Selasa, 02 November 2010

YANG DIPERSIDANGKAN


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

“HADAPKAN!” kata hakim ketua yang berkumis tebal dan agak memanjang di kedua sisinya itu.

“Saya hadapkan, Yang Mulia,” jawab seorang petugas kejaksaan. Baju dinasnya nampak sudah kekecilan. Dia membimbing seorang saksi kurus tinggi berpipi cekung itu ke muka.

“Nama Saudara Jumpalto Nartomo alias Jumo. Pekerjaan wiraswasta. Agama Islam. Betul?”

“Betul itu saya, Yang Mulia.”

“Bersumpah.”

Petugas kejaksaan bertubuh pendek gemuk dengan seragam dinas yang sudah kekecilan meletakkan kitab suci agama Islam di atas kepala Jumo.

“Ikuti yang saya ucapkan…”

Saksi Jumo belum duduk.

“Selesai, Yang Mulia.”

“Bagus. Suruh dia duduk.”

“Duduk.”

“Saya duduk, Yang Mulia.”

Saksi itu duduk. Pipinya cekung. Badannya kurus. Tinggi. Ia duduk di kursi kecil, menghadap hakim. Ia duduk bagaikan sebatang tiang yang melengkung.

“Saudara telah disumpah. Dengan demikian, tiap kata tiap huruf yang keluar dari mulut Saudara harus benar dan berdasarkan kebenaran. Saudara juga jangan keliru meletakkan titik koma dalam intonasi suara persaksian Saudara, karena itu akan menimbulkan penafsiran lain yang bisa menyesatkan. Saudara harus mengatakan semuanya dengan benar dan senyata-nyatanya. Saudara tidak diperkenankan berbohong sama sekali, sedikit pun. Kalau berbohong di hadapan hukum, Saudara akan terkena pasal kesaksian palsu, berat sanksi yang akan Saudara terima. Dan tentu saja Saudara tidak akan berani berbohong, bukan? Karena pastinya Saudara takut dikutuk oleh Tuhan dari agama Saudara sendiri. Maka sebagai hamba hukum, Saudara wajib mengabdi kepada hukum, wajib jujur, benar, dan wajib menyatakan segala yang telah Saudara saksikan dengan sebenar-benarnya dan dengan senyata-nyatanya. Saudara mengerti?”

“Mengerti, Yang Mulia.”

“Bagus. Sekarang silahkan Saudara ceritakan bagaimana perbuatan melanggar hukum itu terjadi dan dilakukan oleh terdakwa yang duduk di sebelah Saudara itu?”

“Waktu itu…”

“Sebentar,” hakim mengetuk palu sekali, “sebelum dilanjutkan, saya tanya; Saudara dalam keadaan sehat? Sadar? Saudara benar tidak gila? Saudara wajib tidak berbohong!”

“Saya sehat, Yang Mulia. Sadar. Dan tidak merasa sedang gila.”

“Bagus. Saudara kenal dengan terdakwa ini? Dia bukan famili Saudara?”

“Saya tidak mengenal terdakwa, Yang Mulia. Karena kenal saja tidak, mana mungkin lantas dia menjadi famili saya? Benar dan sudah jujurkah jawaban saya, Yang Mulia?”

Hakim diam sebentar. Dia tampak menelaah sejenak jawaban saksi di depannya, dahinya mengerut sedikit. Kemudian tidak berselang, hakim menjawab dengan rona wajah gembira seolah baru menemukan sesuatu yang dicari-cari.

“Ya. Masuk akal juga! Mana mungkin terdakwa itu adalah famili Saudara lha wong kenal saja Saudara tidak? Ya! Benar! Saudara sudah jujur! Itu bagus. Lanjutkan cerita Saudara.”

Yang dipersaksikan, Jumo membenahi kerah bajunya yang separuh belum terlipat, mungkin tadi dia lupa. Bajunya tidak diseterika. Dia memulai ceritanya.

