burung. Di situ orang-orang menanam pohon pisang. Kota ini menjadi kota pisang, buah yang bentuknya lonjong memanjang mengandung vitamin C dan kalsium. Di sebelah barat desa Singotrunan, sejumlah orang menghalau bebek, memelihara sapi dan kambing. Sawah-sawah masih digarap dengan semangat hidup yang berkilau. Seyogianya kita masih bisa tersenyum manakala tanah ini masih memberikan kehidupan. Tapi, orang-orang tetap sibuk dengan banyak persoalan yang mendesak pada dinding kekuasaan. Buah semangka di kebun belakang belum juga bisa dipetik, hanya berbuah kecil yang entah apakah akan selamat hingga memberikan daging berwarna merah kepadamu dengan gerombolan bijinya yang hitam. Tapi, di pasar ada yang menawarkan buah semangka tanpa biji, katamu, itu semangka super.
Sebelum malam, sebelum segalanya menjadi sedemikian samar. Langit rindu memanjangkan kenang pada tepi alismu. Dia adalah Suhita, seorang laki-laki yang namanya mirip perempuan dan mirip sebuah nama yang terdapat dalam sebuah legenda. Suhita seringkali merenda di depan teras rumahnya, menunggu hujan dan orang datang. Sesekali Suhita mendesah, bahwa katanya kefakiran itu mendekatkan diri pada kekafiran. Ada yang lebih berbahaya dari sekadar kefakiran harta, desahnya, yakni kafakiran hati dan jiwa. Tentu saja, kita tidak hendak menafsir desahan Suhita yang mencangkung di teras rumahnya, di mana embun belum juga membawakan sebatang kretek untuknya.
Orang-orang sibuk menata pikiran-pikiran kelam berupa balok-balok persegi empat. Pasar menawarkan ruang segi tiga. Toko-toko baru mengecambah, orang-orang membeli produk asing dengan harga murah, katanya, dengan kualitas yang sama saja. Sejatinya kita hanya membeli label, ujarmu. Tapi, asap belerang mengepul dari tubuh-tubuh manusia. Suhita meratapi nasibnya. Nasib yang sesekali menjelma mata angin membuka daun cakrawala di langit jiwanya. Fitnah dan rasa tersinggung didaur ulang dari mimpi yang kemarin hari.
* * *
Suhita dilahirkan di Banyuwangi, dia termasuk keturunan raja, sehingga di depan namanya bergelar raden, namun dia tidak hidup di lingkungan istana. Seorang anak lelaki yang berkulit bersih. Suhita menempuh sekolah di SMA Giri. Hari-hari menggelinding seperti sebutir kelereng di lantai rumahmu, menegaskan sebentuk dunia yang bergulir dan berkilau. Sejak kecil, Suhita selalu rajin memelihara bunga. Bunga-bunga di halaman rumahnya beraneka warna, seperti pelangi. Dia pernah masuk sekolah tinggi swasta jurusan akademi koperasi, sebuah sekolah yang kemudian gulung tikar. Sehingga ketika Suhita membutuhkan ijasah untuk pencalonan dirinya sebagai wakil rakyat, ia harus meminta tanda tangan kopertis di Surabaya. Merepotkan memang, tapi itu harus ditempuh, tak lain adalah sebuah perjuangan. Namun sayangnya, Suhita yang lugu dan jujur itu, tidak terpilih sebagai anggota wakil rakyat tahun 2009. Sangat disayangkan, padahal aku banyak menaruh harapan pada sosok Suhita, nyaris tidak kutemukan lagi sosok manusia yang jujur sejujur Suhita.
Suhita bukan malaikat. Dia adalah manusia biasa yang selalu merasakan lapar di pagi hari dan harus berpikir keras agar kedua anaknya tidak ikut lapar. Suhita memiliki semangat hidup yang luar biasa, meski ia tergolong pengangguran yang selalu aktual. Segala impiannya tentang pohon nangka dan buah duren, terpaksa harus ia kuburkan dalam-dalam di bawah dipan setelah ia menerima kenyataan bahwa suara pendukungnya tidak memenuhi satu kursi wakil rakyat pada Pemilu Legislatif tahun 2009. Apa boleh buat? Hidup itu tidak ada yang normal atau tidak normal, hidup itu tidak ada yang sukses atau tidak sukses sebagaimana banyak kata orang. Yang ada hanyalah hidup saja, maka jalanilah itu, desah Suhita di dalam hati, di antara cahaya senja yang pelan-pelan tenggelam ke dalam kedua butir matanya yang hampir setengah abad. Isterinya sudah dua tahun lebih pergi meninggalkan Suhita, meninggalkan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suhita tidak pernah menangisi kepergian isterinya. Bagi Suhita, kedua anaknya adalah permata sorga di dalam hatinya. Sedangkan cinta adalah biji jagung yang ditanam, tumbuh, berbuah, dipetik buahnya untuk digoreng atau dibakar, pohon jagung dipotong untuk makan sapi atau disampahkan, gumam Suhita.
* * *
Diam-diam bulan Agustus menguntumkan bunga di depan rumahnya. Seperti biasa, Suhita bangun pagi, menyeduh kopi, dan merokok, lalu berpikir bahwa hari ini ke mana ia akan mencari sebentuk penguripan buat sehari, tentu sekadar pengganjal perut dan kedua orang anaknya. Tidak ada yang benar-benar benar, tidak ada yang salah betul dalam hidup ini, desahnya. Yang ada adalah benar-benar hidup, itu kenyataan, bisik Suhita sembari menyedot kretek di bibirnya.
Secara filosofis, waktu itu abadi, kitalah yang mati, kata Suhita berfilsafat entah untuk siapa dan ditujukan untuk apa. Dunia rasanya seperti sebutir pasir yang mencemplung ke dalam segelas kopi di mejanya, jatuh ke dasar gelas dengan pelan, tenang, dan anteng. Sekali waktu ambeiennya kambuh, badannya lemas, dan cucian menggunung di kamar mandi yang dihuni ikan. Suhita masih di situ. Bertinggal di sebuah rumah besar tua yang sendiri. Kedua anaknya di situ, sering bermain, lalu tidur ketika sudah capek sekali. Anak-anak memang memiliki semangat hidup yang menggairah, menyala, dan kuat. Kau akan kewalahan mengikuti kemauan dan tingkah anak-anak, mereka tidak mengenal lelah, sebab pikirannya bersih, jiwanya bebas dan hatinya bercahaya. Beruntunglah bahwa usia belum mengalahkanmu, ia masih bersahabat dalam tiap denyutmu, menyediakan warna langit, segayung embun, dan bunga-bunga kates.
Suhita masih menegaskan keterpencilan di tengah gelombang. Daun-daun melambai mengikuti lambaian kain. Sampah di depan rumahmu dibakar oleh Bagas, seorang sarjana perikanan yang kere tapi kaya dengan wawasan, setiap hari datang ke rumahmu untuk melihat televisi, menyeduh kopi, dan membelikan rokok beradasarkan perintah Suhita. Bagas pernah kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, jurusan perikanan, skripsinya tentang pemindangan ikan dengan membuang terlebih dahulu perut ikan sebelum dipindang, ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur baik, memiliki aroma enak, memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujar Bagas kepada Suhita. Wawasannya sangat luas dan mendalam. Bagas tidak bekerja, pengangguran. Orang-orang menganggap Bagas adalah orang stres atau sinting. Tapi, bagi Suhita, Bagas tidak gila. Bagas selalu berhasil dengan cerdas mengomentari film-film yang dilihatnya dengan wawasan perfilman yang menakjubkan. Seperti pagi itu, Suhita masih berdiam di kursinya, menghadap ke timur, memandang kaca rumahnya, lalu kedua matanya bersemayam pada sebuah pohon mangga yang buahnya sudah dipetik bulan kemarin, semula pohon mangga di depan rumahnya itu ada dua batang, tapi yang sebatang ditebang sebab dijadikan sebuah kolam ikan (kolam ikan itu bentuknya mirip bak mandi). Musim memang tak selalu membacakan puisi perpisahan, tapi aroma kata-kata mengembun dari balik perjalanan kelereng waktu yang menggelinding di situ. Kupikir kau tidak perlu menyiapkan mie instan goreng, telor ayam, ikan asin, dan sambal.
