Rabu, 13 Oktober 2010

Syarat Rahasia Menjadi Kiai (Keterangan-keterangan Budikarna yang Diambil dari Penjelasan Kangmuda’iyah)


Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


KANGMUDA'IYAH menyampaikan definisi mengenai kiai, ulama’, ustad, da’i, dan guru. Ini terdengar aneh, kenapa harus dibedakan?

“Bukankah kiai, ulama’, ustad, da’i, dan guru itu sama saja pengertiannya, Kangmuda’iyah?” tanya Budikarna, sahabatnya.

“Beda!” jawab Kangmuda’iyah tegas.

“Bedanya?”

“Jelas beda.”

***

Kangmuda’iyah dan Budikarna adalah sahabat sejak mondok di sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang kiai agung, Kiai Agung Darsodin Qardo, di Ponpes Jambu Nyamplong. Keduanya dulu adalah sahabat sekamar, dan keduanya menjadi santri selama 14 tahun lamanya sejak keduanya masih amat belia.

Keterangan-keterangan yang berguna tentang penjelasan Kangmuda’iyah itu telah Asnoto peroleh dari sahabat Kangmuda’iyah sendiri secara langsung, yakni Budikarna. Dan dengan demikian merupakan keterangan yang cukup akurat. Menurut Budikarna, bahwa sahabatnya, Kangmuda’iyah, sehari-harinya berprofesi sebagai pemasang susuk, yakni mulai susuk pengasihan, susuk penglaris, susuk kecantikan, dll. Kangmuda’iyah sangat ahli menancapkan susuk di tengkuk atau di dahi orang yang meminta dipasang susuk. Seperti Yurtani, tetangga Budikarna di Rogojampi, dipasang susuk kecantikan dan penglarisan oleh Kangmuda’iyah, sehingga wajahnya akan selalu tampak cantik walaupun usianya telah setengah baya, dan dagangannya selalu laris.

“Susuk itu memiliki daya magis. Dan itu terjadi karena ijin Allah,” ujar Budikarna kepada Asnoto ketika ia ngopi di Singotrunan di waktu pagi di rumah Kargiwat.

Asnoto tidak pernah mondok di pesantren. Tapi, Budikarna dan Kangmuda’iyah pernah mondok di pesantren 14 tahun lamanya, menimba ilmu-ilmu agama Islam, di Pondok Pesantren asuhan Kiai Agung Darsodin Qardo yang biasa dipanggil Gung So oleh penduduk sekitar pesantren. Gung So adalah kiai dan tokoh agama yang sangat kramat, memiliki kesaktian, sebagian menganggapnya wali. Gung So sangat berwibawa, ia adalah sesepuh seluruh kiai di wilayah Jawa waktu itu. Gung So meninggal sekitar tahun 1990-an karena sakit lambung di usia 95 tahun. Semua kiai di Jawa pada waktu itu, menjadikan Gung So sebagai maha guru, bahkan presiden pun sungkem cium tangan kepada Gung So. Gung So yang adalah guru dari Budikarna dan Kangmuda’iyah itu terkenal dengan ketegasan sikapnya serta keteguhannya memegang prinsip hidup beragama Islam. Gung So tidak pernah sudi sedikit pun berkompromi kepada hal-hal yang menurut keyakinannya menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Menurut Budikarna, Gung So adalah “assalafus shalih”, atau yang biasa dikenal dengan sebutan “kiai salaf”. Ciri penting kiai salaf ini, menurut Budikarna adalah dari kebiasaannya, yakni kebiasaan meminum kopi agak pahit dan menghisap rokok lintingan dengan gaya seperti orang menghisap ganja. “Ciri kiai salaf itu selalu dapat dipastikan punya kebiasaan meminum kopi agak pahit dan merokok lintingan, dan termasuk perokok super berat” tegas Budikarna serius.