“Waktu itu malam, Yang Mulia. Saya juga tidak mengerti mengapa kejadian itu di waktu malam, Yang Mulia. Saya melihat dia, Yang Mulia. Dia mengendap-endap di pekarangan rumah hakim Pak Sumali, Yang Mulia. Saya di balik semak, Yang Mulia. Mengintip dia, Yang Mulia. Dia tidak tahu kalau saya mengintipnya, Yang Mulia. Betul-betul, Yang Mulia. Kemudian….”

“Berhenti!” hakim mengetukkan palu sekali, “saya minta Saudara tidak perlu menutup tiap kalimat Saudara dengan kata “Yang Mulia”. Ceritakan saja. Saudara terlalu banyak menyebutkan kata “Yang Mulia”, itu sangat mengganggu konsentrasi saya mendengarkan kesaksian Saudara.”

“Benar, Saudara. Jangan begitu,” kata hakim anggota yang duduk di sebelah kiri hakim ketua yang memegang palu.

“Ya,” kata hakim anggota yang duduk di sebelah kanan hakim ketua yang memegang palu sambil menganggukkan kepala. Tersenyum sedikit dengan kesan yang berwibawa.

“Sudah! Lanjutkan, Saudara.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Ya. Bagus.”

“Malam itu. Saya sekali lagi tidak paham kenapa kejadian itu pada suatu malam. Saya menyaksikan dengan dua mata kepala saya sendiri, terdakwa ini mencongkel pintu rumah mewah milik hakim Pak Sumali, Yang Mulia. Saya tidak tahu Pak Sumali itu sebenarnya adalah seorang hakim. Yang saya tahu, Pak Sumali itu bekerja di kantoran karena tiap pagi dia keluar dengan mengenakan baju seragam kantor. Saya baru tahu kalau Pak Sumali itu seorang hakim setelah di persidangan ini, Yang Mulia. Sehingga saya tidak paham apa niat terdakwa mencongkel pintu rumah Pak Sumali. Waktu itu, saya pikir terdakwa ini hanya seorang pencuri. Terdakwa tidak tahu kalau saya secara diam-diam, tanpa disadari oleh terdakwa, mengintip perbuatannya. Saya memberanikan diri memasuki halaman rumah hakim Pak Sumali. Saya mengintip lewat jendela samping. Tapi, saya tidak berhasil melihat ke dalam. Saya mengendap lagi ke belakang rumah. Saya memilih tidak berteriak untuk membangunkan warga, sebab jujur saja, saya penasaran terhadap apa yang akan diperbuat terdakwa. Lagi pula, saya bukan termasuk orang yang suka dengan hal-hal ramai, Yang Mulia.”

“Itu tidak benar, Saudara!” kata hakim menyela, “semestinya saudara harus mencari bantuan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat! Membiarkan tindak pidana terjadi itu juga terkena pasal. Ini hukum, Saudara. Saudara jangan main-main! Silahkan lanjutkan.”

“Baik, Yang Mulia. Anehnya, malam setelah terdakwa berada di dalam rumah, lampu ruang tamu rumah hakim Pak Sumali menyala. Saya tahu dari luar. Saya terus mengintip lewat kaca rumah mewah. Saya tidak bisa melihat ke dalam. Saya mencari celah lain. Akhirnya saya menemukan sepotong jendela kaca yang selambunya tersibak sedikit, mungkin selambu itu tersibak karena angin, Yang Mulia. Saya kaget, ternyata terdakwa duduk berbicang dengan hakim Pak Sumali di ruang tamu, mereka berbicara serius, Yang Mulia. Lamat-lamat saya mendengar hakim Pak Sumali berbicara dengan suara seperti menahan marah: ‘kenapa kamu main congkel pintu rumah?’ kata Pak Sumali.”

“Baik. Ceritakan semua dengan seditil-detilnya!” kata hakim.

“Baik, Yang Mulia.”

Jumpalto Nartomo alias Jumo pun bercerita mengenai peristiwa kriminal malam itu di rumah hakim Pak Sumali. Ketiga majelis hakim mendengarkan dengan tenang. Terdakwa Misnawi duduk dengan kepala menunduk. Ketiga orang jaksa penuntut umum dan pengacara bersongkok putih juga memasang kuping mereka baik-baik. Pencatat sidang siaga dengan alat tulisnya.

