Sabtu, 13 November 2010

Aset Budaya Banyuwangi

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

DI samping beberapa situs budaya dan sejarah Banyuwangi, kita tidak boleh melupakan aset utama kebudayaan kita, yakni para penjaga dan pelaku budaya beserta basis pendukung kebudayaan itu sendiri. Ini penting kalaulah kita tidak sudi digolongkan ke dalam komunitas masyarakat atau sistem pemerintahan kabupaten yang tidak beradab serta bobrok. Menarik sehelai benang sederhana dari persoalan mendasar, yakni kebudayaan dan sejarah memang membutuhkan kearifan. Tentu saja kehendak bersama dan kejujuran pemerintah dalam menjadi fasilitas kelestarian budaya sebagai sebentuk perubahan yang terus-menerus, dinamis dan harmonis. Dinamika dan harmonisasi nilai-nilai dalam segenap unsur dalam masyarakat kita. Di sinilah kita membangun demokratisasi dengan semangat dan perilaku yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, penegakkan hukum dan keadilan dalam setiap lini kehidupan.

Budaya sebagai dinamika pergerakan yang dinamis dan terus-menerus. Memahami budaya dengan pandangan seperti itu akan menciptakan sebentuk sikap hidup yang tidak dangkal serta yang mampu mementingkan aktualisasi serta faktualisasi keadilan dan kemanusiaan. Kekuasaan musti memahami hal ini. Begitu juga segenap lapisan masyarakat. Memahami budaya dan sejarah hanya sebagai bentuk belaka pada gilirannya akan membawa pada sikap bergagah-gagah belaka dan hanya memulia-agungkan diri sendiri. Budaya sebagai bentuk dan hanya dirawat bentuknya, akan meninggalkan faktualisasi kehidupan masyarakat yang terus-menerus bergerak dalam dinamika kehidupannya, melupakan kebutuhan mendasar rakyat yang tidak pernah berhenti berdialektika dengan akar tradisi dan sejarahnya.

Kita memiliki aset hidup, yakni para pelaku budaya kita yang telah menghasilkan bentuk-bentuk budaya dari dinamika pergerakan kehidupan. Lagu-lagu Kendang Kempul kita, misalnya, adalah hasil-hasil kesenian yang legendaris yang terkenal ke pelosok dunia. Ini tidak berlebihan. Siapa tidak kenal lagu “Genjer-genjer” ciptaan Mohammad Arif dari Temenggungan itu? Lagu tersebut menjadi terkenal dan terdengar ke seluruh Indonesia dan dunia karena telah diperkenalkan oleh Soekarno ke Vietnam, Rusia, dan beberapa negara lain. Bagitu juga dengan lagu legendaris ciptaan Andang Cy. berjudul “Umbul-umbul Blambangan” yang melompat sebagai pemenang lagu terbaik etnis se-Asia. Berderet para pencipta lagu khas Banyuwangen yang hebat-hebat: Armaya, Fatrah Abal, Endro Wilis, dll.

Membicarakan hasil-hasil budaya Banyuwangi adalah sebentuk perjalanan pada dimensi ketinggian cita rasa seni yang adi luhung. Ini dibangun dan dihasilkan dari gerakan dinamis yang setia dan terus-menerus. Mereka para pelaku itu memiliki kesetiaan dan idealisme dalam berkarya. Mereka tidak hidup dari kesenian, tapi mereka menyatu dan menghidupi kesenian sebagai wujud kesetiaan pada dinamika gerak budaya sebagai panggilan jiwa. Berapa materi yang mereka dapatkan? Kecil! Bahkan cenderung mereka tidak mendapatkan apa-apa. Berapa penghasilan penari gandrung Temu’ yang tarian serta suaranya menjadi kebanggaan daerah dan membawa Banyuwangi ke pentas pergaulan dan eksistensi seni nusantara? Mereka itu aset budaya dan sumber aset budaya kita yang hidup dan terus bergerak. Tapi, sungguh kehidupan mereka terkadang jauh dari kelayakan. Kecuali beberapa saja, misalnya H. Armaya, sastrawan nasional yang memang berada. Namun demikian, Armaya tetap mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap kebudayaan dan kesusastraan lokal. Armaya mengeluarkan bantuan dengan memimpin secara tunggal perhelatan kebudayaan dan sastra di Banyuwangi. Beliau dengan bersemangat membangun situs sejarah makam Buyut Atikah di Giri ketika Pemkab tidak tau-menahu terhadap hal itu. Beliau secara rutin menerbitkan jurnal budaya dan buku-buku budaya dan sastra di Banyuwangi.