* * *
Wangi kopi dari gelasmu masuk ke dalam hidungku. Di kursi itu, Suhita sering duduk, membaca koran dan mendiskusikan banyak hal dengan teman-temannya yang datang berkunjung bahkan kadang bermalam di rumahnya. Teman yang sering datang ke rumah Suhita adalah Sibudar, dia seorang pelukis. Dulu rambutnya panjang. Terakhir kali aku melihatnya, rambutnya sudah pendek. Aku tidak tahu alasan apa yang menyebabkan Sibudar memotong rambut panjang kebanggaannya itu. Dulu, kata Suhita, Sibudar adalah seorang pelukis dan pengantar turis di Bali. Bahasa Inggris Sibudar sangat bagus walaupun dia tidak pernah lulus kuliah, gelarnya adalah DO alias drop out. Suhita dan Sibudar sering menggoreng mie instan dengan irisan sayur, potongan tomat, dan kacang panjang yang digunting kecil-kecil.
Pagi ini Suhita sibuk. Tangannya bersilangan di atas meja, menyeduh kopi, mengaduknya hingga benar-benar kental dan pekat. Suhita cukup bingung memikirkan seragam sekolah anaknya yang kurang seratus ribu, belum buku-buku sekolah satu paket seharga delapan puluh ribu, buku tulis, dan dasi sekolah yang kurang panjang. Lalu pagi itu riuh, Suhita menyuruh anaknya sekolah, bel masuk sekolah kurang tiga puluh menit, anaknya belum mandi. Suhita benar-benar memperhatikan sekolah anaknya. Syukurlah, anaknya sudah masuk sekolah. Pagi itu Ramindo, sahabat Suhita yang sehari-harinya sebagai tukang ojeg, datang bertamu ke rumahnya. Ramindo bercerita tentang negeri jiran Malaysia. Menurut Ramindo, Malaysia adalah negara yang cukup percaya diri menunjukkan kepada dunia bahwa Malaysia adalah miniatur Asia. Ramindo juga merasa geram kepada Malaysia yang akhir-akhir ini bersitegang mengenai batas wilayah, soal karya-karya seni milik Indonesia yang diklaim milik Malaysia, pelecehan terhadap Indonesia, dan masalah-masalah TKI. Tapi, Ramindo juga mengakui kemolekan Malaysia yang para pemimpinnya berhasil mempromosikan diri sebagai negara miniatur Asia, tidak seperti pemimpin-pemimpin Indonesia dewasa ini. Suhita nampak mendengarkan cerita Ramindo dengan serius.
“Kapan kita ke sana?” tanya Suhita.
“Kapan?” balik Ramindo.
“Kapan?”
“Kapan?”
Perbincangan berhenti di situ. Keduanya kini tenggelam dalam samudera huruf-huruf koran di tangan mereka berdua.
* * *
Waktu membentuk putaran jarum pada lingkaran, melewati angka demi angka. Angin bulan Agustus menyampaikan lagi hidup sebagaimana biasanya, mengetuk daun pintu rumah Suhita, melewati meja lalu duduk di kursi yang biasa diduduki Suhita tiap waktu. Kupikir Suhita tidak perlu lagi berpayah-payah menyeduh kopi sendiri dengan air panas dari atas kompor gas. Bagas dan Sibudar sudah memilih untuk tinggal di rumah Suhita. Mereka berdua yang rajin menyeduh kopi bila melihat bahwa gelas kopi di atas meja sudah kosong dan tinggal ampasnya. Kecuali jika kehabisan bubuk kopi, Suhita akan menghubungi teman-temannya melalui telepon genggamnya supaya datang ke rumahnya dan diminta tolong untuk bersedia apatah kiranya sekadar membelikan bubuk kopi dan setengah kilo gula.
* * *
Matahari mulai bergeser pelan-pelan di langit barat. Rumah begitu lengang. Pintu rumah terbuka, angin masuk dengan leluasa, angin senja yang pelan.
Banyuwangi, 2010
Kamis, 11 November 2010
Rabu, 10 November 2010
19 Nopember ---22 April
---istriku
di tepi malam, masih langit yang terus meluas.
Segala yang putih bagai komposisi benda-benda di kamar kita yang sederhana.
Kalau sejenak kau hikmati; suara desah daun anggur, gerimis, dan cahaya lampu bulan Nopember. Rindu kita diam-diam mengusik angin di daun-daun mangga itu.
Hujan masih kembara. Kusematkan sebutir gerimis di lengkung kulitmu yang putih. Apa yang bisa kukatakan, sebab cinta memang tak mewakilkan dirinya pada ungkapan.
Kesejatian ini bagai rona merah senyum anak kita. Putih seperti daging duren. Dan berdoa senantiasa.
Banyuwangi, Nopember 2009-2010
(mengawali kado ulang tahun dan kado perkawinan yang selalu kita rayakan dengan hidangan rambutan yang ranum)
Ofiq
di tepi malam, masih langit yang terus meluas.
Segala yang putih bagai komposisi benda-benda di kamar kita yang sederhana.
Kalau sejenak kau hikmati; suara desah daun anggur, gerimis, dan cahaya lampu bulan Nopember. Rindu kita diam-diam mengusik angin di daun-daun mangga itu.
Hujan masih kembara. Kusematkan sebutir gerimis di lengkung kulitmu yang putih. Apa yang bisa kukatakan, sebab cinta memang tak mewakilkan dirinya pada ungkapan.
Kesejatian ini bagai rona merah senyum anak kita. Putih seperti daging duren. Dan berdoa senantiasa.
Banyuwangi, Nopember 2009-2010
(mengawali kado ulang tahun dan kado perkawinan yang selalu kita rayakan dengan hidangan rambutan yang ranum)
Ofiq
Seberkas Cemas
Ia lari ke dalam parfum,
berburu dalam tiap tikungan pasar,
menemukan bayam, wortel dan daging ayam.
Lalu meratapi nama,
dan surat-surat yang tak ber alamat
2009
Taufiq Wr. Hidayat
berburu dalam tiap tikungan pasar,
menemukan bayam, wortel dan daging ayam.
Lalu meratapi nama,
dan surat-surat yang tak ber alamat
2009
Taufiq Wr. Hidayat
Selasa, 09 November 2010
Perut: Kenyang and Lapar
Oleh: Taufiq Wr. Hidayat
PERUT adalah tempat makanan. Secara biologis, perut adalah tempat penyimpanan makanan dan pencernaan untuk diserap tubuh, juga tempat di mana sisa makanan itu disimpan untuk kemudian dikeluarkan. Teman saya seorang sarjana perikanan, Agus, menjelaskan kepada saya, bahwa dia pernah membuat skripsi tentang pemindangan ikan. Dalam skripsinya tersebut, dia mengupas bahwa ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur dengan baik, memiliki aroma enak, serta memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujarnya.