Namun uniknya, Gung So adalah orang pertama dan kiai pertama di Indonesia yang dengan tegas menerima Pancasila sebagai dasar negara yang final di saat tak seorang pun tokoh Islam atau kiai Islam pada waktu itu yang menyatakan menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara. Sikap Gung So ini kemudian diikuti oleh kiai-kiai yang lain lantaran apa pun yang menjadi fatwa dan ketetapan Gung So diyakini sebagai kebenaran yang tidak main-main, jika dilanggar akan beresiko kena kuwalat dunia akhirat. “Semua fatwa dan ketetapan saya, akan saya pertanggungjawabkan sampai di hadapan Allah,” kata Gung So suatu kali dalam hidupnya sebagaiamana yang dikutip oleh Budikarna. Gung So juga kiai pertama di Jawa yang memperbolehkan mencampur laki-laki dan perempuan dalam satu kelas sekolah di saat tak satu pun pesantren di Jawa membolehkan perkara itu. Karena menurut Islam, laki dan wanita bercampur dalam satu tempat itu haram sebab bukan muhrim. Tapi, menurut Gung So itu tidak masalah, karena kelas adalah tempat yang aman dan diawasi guru. Jadi, tidak perlu khawatir. Gung So juga yang memperbolehkan pemimpin wanita dan pemimpin non-muslim asalkan dia mampu memimpin dan mampu menjamin adanya keadilan juga kebebasan di dalam kehidupan rakyat.

“Ini unik dan aneh. Padahal Gung So itu kiai salaf, kiai yang paling fanatik dan ortodok,” kata Budikarna. “Tapi, menurut beliau, justru sikapnya itu adalah cerminan pemikiran kitab-kitab klasik dan salaf yang murni. Unik, bukan?” lanjut Budikarna menjawab keheranannya dengan keheranan di hadapan Asnoto.

Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah mengutip ayat Tuhan; “al-ulama’ waratsatul ‘anbiya’”, bahwa ulama’ itu ahli warisnya nabi. Kata “ulama’” itu Bahasa Arab yang dalam Bahasa Jawa disebut “kiai”. Sedangkan kata “ulama’” dalam Bahasa Indonesia berarti tokoh Islam yang menguasai ajaran-ajaran Islam formal. Demikian Budikarna menjelaskan penjelasan dari sahabatnya, Kangmuda’iyah. Menurut Budikarna kepada Asnoto, Kangmuda’iyah menjelaskan bahwa seorang da’i, guru, ustad dan ulama’ itu levelnya sama. Sama-sama orang yang pandai dalam ilmu agama Islam yang diperoleh dari belajar tekun berpuluh tahun. Sehingga sering kita temui Majelis Ulama’, Majelis Guru atau Dewan Guru, Majelis Ustad atau Mejelis Da’i atau Akademi Da’i, dll. Budikarna juga memaparkan, bahwa menurut Kangmuda’iyah, kiai berada di level tertinggi. Kiai adalah orang yang menguasai ilmu-ilmu Islam dan sekaligus konsisten menjalankan ilmu-ilmu Islam yang dimiliki dalam kehidupannya. Misalnya ia menguasi ilmu salat, maka seorang kiai adalah orang yang tekun bersalat, menguasai zakat, maka seorang kiai rajin berzakat, dan seterusnya. Beda dengan ulama’ dalam istilah Bahasa Indonesia, da’i, ustad atau guru, mereka menguasai ilmu salat tapi hampir dapat dipastikan dia tidak melaksanakan salat, dia menguasai ilmu zakat hampir pasti dia tidak suka berzakat, dia tahu berzina itu dosa hampir pasti dia melakukan zina.

“Wah! Kenapa demikian? Apa tidak salah pendefinisian seperti itu? Kalau begitu, selain kiai, yakni ustad, da’i, guru dan ulama’ itu semua gak beres kepribadiannya?” tanya Asnoto.

“Ya! Hampir dipastikan. Ingat! Hampir bisa dipastikan. Hampir! Ini menurut Kangmuda’iyah kepadaku,” jawab Budikarna.

Asnoto juga heran dan merasa aneh dengan penjelasan Budikarna yang merupakan penjelasan sahabatnya, Kangmuda’iayah itu. Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah menyampaikan bahwa menjadi kiai itu syaratnya tiga. Pertama; berilmu yang amat banyak dan amat dalam. Kedua; menjalankan ilmu yang telah dimilikinya dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Ketiga; punya murid atau pengikut. Ini belum satu syarat lagi yang bersifat rahasia dan paling utama.

“Apa itu?” tanya saya.

“Menurut Kangmuda’iyah, ketiga syarat jadi kiai itu sudah menjadi ketetapan. Syarat yang rahasia itu adalah puasa,” kata Budikarna.

“Ah! Itu mudah,” kata Asnoto.

“Jangan main-main!”

“Kenapa?”

“Syarat rahasia yang hanya diketahui oleh calon kiai dan Tuhannya itu, itu bukan main-main! Ini yang membedakan level kiai dengan level ulama’ dalam istilah Bahasa Indonesia, da’i, guru, dan ustad. Dengan puasa ia akan menjadi pewaris nabi yang sejati.”