Nah, di mana peran pemerintah? Apa yang telah mereka perbuata terhadap budaya Banyuwangi? Saya belum melihat mereka melakukan apa-apa, kecuali hanya seremonial belaka bersama para budayawan dan sejarawan “tukang” yang bekerja untuk kepentingan keagungan kelompok tertentu (praktis). Sungguh itu bersifat tidak “kanggo enake” rakyat Banyuwangi dan dinamika kebudayaannya, bukan?

Muncar, 2009

Kamis, 11 November 2010

SUHITA

Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Dari balik jendela, embun menggantung di tepi dedaunan. Kupikir hari ini tidak ada yang benar-benar hadir dari dalam mulut-mulut berita, tentang kota tua yang tak tertata dengan rapi. Pohon mangga belum berbuah. Kain-kain dikibarkan. Barangkali pagi tak lagi menawarkan sebentuk penegasan tentang perjalanan burung. Di situ orang-orang menanam pohon pisang. Kota ini menjadi kota pisang, buah yang bentuknya lonjong memanjang mengandung vitamin C dan kalsium. Di sebelah barat desa Singotrunan, sejumlah orang menghalau bebek, memelihara sapi dan kambing. Sawah-sawah masih digarap dengan semangat hidup yang berkilau. Seyogianya kita masih bisa tersenyum manakala tanah ini masih memberikan kehidupan. Tapi, orang-orang tetap sibuk dengan banyak persoalan yang mendesak pada dinding kekuasaan. Buah semangka di kebun belakang belum juga bisa dipetik, hanya berbuah kecil yang entah apakah akan selamat hingga memberikan daging berwarna merah kepadamu dengan gerombolan bijinya yang hitam. Tapi, di pasar ada yang menawarkan buah semangka tanpa biji, katamu, itu semangka super.

Sebelum malam, sebelum segalanya menjadi sedemikian samar. Langit rindu memanjangkan kenang pada tepi alismu. Dia adalah Suhita, seorang laki-laki yang namanya mirip perempuan dan mirip sebuah nama yang terdapat dalam sebuah legenda. Suhita seringkali merenda di depan teras rumahnya, menunggu hujan dan orang datang. Sesekali Suhita mendesah, bahwa katanya kefakiran itu mendekatkan diri pada kekafiran. Ada yang lebih berbahaya dari sekadar kefakiran harta, desahnya, yakni kafakiran hati dan jiwa. Tentu saja, kita tidak hendak menafsir desahan Suhita yang mencangkung di teras rumahnya, di mana embun belum juga membawakan sebatang kretek untuknya.

Orang-orang sibuk menata pikiran-pikiran kelam berupa balok-balok persegi empat. Pasar menawarkan ruang segi tiga. Toko-toko baru mengecambah, orang-orang membeli produk asing dengan harga murah, katanya, dengan kualitas yang sama saja. Sejatinya kita hanya membeli label, ujarmu. Tapi, asap belerang mengepul dari tubuh-tubuh manusia. Suhita meratapi nasibnya. Nasib yang sesekali menjelma mata angin membuka daun cakrawala di langit jiwanya. Fitnah dan rasa tersinggung didaur ulang dari mimpi yang kemarin hari.