Aku pikir soal perut adalah soal makan. Soal seseorang itu memasukkan makanan ke dalam perutnya. Banyak persoalan penyakit disebabkan oleh perut, atau lebih tepatnya disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi seseorang. Ini artinya, menu makanan seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya. Kesehatan fisik, tentu saja terkait dengan kesehatan mental dan kejiwaan seseorang. Orang gila atau gelandangan yang keluyuran di jalanan tak pernah memikirkan bersih atau tidaknya makanan yang dimakannya, mereka mengambil sisa makanan di tempat sampah lalu memakannya. Namun, kita lihat kondisi fisik mereka seolah tidak mengalami masalah.
Ada sebentuk anggapan aneh. Kenapa bupati, orang kaya yang kikir, pejabat yang korup itu perutnya selalu terlihat gendut? Seringkali penyakit yang mereka derita itu macam-macam. Ini karena perut mereka sering dijejali oleh makanan banyak, kurang mempertimbangkan unsur lemak atau kolesterol dalam makanan yang dikonsumsinya. Dibandingkan gelandangan yang makannya tidak higenis, diambil dari tempat sampah yang kotor, kesehatan para pejabat itu kalah dengan gelandangan yang kelihatan penyakitan. Terbukti mereka tetap sehat dalam usia yang terhitung cukup tua di jalanan. Ini karena, menurut Kang Fatah, karena walaupun yang dimakan gelandangan itu kotor, namun terhitung halal. Nah, pejabat itu banyak makan yang unsur halalnya sangat minim di dalam makanannya. Sehingga menyebabkan perut mereka gendut, penyakitan, gemuk tidak enak dipandang. Gak ideal. Coba kita lihat perut para anggota dewan kita, perut bupati, kepala dinas, dll. Kalaupun ada yang kurus kering, itu mungkin karena model tubuh mereka memang kurus, tapi perutnya lentur. Ada lho orang kurus yang makannya banyak sampai berpiring-piring. Yang gendut, lha itu makannya kadang sedikit tapi unsur lemaknya (terutama lemak yang “tidak halal”) banyak. Jadi, sebenarnya kurus atau gendut, kalau itu perut pejabat tentu saja kita curiga itu bersih dan higenis.
Itu subyektif. Gak logis!
Nah, ketika perut terlalu banyak diisi makanan enak, maka dampaknya adalah ngantuk. Ini ilmiah. Ada banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh kita menyebabkan kita mengantuk. Mengantuk tentu membutuhkan tidur. Tidur adalah aktivitas yang sangat penting bagi manusia. Cuma tidak boleh terlalu banyak tidur. Terlalu banyak makan, menyebabkan sering mengantuk dan sering tidur. Sering tidur menyebabkan malas. Itu rentetannya. Makanya gak heran kalau banyak pejabat kita malas. Mungkin yang begitu itu. Ketika perut terlalu kenyang atau sering kenyang, maka badan lemas, namun kehendak hasrat tinggi. Maksudnya, kalau perut kenyang dengan makanan yang bergizi tinggi, yang di bawah perut akan bergerak-gerak bergairah. Karena yang di bawah perut bergairah, maka ia butuh pemuasan tidak cukup dengan satu lobang saja, perlu berlobang-lobang untuk memenuhi seksualitasnya. Kata Mbah Freud, libido orang yang suka makan itu lebih tinggi dari nafsu senggama binatang.
Subyektif lagi! Ngawur!
Ketika perut seringkali kenyang, seringkali ngantuk dan seringkali tidur. Bangun tidur, yang di bawah perutnya minta giliran. Sehingga prosentase hidupnya banyak terfokus pada makan, tidur, seks, buang air. “Mangan, turu, melek, kawin, nelek, nemplek,” kata sebuah kitab kuno berbahasa Jawa yang dituturkan Darmono. Maksudnya jangan jadi orang yang kayak gitu, yakni yang hanya banyak “makan, tidur, bangun, seks, buang air, dan merengek.” Yang demikian itu adalah kuantitas manusia yang sempurna sebagai penjelmaan binatang, dia tidak mampu menggerakkan kualitasnya; potensi keberadabannya, akal, dan kebudayaan yang bermanfaat bagi sesama. Hidup hanya untuk hidup, bukan lagi hidup untuk menerima, menjalankan, dan mengolah kehidupan.
Subyektif! Gak ilmiah!
Persoalan perut adalah persoalan manusia. Persoalan sejarah. Demi kepuasan perutnya (yang kemudian turun sedikit ke bawah perut) manusia melakukan hal-hal di luar kewajaran akal dan pikiran. Sejumlah ingatan tentang itu kita bongkar lagi di sini, tumpukan kertas dokumen terpaksa harus kita bongkar lagi dari dalam laci kesejarahan. Akan kita temukan sebentuk kengerian menjalar hingga ke ubun-ubun kepala. Tidak semua alasan kebrutalan dan kelicikan itu disebabkan perut. Tapi, ada harga diri, martabat, kejayaan, kekuasaan, dan sekeranjang alasan-alasan lain. Namun, setelah perut ini kenyang, bukankah kemudian kebinalan akan terangsang? Perut yang kosong sekosong-kosongnya, akan menyebabkan seseorang lemas untuk berbuat sesuatu. Meskipun perut lapar juga bukan alasan seseorang untuk tidak bisa berbuat apa-apa. Karl Marx juga kelaparan sampai ia minggalkan dunia. Tapi, soal lapar di sini, tentu bukan soal lapar karena tidak makan. Lapar lebih saya artikan sebentuk susahnya nyari makan, kefakiran hidup yang sesungguhnya. Untuk makan saja susah, tidur susah, apalagi berdialektika. Kebodohan dan kedunguan merajalela, lalu kita terpaksa harus menjual harga diri, bersedia untuk dihina, bersedia untuk dipermalukan, bersedia membudakkan diri demi perut yang harus diisi kemudian demi kebutuhan hidup yang lainnya setelah perut kita kenyang, demikian ciri khas Indonesia mutakhir. Bukan alasan yang tepat memang jika kita katakan bahwa segala bentuk kriminalitas seperti pencurian, perampokan, dan lain-lain kejahatan itu karena disebabkan perut lapar. Pun tentu bukan sebentuk alasan yang benar jika perut kenyang lantas menyebabkan seseorang menjadi baik, tidak kriminal, tidak menyimpang, pendeknya tidak jahat. Soal kenyang dan lapar ternyata berpengaruh kuat terhadap mentalitas seseorang. Orang yang makan melebihi porsinya dan dengan nafsu makan yang enak-enak, cenderung rakus. Mungkin juga akan rakus dalam banyak hal. Kelaminnya akan berfungsi dengan panas, variasi kelainan pemuasan yang tidak masuk akal mungkin akan terjadi. Menahan lapar bukan berarti berkehendak untuk menjadi baik, begitu sebaliknya, memperkenyang perut bukan untuk menjadi jahat. Soalnya terletak pada sejauh mana kehendak kenyang dan kehendak menahan lapar itu memulai dirinya, demi kepentingan apa. Jika kepentingannya hanya untuk hidup, maka kenyang tentu diperlukan secara wajar. Namun bila hidup ini hanya sekadar untuk makan, sudah sedemikian parahnya kehidupan kita, bukan?.
Banyuwangi, 2010
PERUT adalah tempat makanan. Secara biologis, perut adalah tempat penyimpanan makanan dan pencernaan untuk diserap tubuh, juga tempat di mana sisa makanan itu disimpan untuk kemudian dikeluarkan. Teman saya seorang sarjana perikanan, Agus, menjelaskan kepada saya, bahwa dia pernah membuat skripsi tentang pemindangan ikan. Dalam skripsinya tersebut, dia mengupas bahwa ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur dengan baik, memiliki aroma enak, serta memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujarnya.