“Cuma puasa mudah toh?”

“Tidak mudah! Justru di syarat inilah banyak yang gagal. Karena menurut Kangmuda’iyah, menjadi kiai itu wajib menempuh syarat berpuasa. Yakni berpuasa tidak makan tidak minum dengan “mutih”, berpuasa dengan mengurangi bicara, berpuasa mengurangi tidur, berpuasa tidak menyimpan harta benda selain hanya untuk dibagi-bagikan kepada orang lain, berpuasa tidak mau dipuji, berpuasa dari rasa paling bisa dan paling suci, berpuasa tidak berkuasa dan dekat dengan penguasa. Dan itu dikerjakan selama 25 tahun. Bayangkan! 25 tahun!”

Asnoto takjub.

“Apakah Gung So sudah menjalani hal itu?”

“Betul. Gung So menjalani itu, bahkan ia menjalani seumur hidupnya, itulah yang menempatkan dia sebagai kiai yang paling agung di pelosok Jawa ini. Dan ketika di pasar, Gung So sering berkata ‘saya bukan kiai, saya orang biasa. Yang kiai itu romo saya pendiri pesantren, saya cuma meneruskan saja’, begitu kepada setiap orang bahkan kepada santrinya.”

Budikarna juga menjelasakan, bahwa setelah Kangmuda’iyah memaparkan perihal syarat-syarat menjadi kiai itu, Kangmuda’iyah juga menyampaikan sesuatu yang paling serius kepada Budikarna.

“Apa?” tanya Asnoto.

“Kangmuda’iyah menyampaikan kepadaku, bahwa sekarang sudah tidak ada kiai. Di antara sejuta orang yang disebut kiai, yang betul-betul kiai sejati “waratsatul ‘anbiya’” itu mungkin cuma satu, itu pun sudah amat setengah sinting kita untuk bisa menemukannya,” jawab Budikarna.

Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah menyedot rokok kreteknya kuat-kuat. Lalu, dengan tenang ia menancapkan susuk di dahi Yurtani, tetangga Budikarna di Rogojampi. “Bismillah… yang punya kehendak hanya Tuhan, ini hanya alat,” kata Kangmuda’iayah.

Banyuwangi, 2010

Sabtu, 09 Oktober 2010

Para Ahli Kubur dari Jombang

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Selasa, 24 Februari 2009 | 15:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Tulisan ini saya bikin dengan asumsi dasar bahwa para pembaca percaya ada Allah dengan kekuasaan-Nya. Di salah satu tayangan televisi, muncul seorang kiai dengan nasihat sangat bijak, kurang-lebih begini: “Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt….”


Sangat pendek tapi cespleng. Media massa sangat mengerti kecerdasan masyarakat, sehingga cukup pendek saja. Setiap yang mendengarkan fatwa itu meneruskan sendiri dalam hati dengan logikanya: “Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik.”


Ya Allah ya Rabbi ya Karim, wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Kalau Nabi Musa pegang tongkat, bersama pasukannya dikejar tentara Firaun, mendapat perintah dari Allah, “Pukulkan tongkatmu ke air laut!” Lantas laut terbelah, pasukan memasuki belahannya, kemudian Firaun dan tentaranya mengejar ke belahan itu, namun tenggelam karena air menutup kembali, mohon dengan sangat jangan simpulkan bahwa yang dipegang Musa itu “tongkat sakti”, sehingga Nabi Musa juga “Maha Dukun” yang sakti.


Mohon dengan sangat, jangan rumuskan bahwa tongkat Nabi Musa mampu membelah laut, mampu menerbitkan mata air dari batu kering, meskipun insya Allah bisa bikin pecah kepala kita. Apalagi lantas dengan metodologi ilmiah tertentu, para pakar meneliti tongkat itu mengandung zat dan energi apa sehingga air samudra terbelah olehnya. Kalau besok paginya Anda minta kepada Nabi Musa untuk membelah air laut lagi, percayalah air laut tak akan terbelah. Sebab, yang membuat laut terbelah bukanlah Musa atau tongkatnya, melainkan perintah atau perkenan Allah.