* * *

Suhita dilahirkan di Banyuwangi, dia termasuk keturunan raja, sehingga di depan namanya bergelar raden, namun dia tidak hidup di lingkungan istana. Seorang anak lelaki yang berkulit bersih. Suhita menempuh sekolah di SMA Giri. Hari-hari menggelinding seperti sebutir kelereng di lantai rumahmu, menegaskan sebentuk dunia yang bergulir dan berkilau. Sejak kecil, Suhita selalu rajin memelihara bunga. Bunga-bunga di halaman rumahnya beraneka warna, seperti pelangi. Dia pernah masuk sekolah tinggi swasta jurusan akademi koperasi, sebuah sekolah yang kemudian gulung tikar. Sehingga ketika Suhita membutuhkan ijasah untuk pencalonan dirinya sebagai wakil rakyat, ia harus meminta tanda tangan kopertis di Surabaya. Merepotkan memang, tapi itu harus ditempuh, tak lain adalah sebuah perjuangan. Namun sayangnya, Suhita yang lugu dan jujur itu, tidak terpilih sebagai anggota wakil rakyat tahun 2009. Sangat disayangkan, padahal aku banyak menaruh harapan pada sosok Suhita, nyaris tidak kutemukan lagi sosok manusia yang jujur sejujur Suhita.

Suhita bukan malaikat. Dia adalah manusia biasa yang selalu merasakan lapar di pagi hari dan harus berpikir keras agar kedua anaknya tidak ikut lapar. Suhita memiliki semangat hidup yang luar biasa, meski ia tergolong pengangguran yang selalu aktual. Segala impiannya tentang pohon nangka dan buah duren, terpaksa harus ia kuburkan dalam-dalam di bawah dipan setelah ia menerima kenyataan bahwa suara pendukungnya tidak memenuhi satu kursi wakil rakyat pada Pemilu Legislatif tahun 2009. Apa boleh buat? Hidup itu tidak ada yang normal atau tidak normal, hidup itu tidak ada yang sukses atau tidak sukses sebagaimana banyak kata orang. Yang ada hanyalah hidup saja, maka jalanilah itu, desah Suhita di dalam hati, di antara cahaya senja yang pelan-pelan tenggelam ke dalam kedua butir matanya yang hampir setengah abad. Isterinya sudah dua tahun lebih pergi meninggalkan Suhita, meninggalkan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suhita tidak pernah menangisi kepergian isterinya. Bagi Suhita, kedua anaknya adalah permata sorga di dalam hatinya. Sedangkan cinta adalah biji jagung yang ditanam, tumbuh, berbuah, dipetik buahnya untuk digoreng atau dibakar, pohon jagung dipotong untuk makan sapi atau disampahkan, gumam Suhita.

* * *

Diam-diam bulan Agustus menguntumkan bunga di depan rumahnya. Seperti biasa, Suhita bangun pagi, menyeduh kopi, dan merokok, lalu berpikir bahwa hari ini ke mana ia akan mencari sebentuk penguripan buat sehari, tentu sekadar pengganjal perut dan kedua orang anaknya. Tidak ada yang benar-benar benar, tidak ada yang salah betul dalam hidup ini, desahnya. Yang ada adalah benar-benar hidup, itu kenyataan, bisik Suhita sembari menyedot kretek di bibirnya.

Secara filosofis, waktu itu abadi, kitalah yang mati, kata Suhita berfilsafat entah untuk siapa dan ditujukan untuk apa. Dunia rasanya seperti sebutir pasir yang mencemplung ke dalam segelas kopi di mejanya, jatuh ke dasar gelas dengan pelan, tenang, dan anteng. Sekali waktu ambeiennya kambuh, badannya lemas, dan cucian menggunung di kamar mandi yang dihuni ikan. Suhita masih di situ. Bertinggal di sebuah rumah besar tua yang sendiri. Kedua anaknya di situ, sering bermain, lalu tidur ketika sudah capek sekali. Anak-anak memang memiliki semangat hidup yang menggairah, menyala, dan kuat. Kau akan kewalahan mengikuti kemauan dan tingkah anak-anak, mereka tidak mengenal lelah, sebab pikirannya bersih, jiwanya bebas dan hatinya bercahaya. Beruntunglah bahwa usia belum mengalahkanmu, ia masih bersahabat dalam tiap denyutmu, menyediakan warna langit, segayung embun, dan bunga-bunga kates.