Aku pikir soal perut adalah soal makan. Soal seseorang itu memasukkan makanan ke dalam perutnya. Banyak persoalan penyakit disebabkan oleh perut, atau lebih tepatnya disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi seseorang. Ini artinya, menu makanan seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya. Kesehatan fisik, tentu saja terkait dengan kesehatan mental dan kejiwaan seseorang. Orang gila atau gelandangan yang keluyuran di jalanan tak pernah memikirkan bersih atau tidaknya makanan yang dimakannya, mereka mengambil sisa makanan di tempat sampah lalu memakannya. Namun, kita lihat kondisi fisik mereka seolah tidak mengalami masalah.
Ada sebentuk anggapan aneh. Kenapa bupati, orang kaya yang kikir, pejabat yang korup itu perutnya selalu terlihat gendut? Seringkali penyakit yang mereka derita itu macam-macam. Ini karena perut mereka sering dijejali oleh makanan banyak, kurang mempertimbangkan unsur lemak atau kolesterol dalam makanan yang dikonsumsinya. Dibandingkan gelandangan yang makannya tidak higenis, diambil dari tempat sampah yang kotor, kesehatan para pejabat itu kalah dengan gelandangan yang kelihatan penyakitan. Terbukti mereka tetap sehat dalam usia yang terhitung cukup tua di jalanan. Ini karena, menurut Kang Fatah, karena walaupun yang dimakan gelandangan itu kotor, namun terhitung halal. Nah, pejabat itu banyak makan yang unsur halalnya sangat minim di dalam makanannya. Sehingga menyebabkan perut mereka gendut, penyakitan, gemuk tidak enak dipandang. Gak ideal. Coba kita lihat perut para anggota dewan kita, perut bupati, kepala dinas, dll. Kalaupun ada yang kurus kering, itu mungkin karena model tubuh mereka memang kurus, tapi perutnya lentur. Ada lho orang kurus yang makannya banyak sampai berpiring-piring. Yang gendut, lha itu makannya kadang sedikit tapi unsur lemaknya (terutama lemak yang “tidak halal”) banyak. Jadi, sebenarnya kurus atau gendut, kalau itu perut pejabat tentu saja kita curiga itu bersih dan higenis.
Itu subyektif. Gak logis!
Nah, ketika perut terlalu banyak diisi makanan enak, maka dampaknya adalah ngantuk. Ini ilmiah. Ada banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh kita menyebabkan kita mengantuk. Mengantuk tentu membutuhkan tidur. Tidur adalah aktivitas yang sangat penting bagi manusia. Cuma tidak boleh terlalu banyak tidur. Terlalu banyak makan, menyebabkan sering mengantuk dan sering tidur. Sering tidur menyebabkan malas. Itu rentetannya. Makanya gak heran kalau banyak pejabat kita malas. Mungkin yang begitu itu. Ketika perut terlalu kenyang atau sering kenyang, maka badan lemas, namun kehendak hasrat tinggi. Maksudnya, kalau perut kenyang dengan makanan yang bergizi tinggi, yang di bawah perut akan bergerak-gerak bergairah. Karena yang di bawah perut bergairah, maka ia butuh pemuasan tidak cukup dengan satu lobang saja, perlu berlobang-lobang untuk memenuhi seksualitasnya. Kata Mbah Freud, libido orang yang suka makan itu lebih tinggi dari nafsu senggama binatang.
Subyektif lagi! Ngawur!
Ketika perut seringkali kenyang, seringkali ngantuk dan seringkali tidur. Bangun tidur, yang di bawah perutnya minta giliran. Sehingga prosentase hidupnya banyak terfokus pada makan, tidur, seks, buang air. “Mangan, turu, melek, kawin, nelek, nemplek,” kata sebuah kitab kuno berbahasa Jawa yang dituturkan Darmono. Maksudnya jangan jadi orang yang kayak gitu, yakni yang hanya banyak “makan, tidur, bangun, seks, buang air, dan merengek.” Yang demikian itu adalah kuantitas manusia yang sempurna sebagai penjelmaan binatang, dia tidak mampu menggerakkan kualitasnya; potensi keberadabannya, akal, dan kebudayaan yang bermanfaat bagi sesama. Hidup hanya untuk hidup, bukan lagi hidup untuk menerima, menjalankan, dan mengolah kehidupan.
Subyektif! Gak ilmiah!
Persoalan perut adalah persoalan manusia. Persoalan sejarah. Demi kepuasan perutnya (yang kemudian turun sedikit ke bawah perut) manusia melakukan hal-hal di luar kewajaran akal dan pikiran. Sejumlah ingatan tentang itu kita bongkar lagi di sini, tumpukan kertas dokumen terpaksa harus kita bongkar lagi dari dalam laci kesejarahan. Akan kita temukan sebentuk kengerian menjalar hingga ke ubun-ubun kepala. Tidak semua alasan kebrutalan dan kelicikan itu disebabkan perut. Tapi, ada harga diri, martabat, kejayaan, kekuasaan, dan sekeranjang alasan-alasan lain. Namun, setelah perut ini kenyang, bukankah kemudian kebinalan akan terangsang? Perut yang kosong sekosong-kosongnya, akan menyebabkan seseorang lemas untuk berbuat sesuatu. Meskipun perut lapar juga bukan alasan seseorang untuk tidak bisa berbuat apa-apa. Karl Marx juga kelaparan sampai ia minggalkan dunia. Tapi, soal lapar di sini, tentu bukan soal lapar karena tidak makan. Lapar lebih saya artikan sebentuk susahnya nyari makan, kefakiran hidup yang sesungguhnya. Untuk makan saja susah, tidur susah, apalagi berdialektika. Kebodohan dan kedunguan merajalela, lalu kita terpaksa harus menjual harga diri, bersedia untuk dihina, bersedia untuk dipermalukan, bersedia membudakkan diri demi perut yang harus diisi kemudian demi kebutuhan hidup yang lainnya setelah perut kita kenyang, demikian ciri khas Indonesia mutakhir. Bukan alasan yang tepat memang jika kita katakan bahwa segala bentuk kriminalitas seperti pencurian, perampokan, dan lain-lain kejahatan itu karena disebabkan perut lapar. Pun tentu bukan sebentuk alasan yang benar jika perut kenyang lantas menyebabkan seseorang menjadi baik, tidak kriminal, tidak menyimpang, pendeknya tidak jahat. Soal kenyang dan lapar ternyata berpengaruh kuat terhadap mentalitas seseorang. Orang yang makan melebihi porsinya dan dengan nafsu makan yang enak-enak, cenderung rakus. Mungkin juga akan rakus dalam banyak hal. Kelaminnya akan berfungsi dengan panas, variasi kelainan pemuasan yang tidak masuk akal mungkin akan terjadi. Menahan lapar bukan berarti berkehendak untuk menjadi baik, begitu sebaliknya, memperkenyang perut bukan untuk menjadi jahat. Soalnya terletak pada sejauh mana kehendak kenyang dan kehendak menahan lapar itu memulai dirinya, demi kepentingan apa. Jika kepentingannya hanya untuk hidup, maka kenyang tentu diperlukan secara wajar. Namun bila hidup ini hanya sekadar untuk makan, sudah sedemikian parahnya kehidupan kita, bukan?.