Lha Allah ini pemegang saham dan the only resources dari seluruh “alam semesta ini dengan segala ketentuan hukum dan perilakunya”. Hak absolut Allah untuk menyuruh orang membelah laut dengan tongkat atau dengan meludahinya. Kalau Musa pukulkan tongkat lagi ke laut tanpa perintah-Nya, dijamin tak terjadi apa-apa. Atau besoknya Tuhan suruh Musa “Berteriaklah keras-keras!”, lantas tiba-tiba laut terbelah lagi ditambah gunung ambruk dan air sungai membalik arah arus airnya, itu sepenuhnya terserah-serah Tuhan.


Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan “tidak patheken” juga. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.


Kalau seorang suami pergi lama tugas ke kota yang jauh, sehingga bawa celana dalam istrinya, mohon jangan simpulkan bahwa dia penggemar celana dalam, kemudian Anda coba rebut celana dalam itu untuk Anda selidiki, bahwa dia mengandung zat-zat dan bebauan apa, sehingga seorang tokoh besar membawa-bawanya ke mana pun pergi. Kalau pas di kamar hotel sendirian suami itu mencium-ciumi celana dalam, mohon jangan dikonklusikan bahwa ternyata ia punya penyakit jiwa dan harus dibawa ke psikiater. Ya Allah ya Rabbi ya Karim, yang diciumi oleh suami itu bukan celana dalam, melainkan cintanya kepada sang istri dan komitmen kesetiaan di antara mereka.


Wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kalau saudara-saudaramu naik haji dan berebut mencium Hajar Aswad, itu bukan karena mereka stone-mania atau ngefans sama batu. Mereka sedang meneguhkan kesadaran bahwa mereka sangat butuh Allah dalam hidupnya, maka mereka mengukuhkan cinta kepada makhluk yang paling dicintai Allah, yakni Rasulullah Muhammad Saw. Dan karena dulu Muhammad juga mencium batu hitam itu, padahal jelas beliau tidak punya hobi makan batu, maka mereka menyatakan di hadapan Allah cinta mereka kepada Muhammad. Mudah-mudahan dengan itu mereka kecipratan cinta Allah kepada Muhammad, sehingga Allah memperlakukannya sebagai bagian dari yang paling Ia cintai.


Kabarnya Nabi Musa ketika memimpin pasukan kejaran Firaun itu mendadak sakit perut di tengah lari-lari. Musa mengeluh kepada Allah, dan Allah memerintahkan agar Musa naik bukit ambil daun dari sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum menyentuh daun, perutnya sudah sembuh. Tolong jangan ambil konklusi “Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh”. Musa balik ke pasukannya, mendadak sakit perut lagi. Ia langsung naik ke bukit, tapi sesudah makan sekian lembar daun perutnya tak sembuh-sembuh juga. Musa protes kepada Allah. Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: “Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban. Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina, Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku…. Berapa lama sebuah anugerah Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku.”


“Datanglah ke dokter, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana pun kepada siapa pun. Asalkan kau tak posisikan mereka semua pada maqam-Ku. Engkau berlaku musyrik atau tidak, terletak tidak pada pil dan dokternya, tongkat dan Musa, air dan kiai, atau batu dan siapa pun yang kutitipi batu sejenak. Letak syirik ialah pada pola pandangmu, pada cara berpikirmu. Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku….”


Tiba-tiba aku dibentak oleh sebuah suara: “Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau sok-sok berlagak mengurusi NKRI!” Terperangah aku. Terpaksa kupotong di sini tulisanku ini, sebab aslinya panjang sekali. Kucari siapa berani-berani membentakku. Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: “He! Perhatikan itu para ahli kubur dari Jombang!” Ahli kubur? Aku tak ngerti.


“Kemarin pandangan-pandangan dan anggapan-anggapan dalam hidupmu dikubur habis oleh mutilasi-mutilasi dari tangan seorang yang tersisih secara sosial, yang menderita secara kejiwaan, yang terasing secara politik dan sejarah. Sekarang kalian sedang dikubur oleh sebongkah batu yang nenek itu menyebutnya Watu Gludug, yang dititipkan beberapa waktu kepada anak SLB yang kesepian dan menderita tatkala dipindahkan ke SD. Pelajarilah hari-hari besok dengan meluangkan waktu memperhatikan siapa saja dari tempat itu yang tingkat ketersisihan dan keteraniayaannya lebih dahsyat….” Mendadak ada suara lain yang membungkam suara itu: “Husysy! Shut up!” *

Emha Ainun Nadjib, budayawan

Jumat, 08 Oktober 2010

Para Penjaga yang Luhur (Cerita Kecil Jumali Misjumo)