Suhita masih menegaskan keterpencilan di tengah gelombang. Daun-daun melambai mengikuti lambaian kain. Sampah di depan rumahmu dibakar oleh Bagas, seorang sarjana perikanan yang kere tapi kaya dengan wawasan, setiap hari datang ke rumahmu untuk melihat televisi, menyeduh kopi, dan membelikan rokok beradasarkan perintah Suhita. Bagas pernah kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, jurusan perikanan, skripsinya tentang pemindangan ikan dengan membuang terlebih dahulu perut ikan sebelum dipindang, ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur baik, memiliki aroma enak, memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujar Bagas kepada Suhita. Wawasannya sangat luas dan mendalam. Bagas tidak bekerja, pengangguran. Orang-orang menganggap Bagas adalah orang stres atau sinting. Tapi, bagi Suhita, Bagas tidak gila. Bagas selalu berhasil dengan cerdas mengomentari film-film yang dilihatnya dengan wawasan perfilman yang menakjubkan. Seperti pagi itu, Suhita masih berdiam di kursinya, menghadap ke timur, memandang kaca rumahnya, lalu kedua matanya bersemayam pada sebuah pohon mangga yang buahnya sudah dipetik bulan kemarin, semula pohon mangga di depan rumahnya itu ada dua batang, tapi yang sebatang ditebang sebab dijadikan sebuah kolam ikan (kolam ikan itu bentuknya mirip bak mandi). Musim memang tak selalu membacakan puisi perpisahan, tapi aroma kata-kata mengembun dari balik perjalanan kelereng waktu yang menggelinding di situ. Kupikir kau tidak perlu menyiapkan mie instan goreng, telor ayam, ikan asin, dan sambal.

* * *

Wangi kopi dari gelasmu masuk ke dalam hidungku. Di kursi itu, Suhita sering duduk, membaca koran dan mendiskusikan banyak hal dengan teman-temannya yang datang berkunjung bahkan kadang bermalam di rumahnya. Teman yang sering datang ke rumah Suhita adalah Sibudar, dia seorang pelukis. Dulu rambutnya panjang. Terakhir kali aku melihatnya, rambutnya sudah pendek. Aku tidak tahu alasan apa yang menyebabkan Sibudar memotong rambut panjang kebanggaannya itu. Dulu, kata Suhita, Sibudar adalah seorang pelukis dan pengantar turis di Bali. Bahasa Inggris Sibudar sangat bagus walaupun dia tidak pernah lulus kuliah, gelarnya adalah DO alias drop out. Suhita dan Sibudar sering menggoreng mie instan dengan irisan sayur, potongan tomat, dan kacang panjang yang digunting kecil-kecil.