***

“Misnawi, kenapa kamu main congkel pintu rumah?” tanya hakim Pak Sumali setelah keluar dari pintu kamarnya dengan nada yang menahan marah.

Misnawi duduk dengan tenang di kursi tamu hakim Pak Sumali. Hakim Pak Sumali menyalakan lampu besar, sebelum lampu besar itu dinyalakan, ruangan itu diterangi lampu kecil.

“Duduk!” jawab Misnawi.

“Kamu keterlauan!” hakim Pak Sumali duduk.

Hakim Pak Sumali dan Misnawi berhadap-hadapan.

“Saya tidak perlu memakai sopan santun untuk hakim macam kamu!” kata Misnawi.

“Kamu tidak bisa begitu! Kamu tidak bisa sewenang-wenang! Masalah hukum adikmu sudah saya ringankan,” jawab hakim Pak Sumali.

“Apa?! Diringankan?! Mana diringankan?!”

“Dia saya vonis hanya 2 tahun penjara. Itu belum potongan hukuman. Tidak sampai dua tahun, adikmu akan bebas.”

“Tidak! Itu bukan kesepakatan kita! Saya minta adik saya dibebaskan dari segala tuduhan dan ancaman hukum.”

“Itu tidak mungkin! Pelanggarannya berat. Vonis dua tahun itu sudah ringan bagi dia yang terancam hukuman 15 tahun penjara.”

“Tapi, itu bukan kesepakatan kita! Anda telah mendapatkan apa yang Anda inginkan, sedangkan saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan. Dan untuk itu, Anda harus membayarnya!”

Misnawi bangkit. Dia mencabut belati yang ia selipkan dipunggungnya. Belati itu mengkilap terkena cahaya lampu besar. Hakim Pak Sumali juga bangkit. Dia masih mengenakan pakaian tidur.

“Kamu mau apa?”

“Membayar Anda dengan belati.”

Misnawi melompat. Hakim Pak Sumali dengan sigap menghindar. Dia berlari ke arah kamarnya. Misnawi mengejar. Hakim Pak Sumali menutup pintu kamarnya. Misnawi terlambat, dia masih di luar dan hakim Pak Sumali sudah di dalam kamar. Kamar dikunci oleh hakim Pak Sumali. Misnawi terbakar, dia menendang-nendang, mendobrak-dobrak pintu kamar. Pintu kamar terlalu kokoh. Pintu kamar tidak roboh. Istri hakim Pak Sumali sudah bangun. Hakim Pak Sumali membuka laci bawah meja rias istrinya. Hakim Pak Sumali mengeluarkan pistol dari dalam laci. Jumo tidak mengetahui kejadian di dalam kamar. Dia hanya mengintip lewat kaca jendela yang selambunya tersibak sedikit oleh angin. Jumo hanya mendengar bunyi pintu didobrak oleh kaki Misnawi. Jumo berhasil mendengarkan pembicaraan keduanya tadi. Jumo takut, ia melompat ke semak-semak. Ia lari.

***

“Apakah yang Saudara katakan merupakan suatu kebenaran?” tanya hakim.

“Suatu kebenaran, Yang Mulia. Saya tidak mau melanggar sumpah. Saya tidak ingin dikutuk Tuhan karena berkata bohong dalam persidangan ini, karena saya sudah disumpah, Yang Mulia.”

“Bagus. Sekarang lantas jika kejadian itu sedemikian tragis dan mengerikan, kenapa jaksa penuntut umum ini hanya mengancamkan pasal yang ringan kepada terdakwa Misnawi? Misnawi hanya diancam 1 tahun penjara. Padahal jika mengikuti cerita Saudara, seharusnya Misnawi mendapatkan ancaman hukuman 15 tahun atau seumur hidup.”

“Saya tidak mengerti hukum, Yang Mulia. Saya hanya menceritakan apa yang saya saksikan.”

“Sekali lagi saya bertanya kepada Saudara, sudah benarkah kesaksian Saudara? Tidak bohong? Kalau bohong, Saudara akan dikutuk Tuhan agama Saudara sendiri. Dan ada pasal dengan sanksi hukuman yang sangat berat untuk sebuah kesaksian palsu. Ingat, Saudara! Ini negara hukum, setiap sesuatu sekecil apa pun harus diselesaikan dengan proses hukum, bukan kebohongan atau dendam. Ingat!”