Banyuwangi, 2010
Sabtu, 06 November 2010
Bencana dan Kemujuran
Allah Maha Memaklumi dan Allah Maha Berpikir dan Maha Berakal. Pikiran (rasionalitas) dan akal dikaruniakan Allah pada manusia dan Allah menyuruh manusia berpikir dan menggunakan akalnya agar manusia tidak semberono mengolah hidup, Allah pun menyuruh manusia pasrah agar tidak lalai dan sombong dengan akal pikirannya. Ketidakpasrahan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah, karena tidak pasrah maka ia lalai pada kenyataan kehidupan yang tengah berjalan yang dilingkupi kompleksitas dan keberadaan makhluk-makhluk lain dan pengetahuan obyektif. Dari mana dimulai revolusi "nurani"? Siapa dan bagaimana? Analogi tersia dalam kontekstualisasi. Manusia dan segala perangkatnya sudah menjadi "jenak" (praktis/instan) dan tidak berproses.kita hanya perlu keseimbangan (harmoni), sambil menikmati irama-irama kehancuran dan harapan-harapan kebangkitan. Manusia tidak bisa menjangkau bulan tanpa alat-alat dari hasil-hasil kebudayaan (akal pikir dan rasa), tapi manusia tidak bisa tiba di bulan tanpa pasrah (rasa sejati yang melupakan kecemasan-kecemasan dari kelalaian yang mungkin terjadi), ia punya alasan untuk pesimis sebagaimana ia punya alasan untuk optimis.
Karena tidak ada satu pun hal sekecil apa pun yang itu bukan nikmat. Hanya persepsi kitalah yang memilah-milah mana nikmat dan mana bencana atau azab. Bahwa sesungguhnya azab itu bukanlah letusan gunung, tsunami, atau banjir, kemiskinan, dan lain-lain. Tapi, azab yang sebenarnya adalah kebuntuan pikiran dan mengerasnya hati terhadap anugerah hidup yang telah Tuhan karuniakan dengan cuma-cuma. Letusan gunung, banjir, kemiskinan, dan lain-lain hanya akibat dari kerasnya hati dan buntunya pikiran yang melepas fungsinya sebagai "Ganjal Meja" (Penjaga keseimbangan alam dan nilai-nilai). Allah Maha Sabar, Maha Tidak Pemarah, Maha Ramah, Maha Kaya Maha Pemberi Nikmat, Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Pengampun Maha Latif.
Taufiq Wr. Hidayat
Purwoharjo, 2010
Karena tidak ada satu pun hal sekecil apa pun yang itu bukan nikmat. Hanya persepsi kitalah yang memilah-milah mana nikmat dan mana bencana atau azab. Bahwa sesungguhnya azab itu bukanlah letusan gunung, tsunami, atau banjir, kemiskinan, dan lain-lain. Tapi, azab yang sebenarnya adalah kebuntuan pikiran dan mengerasnya hati terhadap anugerah hidup yang telah Tuhan karuniakan dengan cuma-cuma. Letusan gunung, banjir, kemiskinan, dan lain-lain hanya akibat dari kerasnya hati dan buntunya pikiran yang melepas fungsinya sebagai "Ganjal Meja" (Penjaga keseimbangan alam dan nilai-nilai). Allah Maha Sabar, Maha Tidak Pemarah, Maha Ramah, Maha Kaya Maha Pemberi Nikmat, Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Pengampun Maha Latif.
Taufiq Wr. Hidayat
Purwoharjo, 2010
Jumat, 05 November 2010
Pecahan-pecahan Catatan
Taufiq Wr. Hidayat
(1)
Bunyi yang ramai, ayam jantan, kleneng jam, gelas yang diletakkan secara agak keras. Harum kopi dan asap rokok. Ada sebentuk kecemasan hari yang menggelung di saku baju tiap baju yang ada sakunya. Bom meledak lagi. Lalu kalian memainkan bola di atas hampa.
(2)
Dan Sang Bima Suci (Brontoseno) menyelam ke dasar samudera. Ia masuk ke dalam tubuh kecil Sang Dewa Ruci. Pulang ia membawa tirta kesucian yang sejati. Maka Surendrajati-lah ia dengan segala keluhuran Mohammad-ku (Muncar, 27 Janurai 2008)
(3)
Aku lari ke atas bukit rindu yang setiap pagi selalu kau sirami dengan tanganmu. Hingga di situ aku telah meleleh bersama embun, dan udara membawakan sehelai namamu ke dalam ketiadaanku.
(4)
Malam. Begitu rebah. Setelah segala awal adalah kenisbian. Kita mendengkur pada malam. Kemudian bangun dini hari, membangun sebentuk sungai di muka jendela. Masih saja, canda cabul dan kata yang tak termaknai. Masih saja kita membudakkan diri, mengurai kenyataan menjadi lobang sampah. Malam. Begitu rebah. Pelan. Sunyi lecet dalam kelam.
Banyuwangi, 29 Agustus 2009
(5)
Perjalanan kita, bagian dari kehidupan itu, bukan lagi yang itu, tapi telah menjadi keharusan penerimaan kehidupan. Mari bertamasya pada bukit kesadaran. Mungkin di luar susah kering, daun akasia gugur usia. Para penambang hendak merusak bukit kita. Kita jangan diam, atau mati dalam kemusnahan. Mari merayakan pembelaan, sebab hidup adalah sebutir kerikil yang mencemplung di dasar segelas kopi, tenggelam, tenang dan angkuh.
(6)
"Wong kang soleh kumpulono" demikian sepenggal syair Tombo Ati. Tentu saja itu shoheh, tak terbantah. Itu adalah upaya menemukan penawar hati yang sedang tidak sehat akibat benturan sehari-hari. Namun, menjadikan teman dari mana pun dan siapa pun, kupikir merupakan sebentuk upaya pengendapan diri. Ikan di laut tentu dagingnya tidak akan seasin lautan yang ditempati, bukan?
(7)
Lihat saja. Orang-orang meminum bensin dengan harga 4500,- Tiap hari siapa yang sibuk berkendara di belakang sebuah bis kota. Hari ini, siapa yang tidak menipu? Siapa yang tidak mengatasnamakan? Siapa yang sinting dan ngawur? Ternyata mengucapkan sebentuk kesadaran itu mudah, tapi senyatanya susah dalam kenyataan. Waktu juga yang akan memilih apa-apa yang layak diterima dan apa-apa yang semestinya dicampakkan dari kehidupan.
(8)
Perjalanan waktu tak tertahan. Menyemai serbuk racun pada ruang. Hutan lindung yang agung, sebentar lagi akan menjadi bubuk kopi di gelasmu pagi hari. Transportasi emas sudah siap. “Gali! Gali!" bisik bupati. Kepalanya mengeluarkan asap belerang, mulutnya dipenuhi garam, sianida dan mercuri. Kalau ikan-ikan mati, dagingnya tercemar racun, anak-anak akan menderita sakit, Tumpangpitu roboh, bupati terkekeh-kekeh, pemodal tertawa lantang. Baiklah. Ini saatnya mengenakan seragam medan laga. Kalian pakai apa? Aku tetap memakai pena.
(9)
Hanya selintas. Mari melintas. Dan hati-hati, karena sungguh jembatan itu sangat licin.
(10)
Tidak ada yang salah. Dan tentu, perduli dan tidak perduli itu adalah kehendak tiap-tiap orang. Keperdulain dan ketidakperdualian pun bukan hal yang biasa, juga bukan hal yang tidak bisa. Wajar-wajar saja. Semua memiliki keperdualian dan ketidakperdulian. Begitu pun aku. "O, betapa dia ya," kata seseorang. "Apa perdulinya?" jawab orang lain. Buku tidak laku bagi seorang yang buta huruf. Apa gunanya selembar makalah pertanian bagi para petani di Curahjati, Tegaldlimo. Mereka hanya mengenal menanam. "Silahkan kopinya," kata si penerima tamu. "Terima kasih," jawab si tamu. Wajar, bukan? Jadi, tidak ada yang genting di sini. Semuanya biasa-biasa saja, seperti air yang mengalir ya mengalir saja, angin berhembus ya berhembus saja. Ha.ha.ha.ha. "Kenapa kamu ketawa," tanya Charlie Chaplin (si tokoh badut dunia). "Karena aku mencintaimu," jawab isterinya.