Pagi ini Suhita sibuk. Tangannya bersilangan di atas meja, menyeduh kopi, mengaduknya hingga benar-benar kental dan pekat. Suhita cukup bingung memikirkan seragam sekolah anaknya yang kurang seratus ribu, belum buku-buku sekolah satu paket seharga delapan puluh ribu, buku tulis, dan dasi sekolah yang kurang panjang. Lalu pagi itu riuh, Suhita menyuruh anaknya sekolah, bel masuk sekolah kurang tiga puluh menit, anaknya belum mandi. Suhita benar-benar memperhatikan sekolah anaknya. Syukurlah, anaknya sudah masuk sekolah. Pagi itu Ramindo, sahabat Suhita yang sehari-harinya sebagai tukang ojeg, datang bertamu ke rumahnya. Ramindo bercerita tentang negeri jiran Malaysia. Menurut Ramindo, Malaysia adalah negara yang cukup percaya diri menunjukkan kepada dunia bahwa Malaysia adalah miniatur Asia. Ramindo juga merasa geram kepada Malaysia yang akhir-akhir ini bersitegang mengenai batas wilayah, soal karya-karya seni milik Indonesia yang diklaim milik Malaysia, pelecehan terhadap Indonesia, dan masalah-masalah TKI. Tapi, Ramindo juga mengakui kemolekan Malaysia yang para pemimpinnya berhasil mempromosikan diri sebagai negara miniatur Asia, tidak seperti pemimpin-pemimpin Indonesia dewasa ini. Suhita nampak mendengarkan cerita Ramindo dengan serius.

“Kapan kita ke sana?” tanya Suhita.

“Kapan?” balik Ramindo.

“Kapan?”

“Kapan?”

Perbincangan berhenti di situ. Keduanya kini tenggelam dalam samudera huruf-huruf koran di tangan mereka berdua.

* * *

Waktu membentuk putaran jarum pada lingkaran, melewati angka demi angka. Angin bulan Agustus menyampaikan lagi hidup sebagaimana biasanya, mengetuk daun pintu rumah Suhita, melewati meja lalu duduk di kursi yang biasa diduduki Suhita tiap waktu. Kupikir Suhita tidak perlu lagi berpayah-payah menyeduh kopi sendiri dengan air panas dari atas kompor gas. Bagas dan Sibudar sudah memilih untuk tinggal di rumah Suhita. Mereka berdua yang rajin menyeduh kopi bila melihat bahwa gelas kopi di atas meja sudah kosong dan tinggal ampasnya. Kecuali jika kehabisan bubuk kopi, Suhita akan menghubungi teman-temannya melalui telepon genggamnya supaya datang ke rumahnya dan diminta tolong untuk bersedia apatah kiranya sekadar membelikan bubuk kopi dan setengah kilo gula.

* * *

Matahari mulai bergeser pelan-pelan di langit barat. Rumah begitu lengang. Pintu rumah terbuka, angin masuk dengan leluasa, angin senja yang pelan.

Banyuwangi, 2010

Rabu, 10 November 2010

19 Nopember ---22 April

---istriku
di tepi malam, masih langit yang terus meluas.
Segala yang putih bagai komposisi benda-benda di kamar kita yang sederhana.

Kalau sejenak kau hikmati; suara desah daun anggur, gerimis, dan cahaya lampu bulan Nopember. Rindu kita diam-diam mengusik angin di daun-daun mangga itu.

Hujan masih kembara. Kusematkan sebutir gerimis di lengkung kulitmu yang putih. Apa yang bisa kukatakan, sebab cinta memang tak mewakilkan dirinya pada ungkapan.
Kesejatian ini bagai rona merah senyum anak kita. Putih seperti daging duren. Dan berdoa senantiasa.

Banyuwangi, Nopember 2009-2010

(mengawali kado ulang tahun dan kado perkawinan yang selalu kita rayakan dengan hidangan rambutan yang ranum)
Ofiq

Seberkas Cemas

Ia lari ke dalam parfum,
berburu dalam tiap tikungan pasar,
menemukan bayam, wortel dan daging ayam.
Lalu meratapi nama,
dan surat-surat yang tak ber alamat

2009

Taufiq Wr. Hidayat

Selasa, 09 November 2010

Politik dan Buto Cakil



Karya Fathony Rinaldy

Perut: Kenyang and Lapar

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

PERUT adalah tempat makanan. Secara biologis, perut adalah tempat penyimpanan makanan dan pencernaan untuk diserap tubuh, juga tempat di mana sisa makanan itu disimpan untuk kemudian dikeluarkan. Teman saya seorang sarjana perikanan, Agus, menjelaskan kepada saya, bahwa dia pernah membuat skripsi tentang pemindangan ikan. Dalam skripsinya tersebut, dia mengupas bahwa ikan yang telah dikeluarkan isi perutnya akan menyebabkan minimnya mikroorganisme atau mikrobiologis dalam daging sehingga menjadikan daging ikan menjadi lebih awet, bertekstur dengan baik, memiliki aroma enak, serta memiliki rasa yang lezat. “Ini sebuah dugaan ilmiah,” ujarnya.