“Saya selalu ingat, Yang Mulia.”

“Bagus.”

Hakim ketua berbisik kepada kedua anggotanya yang berada di kanan kirinya. Kedua hakim anggota itu nampak mengangguk sambil sedikit tersenyum, nampaknya keduanya tidak ingin diketahui bahwa sedang tersenyum.

“Baik. Saya minta terdakwa dan seorang jaksa, juga pengacara menghadap ke depan untuk melihat barang bukti,” kata hakim ketua.

Seorang jaksa dengan baju kekecilan itu maju ke meja hakim. Terdakwa Misnawi juga maju, pengacara gemuk kepalanya mengenakan songkok putih karena ia baru pulang dari tanah suci, juga maju.

“Benar ini belati yang Anda pegang pada malam itu di rumah hakim Pak Sumali?”

“Bukan, Yang Mulia,” jawab terdakwa Misnawi.

“Apa? Bukan?!”

“Benar! Betul-betul bukan, Yang Mulia.”

“Bagaimana, Saudara Jaksa?”

“Ini bukan belati milik terdakwa Misnawi, Yang Mulia. Misnawi mempunyai belati lain, Yang Mulia.”

“Lalu ini milik siapa? Mana belati yang lain?”

Terdakwa Misnawi, jaksa dan pengacara yang baru pulang dari tanah suci saling pandang penuh heran. Ketiga hakim itu pun saling pandang penuh heran.

“Lalu ini belati milik siapa? Kenapa sampai di persidangan jika belati ini memang bukan barang bukti yang meyakinkan? Bagaimana proses penyidikan? Mana belati yang lain?”

Terdakwa Misnawi, jaksa dan pengacara yang baru pulang dari tanah suci saling pandang penuh heran.
Jumo mencoba mengamat-amati belati itu.

“Baik. Silahkan kembali,” perintah hakim.

Terdakwa Misnawi, pengacara gemuk bersongkok putih karena baru pulang dari tanah suci dan jaksa kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Saudara Jumo.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Anda tahu ini belati milik siapa?”

Jumo mengamat-amati belati yang mengkilap bila terkena cahaya itu.

“Silahkan mendekat.”

Jumo berdiri. Badannya kurus jangkung, seolah kepalanya hendak menyundul eternit ruang persidangan. Diamat-amatinya belati itu baik-baik.

“Bagaimana, Saudara?”

“Belati ini seperti pernah saya lihat, Yang Mulia.”

“Apakah ini belati yang dibawa terdakwa Misnawi pada malam itu, Saudara?”
Jumo menamatkan pengamatannya. Diam. Dia mengingat-ingat dengan keras dan bersungguh-sungguh.

“Belati ini menjadi kunci masalah. Siapa pemilik belati ini? Siapa yang telah menggunakannya? Kalau bukan milik terdakwa Misnawi, mana belati yang lain?”

Jumo diam.

“Jawab, Saudara!”

Gugup.

“Saya tidak tahu, Yang Mulia. Malam itu saya tahu terdakwa Misnawi membawa belati, tapi saya tidak mengamati dan tidak menghapal ciri-ciri belatinya itu. Sehingga saya tidak ingat, Yang Mulia.”

“Baik.”

Jumo duduk kembali di tempat duduk saksi.

Hakim ketua berbisik-bisik dengan kedua orang anggotanya. Kedua anggota hakim itu terlihat manggut-manggut pertanda setuju dan memahami sesuatu. Lalu tersenyum sinis.

“Baik. Persidangan ditunda sampai hari Kamis yang akan datang!” hakim memukulkan palunya tiga kali, kumisnya yang memanjang di kedua sisinya itu mengesankan kepahaman menguasai persoalan.