(11)
Sejenak Mengenai Darmo Kanal
Samiro juga menulis mengenai kesibukan Darmo Kanal sebagai Jogo Tirto dan kesibukannya bermain layangan dengan anak-anak. Darmo Kanal suka sekali berteduh di bawah pohon duren tanpa sedikit pun takut kejatuhan buahnya yang berduri. Sejumlah keterangan yang berhasil kuhimpun dari beberapa orang yang mengetahui perihal Darmo Kanal, memberikan sedikit gambaran tentang kebiasaan Darmo Kanal yang sering ketiduran di bawah pohon duren. Padahal menurutku: rawan. Siapa tahu tiba-tiba buah duren jatuh menimpa kepalanya. Tapi, menurut keterangan yang kudapat, Darmo Kanal memiliki keyakinan, bahwa kalau tertimpa duren alamat mendapat nasib mujur bagai kejatuhan bintang. “Lebih baik kejatuhan duren, itu nyata. Daripada kejatuhan bintang, itu mustahil,” ujar Darmo Kanal kepada Samiro yang pernah menanyakan perihal kebiasaannya tidur lelap di bawah pohon duren ketika siang hari.
Darmo Kanal bertutur kepada Samiro begini:
"Kita tidak perlu menggabung-gabungkan antara istilah "tulus" dan "profesional". Kedua hal itu bisa berkaitan, bisa juga tidak ada kaitannya sama sekali. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Jika kita melihat segi empat dari sudut miring, maka segi empat akan terlihat seperti segi tiga. Ketulusan itu perkara hati, perkara hati yang tahu hanya Tuhan dan orang bersangkutan. Yang terutama perlu kita nilai adalah sejauh apa seseorang berjalan dengan jujur dan "sembodo" dalam setiap sikap hidupnya sampai pada hal yang terkecil. Bagaimana seseorang menjalani hal-hal kecil dalam hidupnya, itulah yang akan menegaskan jati diri seseorang dengan niscaya. Soal ketulusan, itu urusan Tuhan, dan Tuhan merahasiakannya, sebab kalau diketahui manusia, manusia akan sombong. Kenapa hanya Tuhan yang pantas untuk dipuji sebagai Tuhan Yang Maha Tulus? Ya. Karena hanya Tuhan yang kuat atas segala pujian. Selain Tuhan, yakni manusia, itu tidak kuat terhadap pujian, ia akan menengadahkan kepala, tersenyum malu, bahkan ngakak kepingkel-pingkel karena dipuji, sikapnya bisa berubah seketika. Agar ketulusan benar-benar dinilai Tuhan tanpa dibocorkan-Nya kepada siapa pun. Ada hal-hal yang mungkin perlu kita maklumi dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita renung-dalami dalam-dalam dengan kehalusan pikir dan rasa. Agar, tentu saja, pemahaman kita tidak sekadar bersifat kulit muka saja dan belum sampai pada sejati dan nikmatnya pengertian. “
(12)
Hujan dan Kolak Pisang
Hari ini Banyuwangi hujan. Lalu hendak apa lagi. Memang sudah air jatuh dari langit. Bahwa mungkin keindahan. Masih terpenjara dalam kosa kata. Dan susunan huruf yang selalu gagal kau rangkai-rangkai kembali. Bagaikan harum tubuhnya yang terus terkenang. Dan entah di liang bimbang.
Kali ini masih hujan. Kau pun merokok sambil menghadapi kecemasan. Atau tak tau entah apa yang akan dikerjakan lagi. Sebab daun-daun memang tak pernah mengeluh. Begitu tekun menampung air dari situ.
Memang hujan. Anak-anak berlari tak memakai baju. Mengejar masa kecilnya di jalan sebelum perempatan. Kau masih merindukan. Tidur di kasur empuk. Atau memandang hujan dari balik jendela. Sambil membayangkan ibumu yang tengah memasak kolak pisang dicampur duren. Dan bapakmu yang membaca koran di ruang tengah.
Tapi, memang sudah hujan. Segala yang sudah kau gariskan di atas tanah sudah terhapus. Dan mungkin tak mudah diingat kembali. Selain bahwa kau pernah menggores di atas tanah. Pada suatu tempat. Entah di mana.
Banyuwangi, 2010
(13)
Aku Telaga, dan Kamu
akulah telaga,
maka layarkan perahumu di atasnya;
di situ hayut pula, bunga-bunga kemboja,
juga melati,
dan mawar kali yang maunya abadi.
tapi, fana juga.
seperti juga senja dan fajar,
warnanya hampir serupa.
akulah telaga,
lalu berenanglah, mandilah di tepiannya
di saat jingga senja.
mungkin kau akan kedinginan sesudahnya,
kemudian masuklah ke dalam rumah kayu,
nyalakan api, agar kau hangat,
sambil memandangi api,
sedang tubuhmu meringkuk dalam selimut.
akulah telaga,
kemudian pandangilah dari balik jendela,
sebab mungkin akan kau temukan sebentuk cerita,
yang entah tentang apa
Banyuwangi, 2010
(14)
Aku Jalan, dan Kamu
akulah jalan itu,
lewatilah dengan sendalmu,
setibanya di ujung itu,
ciumilah harumnya derita,
lepaskan sendalmu,
dan biarlah aku yang akan menjaganya
Banyuwangi, 2010
(15)
Germis dan Kopi, Ibunya
Ada seorang gadis kecil di tepi gerimis
Rambutnya basah, sandalnya kecil dan berlumpur,
Ia telah berlari seharian di bawah hujan,
Kini reda, dan ia di tepi gerimis yang sisa,
Ia tidak pernah berhenti menciumi tangis,
Ketika ia ingat, bahwa ibunya
Pernah memasakkannya bayam,
Lalu merenda di balik jendela,
Sambil menikmati kopi
Bersama bapaknya
Sandalnya yang berlumpur,
Ia lepaskan di situ,
Di ujung halaman,
Dan kini aku tengah menjaganya,
Dari banjir yang mungkin akan menghanyutkannya,
Ia masuk rumah, mandi,
Lalu ia berpakaian rapi,
Kemudian memandang jauh ke pohon jambu itu,
Begitu lama,
Entah untuk siapa,
Dan ia tidak pernah ingin ada yang menanyakannya
Banyuwangi, 2010
(16)
Suraji van Houten bercerita, bahwa orang-orang selalu bertanya-tanya tentang siapa perempuan tua yang berleher jenjang itu. Percakapan di warung tepi jalan saat pagi tidak pernah selesai mempertanyakan siapa sebenarnya perempuan tua berleher jenjang itu yang setiap pagi menyapu halaman rumahnya yang tua, lalu masuk lagi, saat malam ia menyalakan lampu minyak. Tidak ada yang banyak tahu tentang perempuan tua itu, mungkin karena desa itu sudah jarang terdapat orang tua seusia perempuan tua itu, sehinga riwayat perempuan tua itu seperti terlipat dalam rahasia waktu yang misterius.