Di tahun 70-an, Jumini pernah ikut grup kasidah dan tergabung dalam wadah kesatuan penyiaran radio amatiran di Rogojampi. Waktu itu, ia masih belia dan menjadi santri "nyolok" di surau Kiai Mudak. Grup kasidah pimpinan Kiai Mudak itu melantunkan lagu "Udan Awu", yang bersenandung:

Udan awu ulan syawal ojo lali

Meletuse gunung agung pulo Bali

Peteng dedet awan koyok rino wengi

Mergo akeh umate wes podo lali

Di wilayah Wongsorejo, paman dari Jumini, Kakrikwan juga memimpin grup ketoprak dengan bahasa Madura. Kakrikwan sendiri sering tampil menjadi aktor antagonis. Kakrikwan beserta grupnya yang berada di bawah naungan Lesbumi itu, seringkali diundang pentas oleh warga.

Di Wongsorejo, justru kiai salaf, Kiai Zin, yang sangat menyukai kesenian tradisional itu. Grup yang dipimpin Kakrikwan pun sebagian mementaskan lakon-lakon sejarah Islam seperti "Umar Masuk Islam", "Yusuf Jadi Raja", dll. Kakrikwan juga mendirikan stasiun kecil radio amatiran yang bertempat di sebuah masjid, Masjid (A)Gung Wongso, namun sayangnya kini masjid itu diganti nama menjadi Masjid Jami' Baiturrahim. Nama Bahasa Arab dan tentu saja bukan bahasa Islam.

Waktu terus mengelinding seperti kelereng yang meluncur di lantai. Nama-nama legendaris dan yang tak tercatat dalam catatan mana pun, masih terkenang pula di dada, kadang-kadang tawa mereka yang berderai putih masih melintas di setiap sudut ingatan.

Kakrikwan bahkan pernah hendak dikeroyok oleh santri-santri Kiai Zin dan masyarakat sekitar pesantren. Waktu itu Kiai Zin "nanggap" grup ketoprak Kakrikwan dalam rangka memperingati malam 1 Muharam di pesantrennya. Grup kebanggaan dan juga yang menempatkan Kiai Zin sebagai penasehat sekaligus donatur tunggalnya itu, mementaskan lakon "Umar Masuk Islam" dengan Bahasa Madura. Kakrikwan berperan sebagai Umar. Dan ketika Umar Kakrikwan pulang, ia mendapati anak perempuannya sedang membaca Qur'an. Umar yang Kakrikwan marah besar. Jumini yang berperan sebagai putri Umar itu, ditampar oleh Umar yang Kakrikwan di atas pentas. Dengan logat Madura serta perannya yang sangat meyakinkan, Umar merampas lalu merobek sehelai mushaf Al-Qur'an yang dibaca putrinya itu.

"Kurang ajar! Kamu ikut Muhammad hah?!" sambil Umar yang Kakrikwan itu menampar kembali pipi putrinya. Nah para penonton yang umumnya adalah santri dan masyarakat sekitar pesantren hanyut dengan peran watak yang dimainkan Kakrikwan. Sehingga sekitar 50-an orang serentak berdiri menyerbu ke depan panggung dengan penuh amarah hendak menyerang Umar bin Khattab yang diperankan oleh Kakrikwan. Melihat penonton yang emosional karena terhanyut oleh jalan cerita dan peran Kakrikwan yang sempurna itu, spontan Kiai Zin berlari, melompat ke atas panggung mendahului penonton. Kakrikwan bingung, dia melambaikan tangannya menghentikan orang-orang.

"Berhenti! Berhenti! Jangan marah, ini 'kan cuma sandiwara. Tidak sungguhan," kata Kakrikwan menenangkan orang-orang.

"Tenang. Tenang. Ini hanya drama, bukan sungguhan. Ayo saudara-saudara kembali ke tempat masing-masing, biarkan pertunjukan selesai," ujar Kiai Zin. Suaranya wibawa, dan orang-orang sadar, bahwa sesungguhnya mereka tengah menyaksikan sandiwara. Orang-orang itu pun kembali ke tempatnya masing-masing sambil menyadari kekonyolan mereka. Dan pertunjukan pun sampai selesai, hingga Umar bin Khattab yang diperankan Kakrikwan masuk Islam.

Waktu itu pun telah jauh ditinggalkan. Nama-nama para penggiat kesenian rakyat itu pun sudah tua, sebagian telah tiada. Namun wajah dan suara mereka terus masih menggema di relung tiap hati dan ingatan yang dalam, di tiap kenangan, di tiap perjalanan.