Banyuwangi, 2010

Senin, 01 November 2010

KOTA MALAM

Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Pada sebuah kota. Orang menyebut kota ini dengan sebutan: Kota Malam. Kota Malam ditinggali oleh hanya hampir 5 ribu penduduk saja. Bila siang, kota ini tidak ramai, sepi, lengang di jalanan, kau tidak akan menemukan lalu lintas yang macet, karena di samping penduduknya hanya sedikit, kota ini tidak terlalu luas. Penduduknya jarang melakukan aktivitas pada siang hari. Sekolah dan tempat-tempat publik lainnya buka di waktu malam. Aneh. Tapi, memang ini nyata. Bukan fiksi. Kecuali sekolah TK dan SD, semua buka malam. Hanya anak-anak TK dan SD yang bersekolah di waktu pagi. Anak-anak SMP, SMA, dan mahasiswa beraktivitas malam hari.

Kota kecil yang bernama Kota Malam ini terletak dekat pantai. Dari pusat kota ke pantai hanya beberapa kilo saja. Dan ketika malam, segala aktivitas dijalankan. Perkantoran dan gedung-gedung pemerintah juga layanan-layanan publik buka. Segalanya menjadi bergairah di waktu malam, seolah kehidupan dimulai ketika malam. Kau akan melihat orang-orang berkendaraan dengan riang di jalanan ketika malam, berbelanja atau berjalan-jalan. Lampu-lampu dinyalakan. Tapi anehnya, Kota Malam tidak pernah menyalakan lampu terang benerang, mereka menyalakan lampu-lampu redup. Seolah di kota ini, orang-orang takut atau alergi dengan cahaya terang dan alergi terhadap siang hari.

Aku berada di kota ini. Tentu saja secara kebetulan. Berdagang di Kota Malam. Hanya berdagang kain keliling. Dan entah bagaimana tiba di Kota Malam ini. Awalnya aku menumpang kereta menuju pulang. Tapi, terjadi keanehan yang tidak kudaga denga akal, kereta menuju ke stasiun yang bukan tujuanku. Tiba-tiba malam, aku terbangun oleh bunyi suara pengeras suara yang mengumumkan: "Selamat datang di Stasiun Kota Malam. Jangan lupa barang-barang Anda. Selamat menikmati malam di Kota Malam, kota impian, kota sejuta kesenangan. Hati-hati dengan cahaya." Aku terbangun. Ini bukan tujuanku. Aku mulanya tidak mau turun. Tapi, petugas kereta menegurku: "Silahkan turun dan bertamasyalah di Kota Malam. Anda bisa langsung naik angkutan atau ojeg ke pusat Kota Malam. Kereta tidak akan diberangkatkan lagi," kata petugas kereta itu sambil tertawa, giginya hitam dan tidak menyenangkan. Terpaksa, aku turun. Naik ojeg dengan barang-barang daganganku. Kupikir baiklah berdagang di Kota Malam.

Sebulan sudah aku tinggal di Kota Malam ini. Aku tidur di sembarang tempat. Aku tidak perlu mengontrak kamar karena itu akan mengurangi laba daganganku. Laba berjualan kain tidak banyak, kain bukan barang dagangan yang laris. Orang-orang lebih baik membeli baju jadi di toko daripada membeli kain untuk kemudian dijahit menjadi baju atau celana. Aku bisa tidur di teras rumah entah rumah siapa. Dan waktu tidurku pun terbalik, aku tidur di waktu siang, karena di malam hari aku harus berdagang. Orang-orang di Kota Malam ini beristirahat di waktu siang dan beraktivitas di waktu sejak matahari tenggelam hingga matahari terbit. Tidak ada angkutan yang memungkinkan untuk bisa membawaku pulang. Dan di samping itu, aku tidak tahu di mana letak kota ini, sehingga aku tidak tahu harus menempuh jalan ke arah mana untuk menuju pulang.

Seorang gelandangan di kota ini pernah kudapati sedang tidak beristirahat di waktu siang. Ia tidur saat malam. Tiap kali saya mendasar dagangan di tepi jalan simpang di pusat kota, gelandangan itu kudapati tertidur pulas di atas trotoar di bawah tiang lampu. Dan ketika siang, ia tidak ada di situ. Aku merasa ada yang lain. Umumnya orang-orang kota ini tidur siang dan beraktivitas malam, tapi gelandangan ini lain. Mungkin ia bukan penduduk asli Kota Malam. Mungkin ia pendatang yang terjebak sepertiku di sini, pikir saya.