Aku pikir soal perut adalah soal makan. Soal seseorang itu memasukkan makanan ke dalam perutnya. Banyak persoalan penyakit disebabkan oleh perut, atau lebih tepatnya disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi seseorang. Ini artinya, menu makanan seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya. Kesehatan fisik, tentu saja terkait dengan kesehatan mental dan kejiwaan seseorang. Orang gila atau gelandangan yang keluyuran di jalanan tak pernah memikirkan bersih atau tidaknya makanan yang dimakannya, mereka mengambil sisa makanan di tempat sampah lalu memakannya. Namun, kita lihat kondisi fisik mereka seolah tidak mengalami masalah.

Ada sebentuk anggapan aneh. Kenapa bupati, orang kaya yang kikir, pejabat yang korup itu perutnya selalu terlihat gendut? Seringkali penyakit yang mereka derita itu macam-macam. Ini karena perut mereka sering dijejali oleh makanan banyak, kurang mempertimbangkan unsur lemak atau kolesterol dalam makanan yang dikonsumsinya. Dibandingkan gelandangan yang makannya tidak higenis, diambil dari tempat sampah yang kotor, kesehatan para pejabat itu kalah dengan gelandangan yang kelihatan penyakitan. Terbukti mereka tetap sehat dalam usia yang terhitung cukup tua di jalanan. Ini karena, menurut Kang Fatah, karena walaupun yang dimakan gelandangan itu kotor, namun terhitung halal. Nah, pejabat itu banyak makan yang unsur halalnya sangat minim di dalam makanannya. Sehingga menyebabkan perut mereka gendut, penyakitan, gemuk tidak enak dipandang. Gak ideal. Coba kita lihat perut para anggota dewan kita, perut bupati, kepala dinas, dll. Kalaupun ada yang kurus kering, itu mungkin karena model tubuh mereka memang kurus, tapi perutnya lentur. Ada lho orang kurus yang makannya banyak sampai berpiring-piring. Yang gendut, lha itu makannya kadang sedikit tapi unsur lemaknya (terutama lemak yang “tidak halal”) banyak. Jadi, sebenarnya kurus atau gendut, kalau itu perut pejabat tentu saja kita curiga itu bersih dan higenis.

Itu subyektif. Gak logis!

Nah, ketika perut terlalu banyak diisi makanan enak, maka dampaknya adalah ngantuk. Ini ilmiah. Ada banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh kita menyebabkan kita mengantuk. Mengantuk tentu membutuhkan tidur. Tidur adalah aktivitas yang sangat penting bagi manusia. Cuma tidak boleh terlalu banyak tidur. Terlalu banyak makan, menyebabkan sering mengantuk dan sering tidur. Sering tidur menyebabkan malas. Itu rentetannya. Makanya gak heran kalau banyak pejabat kita malas. Mungkin yang begitu itu. Ketika perut terlalu kenyang atau sering kenyang, maka badan lemas, namun kehendak hasrat tinggi. Maksudnya, kalau perut kenyang dengan makanan yang bergizi tinggi, yang di bawah perut akan bergerak-gerak bergairah. Karena yang di bawah perut bergairah, maka ia butuh pemuasan tidak cukup dengan satu lobang saja, perlu berlobang-lobang untuk memenuhi seksualitasnya. Kata Mbah Freud, libido orang yang suka makan itu lebih tinggi dari nafsu senggama binatang.

Subyektif lagi! Ngawur!