Jumali menyalakan kreteknya, ia mengakhiri ceritanya.

Banyuwangi, 2010
Taufiq Wr. Hidayat

Selasa, 05 Oktober 2010



Aja Ngutal Negara
Oleh: Butet Kertaredjasa

Banyuwangi, Kebudayaan, dan Kecemasan

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


"It is natural necessity, essential human properties, however alienated they may seem to be, and interest, that old the members of civil society together; civil, not political life is their real tie… only political superst...ition today imagines that social life must be held together by te state hereas in reality the state is held together by civil life."

Marx bertekankan pada “bourgeois civil society” dan kekuatan internalnya, memostulatkan keunggulan ekonomi atas politik. Civil society adalah ranah kelas, ketidaksetaraan dan eksploitasi, dan bentuk basis alamiah negara modern. Analisis ekonomi bahwa perkembangan kapitalisme (secara material, teknologis, dan ekonomis) dan perkembangan masyarakat borjuis (secara kultural, saintifik, dan intelektual) mencapai fase historis di mana kondisi obyektif bagi transisi ke fase lebih tinggi hadir. Apa yang diperlukan adalah pengembangan kesadaran politis/kelas dalam kelas proletar, kesadaran yang selalu gagal dikembangkan dan dibangun. Bertolak dari fakta inilah revisi terhadap formulasi orisinal Marx dan Engels dilakukan, misalnya reformisme dan demokrasi sosial oleh Eduard Bernstein dan SPD, developmentalisme evolusioner Karl Kaustsky, dan Bolshevisme Lenin.

Paling tidak dalam rekontruksi pemikiran Anthonio Gramsci, gagasan modern civil society diawali dengan menyurutnya pengaruh kekuasaan Gereja Katolik, lahirnya perlawanan terhadap feodalisme, dan tumbuhnya kelas borjuis baru di Eropa, yang lahir bersamaan dengan zaman Rennaisance. Karya politik yang menandai ‘perpisahan’ ilmu politik sebagai ilmu tentang kekuasaan dan lepas dari moralitas adalah The Prince dari Machiavelli. Lalu di saat bersamaan bermunculan aneka gagasan mengenai state of nature manusia, kebebasan, dan masyarakat. Hukum alam (the natural law) dan hak alamiah (the natural right), dibangun tidak lagi berdasarkan teori hukum kodrat Thomas Aquinas di abad Pertengahan. Baik Hugo Grotius, Pufendorf, Thomas Hobbes, maupun John Locke menggagas hal yang sama sekali berbeda, yakni hukum kodrat dan hak alamiah kini dipahami dalam konteks bahasa kontraktualisme, individualisme, kebebasan, dan prioritas pada hak milik pribadi. Secara teoritis ini juga menandai transisi dari zaman Medieval ke pemikiran politik modern dan transisi dari masyarakat tradisional dan feodal ke masyarakat modern dan borjuis.

Baik Hobbes maupun Locke, menggambarkan kondsi pra-sosial atau keadaan alamiah yang diliputi ketidakpastian. Khususnya Hobbes, keadaan alamiah adalah perang sehingga terkenallah ungkapannya, ‘perang semua melawan semua.’ Ia menggambarkan keadaan alamiah di mana manusia secara ekstrem individual mutlak dan hidupnya diliputi konflik. Ini menandai keretakan atau diskontinuitas dengan keyakinan nilai moral tradisional, yakni relativisme moral dan pengedepanan nilai-nilai pasar. Kedaulatan mutlak individu dan etika yang didasarkan pada kepentingan diri membutuhkan bangunan negara yang kuat untuk menjamin keamanan, kepastian relatif, dan kemungkinan antisipasi bagi hadirnya civil society. Pergeseran dari kondisi alamiah menuju civil society ini dicapai melalui tegaknya “Leviathan” atau “mortal God” yang bernama Negara. Bagi Hobbes fungsi normal civil society – produksi dan pemerolehan property baik akumulasi modal ataupun ekspansi pasar, budaya, seni, dan hal-hal umum yang dibutuhkan dalam kehidupan – tergantung pada negara yang kuat. Artinya negaralah yang membuat eksistensi civil society menjadi mungkin.