Dan keingintahuanku membuatku mendekatinya malam itu. Saya mencoba membangunkannya. Dia menggeliat, dengan mata yang masih mengantuk, ia menatapku.

"Mau apa mengganggu orang tidur?" tanyanya.

"Kenapa Bapak tidur malam? Bukankah hampir semua orang di kota ini beraktivitas di waktu malam dan tidur saat siang?" tanya saya.

"Anda orang baru ya?"

"Betul. Kereta membawa saya ke sini. Saya berdagang kain. Saya tidak menemukan jalan untuk pulang."

"Anda sama dengan saya. Saya sudah 13 tahun di sini sejak jatuhnya seorang presiden. Orang-orang di sini tidak mau beraktivitas siang, mereka takut ketahuan, takut terlihat, mereka akan membunuh semua lampu-lampu terang lalu menggantinya dengan lampu-lampu redup. Mereka tidak bisa membunuh matahari, itulah karenanya mereka mencintai malam, remang dan dalam remang segalanya tidak jelas. Ketidakjelasan itu tidak tercium hukum sebab hukum hanya mengenal yang jelas dan pasti."

Gelandangan itu tidur kembali. Dari jauh datang petugas menghampiriku.

"Anda ditangkap karena banyak bertanya," kat petugas memborgol tanganku.

Aku tidak paham.Aku masuk dalam kendaraan petugas.Saya teringat rumah dan istri berrama anakku yang pasti menungguku pulang membawa laba.Dan di jalanan Kota Malam, orang-orang bergembira ke sana ke mari pada malam hari bagai kelelawar.

Muncar, 2010

PABLO

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

Di tepi sehelai sungai muara yang jernih, airnya mengalir segar dan tenang ke laut. Ikan-ikan berenang di sungai itu. Sebuah rumah kayu sederhana menghadap ke laut yang selalu mendebur, angin pantai, awan-awan melayang bagaikan dalam impian. Di situ ia hidup menghabiskan usia, menulis puisi dan berpolitik. Tukang pos hampir setiap saat mengantar surat-surat kepadanya, ia membaca surat-surat dan menulis surat-surat, membaca buku dan menulis buku. Karya sastra dan politiknya membawanya pada popularitas di mata dunia, menjadi integritas yang seolah tak tergantikan. Namun sama sekali ia tidak asing di kampungnya yang terpencil. Ia berbaur dengan rakyat kecil yang buta huruf di pedalaman Cile. Bisa kita bayangkan, betapa gilanya orang ini, seorang penyair yang hidup di tengah masyarakat buta huruf dan masyarakat itu menokohkannya justru karena puisi-puisinya. Semangat hidup yang berkilau yang tak terbantah oleh gairah gelombang lautan atau sekadar Nobel Sastra. Integritasnya diusung dari keterpencilan tempat tinggalnya yang terasing dari pergaulan nasional dan internasional, terbelakang dan ditinggalkan. Itu bukan kemustahilan. Ia tampil sebagai wakil mereka yang tertinggal di mata negara dan dunia.

Dia tersenyum bijak. Tertawa dengan renyah, ringan dan putih. Orang-orang buta huruf itu mengoleksi buku-buku puisinya, mereka memajangnya di almari kaca, setiap hari dibersihkan dan diberi wewangian. Masyarakat buta huruf itu selalu kagum dan terpana ketika ia membacakan puisi-puisinya, mereka selalu berharap mendengarkannya membaca puisi-puisinya. Puisinya menjadi penting bagi masyarakat buta huruf itu.

Demikian secarik kecil kisah Anthonio Skarmeta tentang Pablo Neruda.

Muncar, 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Catatan Akhir Oktober

Orang boleh terkena masuk angin, kedua lobang hidungnya mengeluarkan lendir, bersin-bensin dicampur batuk, tenggorokan seperti lengket di dalam karena pilek. Musim hujan tahun ini tidak konsisten, kadang panas tiba-tiba saja lalu hujan tiba-tiba pula. Perubahan cuaca yang cepat membuat orang gampang flu. Kau boleh mengusir flumu dengan minum jamu atau obat di toko, boleh juga dengan cara lama, yakni dikerok.