Tentu saja Suraji van Houten tidak tahu. Dia menceritakan hal itu. Pemuda desa yang biasa-biasa saja tidak tahu. Kadang-kadang perbincangan tentang perempuan tua berleher jenjang itu terbenam dalam percakapan lain-lain, tak lagi menjadi penting. Tapi, menurut Suraji van Houten, tak ada yang menggetarkan di desanya selain nada tembang perempuan tua berleher jenjang itu di bale rumahnya sembari memetik sayuran untuk besok pagi, dan bayangan tubuhnya terpantul di gedek rumahnya oleh cahaya lampu minyak. Kata Suraji van Houten, dirinya selalu menduga-duga tentang perempuan tua itu, tapi dia segera mengatakan bahwa dugaan-dugaan itu ia yakini tidak benar. Tapi kenapa ia terus menduga-duga? Dan sore itu, Suraji van Houten menutup ceritanya sambil tersenyum, seperti senyum menang dariku yang sejak awal menyimak ceritanya dengan seksama.
(17)
Siang itu memang panas. Matahari bagaikan dengung ribuan lebah menyegat kepala. Bulan puasa.
"Kau harus pulang," kata suara entah siapa.
Sepeda motor tadi sudah minum bensin lima ribu rupiah.
"Siapa di situ?" tanya suara entah siapa.
Para pengemis bergerombol di simpang lima. Ada di antara mereka bertanya kepada yang lainnya: "Kamu sudah dapat berapa?"
"Baru tiga ribu," jawabnya.
"Pernahkah kau bertanya; kenapa orang-orang mengemis? Pernahkah kau tahu, ada kerajaan pengemis di sebuah negeri pengemis di dalam suatu negeri yang tidak pernah bermimpi untuk menciptakan pengemis?" tanya suara entah siapa.
Dan akupun berbuka.
Banyuwangi-Muncar, 2009-2010
(1)
Bunyi yang ramai, ayam jantan, kleneng jam, gelas yang diletakkan secara agak keras. Harum kopi dan asap rokok. Ada sebentuk kecemasan hari yang menggelung di saku baju tiap baju yang ada sakunya. Bom meledak lagi. Lalu kalian memainkan bola di atas hampa.
(2)
Dan Sang Bima Suci (Brontoseno) menyelam ke dasar samudera. Ia masuk ke dalam tubuh kecil Sang Dewa Ruci. Pulang ia membawa tirta kesucian yang sejati. Maka Surendrajati-lah ia dengan segala keluhuran Mohammad-ku (Muncar, 27 Janurai 2008)
(3)
Aku lari ke atas bukit rindu yang setiap pagi selalu kau sirami dengan tanganmu. Hingga di situ aku telah meleleh bersama embun, dan udara membawakan sehelai namamu ke dalam ketiadaanku.
(4)
Malam. Begitu rebah. Setelah segala awal adalah kenisbian. Kita mendengkur pada malam. Kemudian bangun dini hari, membangun sebentuk sungai di muka jendela. Masih saja, canda cabul dan kata yang tak termaknai. Masih saja kita membudakkan diri, mengurai kenyataan menjadi lobang sampah. Malam. Begitu rebah. Pelan. Sunyi lecet dalam kelam.
Banyuwangi, 29 Agustus 2009
(5)
Perjalanan kita, bagian dari kehidupan itu, bukan lagi yang itu, tapi telah menjadi keharusan penerimaan kehidupan. Mari bertamasya pada bukit kesadaran. Mungkin di luar susah kering, daun akasia gugur usia. Para penambang hendak merusak bukit kita. Kita jangan diam, atau mati dalam kemusnahan. Mari merayakan pembelaan, sebab hidup adalah sebutir kerikil yang mencemplung di dasar segelas kopi, tenggelam, tenang dan angkuh.
(6)
"Wong kang soleh kumpulono" demikian sepenggal syair Tombo Ati. Tentu saja itu shoheh, tak terbantah. Itu adalah upaya menemukan penawar hati yang sedang tidak sehat akibat benturan sehari-hari. Namun, menjadikan teman dari mana pun dan siapa pun, kupikir merupakan sebentuk upaya pengendapan diri. Ikan di laut tentu dagingnya tidak akan seasin lautan yang ditempati, bukan?
(7)
Lihat saja. Orang-orang meminum bensin dengan harga 4500,- Tiap hari siapa yang sibuk berkendara di belakang sebuah bis kota. Hari ini, siapa yang tidak menipu? Siapa yang tidak mengatasnamakan? Siapa yang sinting dan ngawur? Ternyata mengucapkan sebentuk kesadaran itu mudah, tapi senyatanya susah dalam kenyataan. Waktu juga yang akan memilih apa-apa yang layak diterima dan apa-apa yang semestinya dicampakkan dari kehidupan.
(8)
Perjalanan waktu tak tertahan. Menyemai serbuk racun pada ruang. Hutan lindung yang agung, sebentar lagi akan menjadi bubuk kopi di gelasmu pagi hari. Transportasi emas sudah siap. “Gali! Gali!" bisik bupati. Kepalanya mengeluarkan asap belerang, mulutnya dipenuhi garam, sianida dan mercuri. Kalau ikan-ikan mati, dagingnya tercemar racun, anak-anak akan menderita sakit, Tumpangpitu roboh, bupati terkekeh-kekeh, pemodal tertawa lantang. Baiklah. Ini saatnya mengenakan seragam medan laga. Kalian pakai apa? Aku tetap memakai pena.
(9)
Hanya selintas. Mari melintas. Dan hati-hati, karena sungguh jembatan itu sangat licin.
(10)
Tidak ada yang salah. Dan tentu, perduli dan tidak perduli itu adalah kehendak tiap-tiap orang. Keperdulain dan ketidakperdualian pun bukan hal yang biasa, juga bukan hal yang tidak bisa. Wajar-wajar saja. Semua memiliki keperdualian dan ketidakperdulian. Begitu pun aku. "O, betapa dia ya," kata seseorang. "Apa perdulinya?" jawab orang lain. Buku tidak laku bagi seorang yang buta huruf. Apa gunanya selembar makalah pertanian bagi para petani di Curahjati, Tegaldlimo. Mereka hanya mengenal menanam. "Silahkan kopinya," kata si penerima tamu. "Terima kasih," jawab si tamu. Wajar, bukan? Jadi, tidak ada yang genting di sini. Semuanya biasa-biasa saja, seperti air yang mengalir ya mengalir saja, angin berhembus ya berhembus saja. Ha.ha.ha.ha. "Kenapa kamu ketawa," tanya Charlie Chaplin (si tokoh badut dunia). "Karena aku mencintaimu," jawab isterinya.
(11)
Sejenak Mengenai Darmo Kanal
Samiro juga menulis mengenai kesibukan Darmo Kanal sebagai Jogo Tirto dan kesibukannya bermain layangan dengan anak-anak. Darmo Kanal suka sekali berteduh di bawah pohon duren tanpa sedikit pun takut kejatuhan buahnya yang berduri. Sejumlah keterangan yang berhasil kuhimpun dari beberapa orang yang mengetahui perihal Darmo Kanal, memberikan sedikit gambaran tentang kebiasaan Darmo Kanal yang sering ketiduran di bawah pohon duren. Padahal menurutku: rawan. Siapa tahu tiba-tiba buah duren jatuh menimpa kepalanya. Tapi, menurut keterangan yang kudapat, Darmo Kanal memiliki keyakinan, bahwa kalau tertimpa duren alamat mendapat nasib mujur bagai kejatuhan bintang. “Lebih baik kejatuhan duren, itu nyata. Daripada kejatuhan bintang, itu mustahil,” ujar Darmo Kanal kepada Samiro yang pernah menanyakan perihal kebiasaannya tidur lelap di bawah pohon duren ketika siang hari.