Civil society yang dibatasi sebagai ranah Non-Govermental Organization (NGO) sebagai antidote dari negara. Civil society sebagai ide ‘kiri’ yang dijadikan keranjang sampah alibi keburukan dan kegagalan mengelola tata pemerintahan neoliberalisme-kapitalistik. Civil society yang tetap kabur dan masih dicari kejelasannya, untuk tidak mengatakannya sebagai gagasan yang sungguh tidak jelas batasannya. Civil society yang diterjemahkan dan disamakan begitu saja dengan istilah teknis lain misalnya ‘masyarakat madani’ tanpa sudi melihat lebih jauh kompleksitas masalah, kandungan substansi, dan historisitas lahir dan berkembangnya gagasan tersebut.

“The Class of Civilization” Huntington memanglah menjadi sebentuk teori sosial dan militer yang cukup berpengaruh. Namun juga perlu dikritisi, bahwa tidak sepenuhnya ia adalah benar dan penulis di bidang strategi perang dingin dan militer itu, Huntington, telah meletakkan teorinya dalam sebuah bidang segi empat keadilan. Paling tidak, Gus Dur pernah “menyerang” Huntington, bahwa pemikiran Prof. Samuel Huntington tentang konflik peradaban Islam-Barat merupakan teori keliru, karena konflik itu ternyata tidak pernah terjadi, baik sekarang maupun di masa mendatang. Ini artinya, ada hal lain yang membayang-intimi persoalan manusia di luar sebuah “class” itu sendiri, yakni ambisi politik yang “mengkeranjang-sampahkan” demokratisasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Terlepas dari itu, pada dasarnya itu bukan sebuah benturan, melainkan dimensi lain, lebih pada persoalan politik yang direkayasa. Bukan alamiah. Pengapdosian budaya dan pemikiran bangsa satu dari bangsa lain, dapatlah terjadi secara alamiah. Namun proses “menjadi”nya tidak lepas dari perkara politis yang diinjeksikan oleh kekuasaan dan market sejarah. Saya lebih percaya membaca “Arus Balik”nya Pramoedya Ananta Toer yang telah sedemikian jeli dan masuk ke dalam persoalan ini melampaui Huntington, yakni sebentuk perkaitan antara sejarah dan segala hal “yang sangat” geografis.

Hal ini pun bisa kita amati di Banyuwangi dan dinamika masyarakatnya, seni, budaya, kesejahteraan, dan hal-hal yang dengan demikian terkait atau untuk kemudian dikaitkan. Jadi, seperti apa negara? Banyuwangi? Yang jelas, ini mungkin bukan lagi urusan gastronomi, di mana orang-orang memainkan sesuatu yang tak dimengerti, seperti politik. Makna sudah tidak lagi menjadi kebutuhan yang penting. Ada yang mengejar bayangannya sendiri kemudian mengutuk tubuhnya. Franz Kafka menulis aporisma dalam catatannya. Tapi, sebaiknya kita tidak mempersoalkan nyaman tidak nyaman dalam melakukan kerja kesenian. “Seni itu soal selera saja,” kata Dwi Pranoto sambil meneguk kopinya, itu mungkin juga aporisma.

Kebudayaan Banyuwangi di tengah gelombang penggerusan waktu. Perjalanan kebudayaan, sebagaimana telah dinisbahkan dalam sebentuk kecemasan para penganut budaya tradisional, seringkali membentur dinding yang kelam. Air mengalir dan angin berhembus. Segalanya berjalan sebagaimana kesemestian yang telah digariskan oleh yang di luar kuasa akal. Analogi air dan angin, barangkali menjadi sebentuk keniscayaan di dalam menghayati tradisi dan budaya. Demikian hendak disampaikan WS. Rendra dalam "Mempertimbangkan Tradisi"-nya. Menimbang tradisi tentu saja bermula dari kehendak teknis menyelaraskan pelbagai komponen tradisi itu dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kontekstualisasi ruang dan waktu. Bagaimana dengan Banyuwangi dan kebudayaannya? Ada pemisahan di sini, kenapa harus "Banyuwangi" dan "budaya"?

Menangkap dinamika dan dimensi tentang Banyuwangi, budaya, dan kesejahteraan rakyatnya. Empat unsur yang tidak mungkin dipisahkan: Banyuwangi, budaya, masyarakat, kesejahteraan. Saya pikir, cukup sulit mencari seorang tokoh yang mendetil ke arah ini, ini memerlukan kesungguh-sungguhan. Tradisi lokal sebagai anasir atau unsur pembangun kebudayaan nusantara, mesti memasangkan diri sebagai sebentuk organisme yang senantiasa berkembang dan terbuka untuk diletakkan pada ruang tafsir yang multiinterpretatif. Ini menjadi penting untuk menimbang dan menghayati tradisi sebagaimana air yang mengalir dan angin yang berhembus. Ada apa-apa yang yang musti kita pertahankan dan ada apa-apa yang musti kita buang-lupakan, dan untuk itu kita tidak perlu menampakkan respon sikap yang fatalistik. Mengkaji dan menempati jatidiri, jauh dari slogan dan sikap benarnya sendiri dan merasa yang paling mewakili rakyat.