Ia pun menulis. Diam-diam sebenarnya ia mengimpikan rumah. Penulis itu, tentu saja ada yang punya rumah sendiri dan ada pula yang belum punya sendiri. Kau boleh meyakinkan dirimu bahwa sejatinya menulis itu adalah menyelenggarakan pesta pemikiran dan keindahan, bahan bacan yang kaya akan menjadi penentu pula kualitas tulisan.

Hari ini tubuhmu lemas akibat flu, padahal sudah minum jamu dan obat toko. Istrimu bermain bersama anakmu yang masih tiga tahun. Melihat istrimu, kau terkagum-kagum. Bagimu, istrimu adalah wanita seksi dengan kulit bersih yang selalu membuatmu ingin selalu bercinta dengannya di atas spring bed baru. Kau merasa sudah lama tidak bercinta dengan istrimu pada siang hari. Seks yang panas akan menyembuhkan flu, kata seorang pakar seksologi, karena itu membakar karbon dioksida dalam tubuh, tambahnya.

Sementara di luar sana, orang-orang berlalu-lalang di jalanan. Kita tidak tahu apa yang disibukkan oleh mereka satu persatu. Kita hanya melihat kesibukan yang begitu ramai dan terburu. Bulan ini Merapi menelan nyawa, termasuk juru kunci yang mati begitu indah itu, Mbah Maridjan. Kehidupan ini terkadang penuh misteri, tentu saja apa yang terpegang hari ini belum tentu terpegang esok hari. Apa boleh buat, waktu terus berlalu dan kehidupan hanya mengenal perubahan yang terus-menerus.

Tadi malam, seseorang telah menabrak kucing dengan motornya yang berlari kencang. Mayat kucing itu dibungkus bajunya, lalu dikuburkan menghadap ke utara dengan bunga pada pukul 23.00 Wib. Itu harus dilakukan untuk menghindarkan kesialan, nasehat Mbah Buyut. Ya. Lakukanlah dengan baik. Karena sejatinya, kau dididik untuk menghargai setiap makhluk ciptaan Tuhan sekecil apa pun, setelah menabrak kucing atau binatang lain hingga mati, sudah seyogianya kau menghormati bangkai binatang sebagai wujud penghormatan dan kerendahhatianmu kepada setiap ciptaan Tuhan yang Dia ciptakan dengan cinta. Jika kau tak menghargai ciptaan-Nya, seperti bangkai kucing itu, maka level kehambaan sama saja dengan kucing. Ironis. Manusia kayak kucing, itu merusak kehidupan.

Muncar, 31 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat

Hanya Menulis

Sebagaimana bersama kita ketahui, teks adalah sarana yang teramat penting. Dengan teks kita mencatat sejarah, mendedahkan sejumlah gagasan dan hasil-hasil pemikiran, teks mengabadikan sastra, teks menjadi acuan aktual dalam mendefinisikan kontruksi kehidupan. Tuhan menurunkan wahyu dengan bahasa manusia yang kemudian diabadikan dalam sarana budaya sebagai teks kitab suci. Kita tidak percaya bahwa seseorang akan dianggap memiliki eksistensi dan pengaruh keilmuan tanpa memproduksi teks. Ini sekadar propaganda bahwa teks itu penting dalam kehidupan kita.

Seorang penulis, demikian menurut Hemingway, adalah manusia yang senantiasa menghadapi dirinya sendiri dalam kesunyian saat ia tengah sibuk memproses rangkaian teks. Ia akan mati dalam arti harafiah jika ia telah terlena dalam sebentuk aktivitas yang berada di luar teks yang dibuatnya. Penulis akan melahirkan tulisan "kacangan" bila ia dengan lena mencebur dalam keramaian di luar teks itu sendiri. Tendensi berlebih terhadap "keramaian" atau pembaca akan menjebak penulis dalam keasyikan menulis hal-hal yang tidak berkualitas dan hanya pemuasan tanpa kesejatian nilai. Ini bukan 'sok moralis'.