Ketika perut seringkali kenyang, seringkali ngantuk dan seringkali tidur. Bangun tidur, yang di bawah perutnya minta giliran. Sehingga prosentase hidupnya banyak terfokus pada makan, tidur, seks, buang air. “Mangan, turu, melek, kawin, nelek, nemplek,” kata sebuah kitab kuno berbahasa Jawa yang dituturkan Darmono. Maksudnya jangan jadi orang yang kayak gitu, yakni yang hanya banyak “makan, tidur, bangun, seks, buang air, dan merengek.” Yang demikian itu adalah kuantitas manusia yang sempurna sebagai penjelmaan binatang, dia tidak mampu menggerakkan kualitasnya; potensi keberadabannya, akal, dan kebudayaan yang bermanfaat bagi sesama. Hidup hanya untuk hidup, bukan lagi hidup untuk menerima, menjalankan, dan mengolah kehidupan.

Subyektif! Gak ilmiah!

Persoalan perut adalah persoalan manusia. Persoalan sejarah. Demi kepuasan perutnya (yang kemudian turun sedikit ke bawah perut) manusia melakukan hal-hal di luar kewajaran akal dan pikiran. Sejumlah ingatan tentang itu kita bongkar lagi di sini, tumpukan kertas dokumen terpaksa harus kita bongkar lagi dari dalam laci kesejarahan. Akan kita temukan sebentuk kengerian menjalar hingga ke ubun-ubun kepala. Tidak semua alasan kebrutalan dan kelicikan itu disebabkan perut. Tapi, ada harga diri, martabat, kejayaan, kekuasaan, dan sekeranjang alasan-alasan lain. Namun, setelah perut ini kenyang, bukankah kemudian kebinalan akan terangsang? Perut yang kosong sekosong-kosongnya, akan menyebabkan seseorang lemas untuk berbuat sesuatu. Meskipun perut lapar juga bukan alasan seseorang untuk tidak bisa berbuat apa-apa. Karl Marx juga kelaparan sampai ia minggalkan dunia. Tapi, soal lapar di sini, tentu bukan soal lapar karena tidak makan. Lapar lebih saya artikan sebentuk susahnya nyari makan, kefakiran hidup yang sesungguhnya. Untuk makan saja susah, tidur susah, apalagi berdialektika. Kebodohan dan kedunguan merajalela, lalu kita terpaksa harus menjual harga diri, bersedia untuk dihina, bersedia untuk dipermalukan, bersedia membudakkan diri demi perut yang harus diisi kemudian demi kebutuhan hidup yang lainnya setelah perut kita kenyang, demikian ciri khas Indonesia mutakhir. Bukan alasan yang tepat memang jika kita katakan bahwa segala bentuk kriminalitas seperti pencurian, perampokan, dan lain-lain kejahatan itu karena disebabkan perut lapar. Pun tentu bukan sebentuk alasan yang benar jika perut kenyang lantas menyebabkan seseorang menjadi baik, tidak kriminal, tidak menyimpang, pendeknya tidak jahat. Soal kenyang dan lapar ternyata berpengaruh kuat terhadap mentalitas seseorang. Orang yang makan melebihi porsinya dan dengan nafsu makan yang enak-enak, cenderung rakus. Mungkin juga akan rakus dalam banyak hal. Kelaminnya akan berfungsi dengan panas, variasi kelainan pemuasan yang tidak masuk akal mungkin akan terjadi. Menahan lapar bukan berarti berkehendak untuk menjadi baik, begitu sebaliknya, memperkenyang perut bukan untuk menjadi jahat. Soalnya terletak pada sejauh mana kehendak kenyang dan kehendak menahan lapar itu memulai dirinya, demi kepentingan apa. Jika kepentingannya hanya untuk hidup, maka kenyang tentu diperlukan secara wajar. Namun bila hidup ini hanya sekadar untuk makan, sudah sedemikian parahnya kehidupan kita, bukan?.

Banyuwangi, 2010