Adakah pemimpin yang mengerti akan hal ini, yang di dalam otak dan jiwanya bukan melulu "ambisi" dan "materi"? Mudah diucapkan, sulit dicari dalam kenyataan sehari-hari, bukan?


Banyuwangi, 2010

Kamis, 30 September 2010

Mencatat Kecemasan

Bulan September memberi sedikit gerimis pada dini hari.
Langit malam.
Dan kita yg tidak perlu mencari makna.
Sia-sia.
Duka.
Mati iseng sendiri, kata Chairil.

Musim-musim berlumut di dada.
Malam rebah, mata lelah, bulan merah tua.

Sekali waktu, jendela masih terbuka.
Kita menutupnya karena takut angin menyusup ke sana.
Dinding demam.
Dan kita yg tak hentinya bertanya.
Segala jawab hanya cemas, pada segala yg bergegas.
Terus bergegas, menguping bisikan dunia.
Kita pun terpana.

2010
Taufiq Wr. Hidayat

Rabu, 29 September 2010

Yang Dipersalahkan

Dari sudut-sudut kegalauan, dirasanya kegetiran. Juminto terpaku. Dinding demam, lambungnya perih, dia tak makan sudah tiga hari. Ia telah dipersalahkan sebagai penyebab terjadinya bencana itu dan menciptakan nasib buruk bagi orang-orang yang tak bersalah.

Juminto benar-benar merasa sendiri, tak ada seorang pun yang membelanya, semua mempersalahkannya, menghujat dan mengutuknya. Padahal apa yang dilakukan Juminto adalah wujud baktinya terhadap tugasnya sebagai manusia biasa. Juminto hanya ingin mengabarkan kenyataan dan pencerahan, dan dia tidak menduga sebelumnya bahwa itu akan menimbulkan dampak sakit hati sehingga membakarkan kebencian para pendendam. Para pendendam berkomplot, membabi buta. Mangsa-mangsa para pendendam itu bergelatakan. Para pendendam bagai segerombolan singa yang memburu ayam kampung, menerkam bebek, dan mengunyah tikus. Tidak ada perhitungan. Tidak menimbang martabat.

"Sangat tidak bermartabat seekor singa memburu ayam, menerkam bebek dan mengunyah tikus," kata Juminto pada dirinya sendiri.

Tapi, kini Juminto benar-benar telah dipersalahkan atas segala bencana itu, atas segala membabi butanya para pendendam yang hanya akan tertawa puas setelah menelan kuping mangsanya yang telah membuat mereka sakit hati. Juminto sendirian. Batinnya tertekan, gairah hidupnya tertawan, dan tubuhnya lemas di antara dinding-dinding lembab, kelam, dan demam. Juminto merasa seolah semua mata mengawasinya dengan penuh curiga, benci, dan hendak menghabisi. Jari-jari Juminto dingin bagai tangan mayat. Lambungnya perih. Tak ada yg memujinya, membela atau menemaninya. Segala kesalahan tertimpa kepadanya. Juminto merasa tidak aman, merasa diincar, dan terancam.

Juminto sudah tidak bisa apa-apa. Dia, Juminto, yang terkutuk. Bahkan dirinya sendiri pun mengutuknya. Dinding-dinding kelam dan demam. Dingin dan padam. Juminto telah ditinggalkan. Jauh ditinggalkan dan dilupakan, namun yang diingat orang hanya tindakannya yang 'sok pahlawan' itu yang telah memicu moncong-moncong dendam dan sakit hati, memancing keluarnya amarah para pendendam, para pemburu buas yang haus mangsa yang tak sebanding itu. Juminto telah diasingkan. Ditiadakan. Tidak layak ada. Tidak penting. Tidak perlu ada. Terbuang. Terkutuk. Laknat. Bangsat. Celeng.

Juminto merasa tak layak hidup lagi. Segala dari dirinya tak ada yang baik. Semua adalah bencana. Juminto memejamkan matanya. Dia menemukan gelap, merasa lapar, dan demam.

Taufiq Wr. Hidayat
29 September 2010