Darmo Kanal bertutur kepada Samiro begini:
"Kita tidak perlu menggabung-gabungkan antara istilah "tulus" dan "profesional". Kedua hal itu bisa berkaitan, bisa juga tidak ada kaitannya sama sekali. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Jika kita melihat segi empat dari sudut miring, maka segi empat akan terlihat seperti segi tiga. Ketulusan itu perkara hati, perkara hati yang tahu hanya Tuhan dan orang bersangkutan. Yang terutama perlu kita nilai adalah sejauh apa seseorang berjalan dengan jujur dan "sembodo" dalam setiap sikap hidupnya sampai pada hal yang terkecil. Bagaimana seseorang menjalani hal-hal kecil dalam hidupnya, itulah yang akan menegaskan jati diri seseorang dengan niscaya. Soal ketulusan, itu urusan Tuhan, dan Tuhan merahasiakannya, sebab kalau diketahui manusia, manusia akan sombong. Kenapa hanya Tuhan yang pantas untuk dipuji sebagai Tuhan Yang Maha Tulus? Ya. Karena hanya Tuhan yang kuat atas segala pujian. Selain Tuhan, yakni manusia, itu tidak kuat terhadap pujian, ia akan menengadahkan kepala, tersenyum malu, bahkan ngakak kepingkel-pingkel karena dipuji, sikapnya bisa berubah seketika. Agar ketulusan benar-benar dinilai Tuhan tanpa dibocorkan-Nya kepada siapa pun. Ada hal-hal yang mungkin perlu kita maklumi dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita renung-dalami dalam-dalam dengan kehalusan pikir dan rasa. Agar, tentu saja, pemahaman kita tidak sekadar bersifat kulit muka saja dan belum sampai pada sejati dan nikmatnya pengertian. “
(12)
Hujan dan Kolak Pisang
Hari ini Banyuwangi hujan. Lalu hendak apa lagi. Memang sudah air jatuh dari langit. Bahwa mungkin keindahan. Masih terpenjara dalam kosa kata. Dan susunan huruf yang selalu gagal kau rangkai-rangkai kembali. Bagaikan harum tubuhnya yang terus terkenang. Dan entah di liang bimbang.
Kali ini masih hujan. Kau pun merokok sambil menghadapi kecemasan. Atau tak tau entah apa yang akan dikerjakan lagi. Sebab daun-daun memang tak pernah mengeluh. Begitu tekun menampung air dari situ.
Memang hujan. Anak-anak berlari tak memakai baju. Mengejar masa kecilnya di jalan sebelum perempatan. Kau masih merindukan. Tidur di kasur empuk. Atau memandang hujan dari balik jendela. Sambil membayangkan ibumu yang tengah memasak kolak pisang dicampur duren. Dan bapakmu yang membaca koran di ruang tengah.
Tapi, memang sudah hujan. Segala yang sudah kau gariskan di atas tanah sudah terhapus. Dan mungkin tak mudah diingat kembali. Selain bahwa kau pernah menggores di atas tanah. Pada suatu tempat. Entah di mana.
Banyuwangi, 2010
(13)
Aku Telaga, dan Kamu
akulah telaga,
maka layarkan perahumu di atasnya;
di situ hayut pula, bunga-bunga kemboja,
juga melati,
dan mawar kali yang maunya abadi.
tapi, fana juga.
seperti juga senja dan fajar,
warnanya hampir serupa.
akulah telaga,
lalu berenanglah, mandilah di tepiannya
di saat jingga senja.
mungkin kau akan kedinginan sesudahnya,
kemudian masuklah ke dalam rumah kayu,
nyalakan api, agar kau hangat,
sambil memandangi api,
sedang tubuhmu meringkuk dalam selimut.
akulah telaga,
kemudian pandangilah dari balik jendela,
sebab mungkin akan kau temukan sebentuk cerita,
yang entah tentang apa
Banyuwangi, 2010
(14)
Aku Jalan, dan Kamu
akulah jalan itu,
lewatilah dengan sendalmu,
setibanya di ujung itu,
ciumilah harumnya derita,
lepaskan sendalmu,
dan biarlah aku yang akan menjaganya
Banyuwangi, 2010
(15)
Germis dan Kopi, Ibunya
Ada seorang gadis kecil di tepi gerimis
Rambutnya basah, sandalnya kecil dan berlumpur,
Ia telah berlari seharian di bawah hujan,
Kini reda, dan ia di tepi gerimis yang sisa,
Ia tidak pernah berhenti menciumi tangis,
Ketika ia ingat, bahwa ibunya
Pernah memasakkannya bayam,
Lalu merenda di balik jendela,
Sambil menikmati kopi
Bersama bapaknya
Sandalnya yang berlumpur,
Ia lepaskan di situ,
Di ujung halaman,
Dan kini aku tengah menjaganya,
Dari banjir yang mungkin akan menghanyutkannya,
Ia masuk rumah, mandi,
Lalu ia berpakaian rapi,
Kemudian memandang jauh ke pohon jambu itu,
Begitu lama,
Entah untuk siapa,
Dan ia tidak pernah ingin ada yang menanyakannya
Banyuwangi, 2010
(16)
Suraji van Houten bercerita, bahwa orang-orang selalu bertanya-tanya tentang siapa perempuan tua yang berleher jenjang itu. Percakapan di warung tepi jalan saat pagi tidak pernah selesai mempertanyakan siapa sebenarnya perempuan tua berleher jenjang itu yang setiap pagi menyapu halaman rumahnya yang tua, lalu masuk lagi, saat malam ia menyalakan lampu minyak. Tidak ada yang banyak tahu tentang perempuan tua itu, mungkin karena desa itu sudah jarang terdapat orang tua seusia perempuan tua itu, sehinga riwayat perempuan tua itu seperti terlipat dalam rahasia waktu yang misterius.
Tentu saja Suraji van Houten tidak tahu. Dia menceritakan hal itu. Pemuda desa yang biasa-biasa saja tidak tahu. Kadang-kadang perbincangan tentang perempuan tua berleher jenjang itu terbenam dalam percakapan lain-lain, tak lagi menjadi penting. Tapi, menurut Suraji van Houten, tak ada yang menggetarkan di desanya selain nada tembang perempuan tua berleher jenjang itu di bale rumahnya sembari memetik sayuran untuk besok pagi, dan bayangan tubuhnya terpantul di gedek rumahnya oleh cahaya lampu minyak. Kata Suraji van Houten, dirinya selalu menduga-duga tentang perempuan tua itu, tapi dia segera mengatakan bahwa dugaan-dugaan itu ia yakini tidak benar. Tapi kenapa ia terus menduga-duga? Dan sore itu, Suraji van Houten menutup ceritanya sambil tersenyum, seperti senyum menang dariku yang sejak awal menyimak ceritanya dengan seksama.
(17)
Siang itu memang panas. Matahari bagaikan dengung ribuan lebah menyegat kepala. Bulan puasa.
"Kau harus pulang," kata suara entah siapa.
Sepeda motor tadi sudah minum bensin lima ribu rupiah.
"Siapa di situ?" tanya suara entah siapa.
Para pengemis bergerombol di simpang lima. Ada di antara mereka bertanya kepada yang lainnya: "Kamu sudah dapat berapa?"
"Baru tiga ribu," jawabnya.
"Pernahkah kau bertanya; kenapa orang-orang mengemis? Pernahkah kau tahu, ada kerajaan pengemis di sebuah negeri pengemis di dalam suatu negeri yang tidak pernah bermimpi untuk menciptakan pengemis?" tanya suara entah siapa.
Dan akupun berbuka.
Banyuwangi-Muncar, 2009-2010
Langganan:
Postingan (Atom)