Kembali dalam kesunyian dan menghadapi diri sendiri setelah ia melepaskan diri dari belenggu "keramaian" adalah keniscayaan bagi penulis yang baik. Jika tidak, maka ia hanya menulis dan merasa teksnya adalah segalanya. Padahal hanya tulisan, bukan bahan bacaan, tetapi sekadar rangkaian huruf-huruf yang dibuang sejarah setelah cukup dibaca atau dilihat-lihat. Kira-kira demikian Ernest Hemingway dalam pidato penerimaan hadiah Nobel Sastra di tahun 1954.

***

Kemudian waktu membentuk benda persegi empat. Dan malam menyalakan lampu-lampu. Hujan dari suatu musim masih kembara dari negeri-negeri jauh yang dihiasi sejarah menjelma cukup rangkaian bunga. Orang-orang mendiskusikan sesuatu yang lain dari perjalanan panjang suatu peradaban. Kali ini, siapa yang meratap dari balik jendela rumah yang basah? Ia ialah mata yang mencari-cari makna yang tak terpahami, ia menjadi sia-sia, seperti buku dan koran yang hanya menerbitkan huruf-huruf dan angka-angka. Tulisan belaka.

Muncar, 31 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat

TV dan Kotak Rokok Pakubuwono (Surat Terbuka Kepada Yth. Sastrawan Pelopor RSP, Kusprihyanto Namma)


Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


Di tahun 1990an, ketika itu saya masih SD,bapak saya yang seorang PNS rendahan berlangganan Jawa Pos dan koran Karya Dharma. Di Jawa Pos dan Karya Dharma itulah, saya membaca puisi-puisi, juga cerpen dan tulisan-tulisan sampeyan, Mas Kus. Apa yang masih lengket dalam ingatan saya hingga hari ini adalah tulisan dan cerpen Mas Kus. Baru kali ini saya sempat bisa menulis untuk sampeyan tentang kekaguman saya pada tulisan-tulisan sampeyan.

Waktu itu, membaca cerpen dan tulisan sampeyan di tahun 90-an, tak menitik sedikit pun dalam benak saya untuk bisa kenal dan berkomunikasi dengan sampeyan. Waktu itu, saya hanya bisa membaca. Dan karena ketidaktahuan akan pentingnya sebuah dokumentasi (karena memang masih usia SD), koran-koran yang memuat tulisan sampeyan itu tidak saya miliki, karena koran-koran itu dibakar oleh ibu saya di dapur untuk menanak nasi atau mendidihkan air demi secangkir kopi malam hari ketika kami tidak bisa lagi membeli minyak gas untuk menghidupkan kompor. Kami sekeluarga selalu ngumpul bila malam, berbincang, minum kopi, bapak melinting tembakau apek, dan nonton tv hitam putih.Kami hidup di sebuah perumahan PNS yang sempit, satu kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan wc, dan dapur menjadi satu ruang yang menumpang-tindih; sempit. Bila hujan, air menggenang di rumah kami. Gaji PNS bapak saya tidak cukup menyejahterakan kami, walaupun kami tetap hidup dan saya bisa bersekolah hingga dua kali DO fakultas sastra dari universitas: UGM dan Unej. Dalam perumahan PNS yang sempit itu, kami hidup bertujuh, ibu dan bapak saya, adik, dan tiga orang kakak saya. Bapak tidak pernah patuh pada KB yang merupakan anjuran pemerintah waktu itu.

Tulisan-tulisan Mas Kus saya baca dalam kondisi yang seperti saya gambarkan tadi. Saya tidak tahu (waktu itu) sastra baik atau tidak baik, yang saya tahu bahwa tulisan Mas Kus itu bagus, dan saya selalu membacanya berulang-ulang, sehingga tercipta bayangan dunia baru yang nikmat di dalam benak saya. Saya suka itu. Walaupun hingga kini saya tidak memiliki koleksi tulisan-tulisan sampeyan, namun beberapa tulisan sampeyan yang pernah saya baca sekitar 19 tahun yang lalu, masih sebagian kuingat dengan baik. Ada tulisan yang mengisahkan tentang Ronggowarsito yang diminta menebak isi sebuah kotak rokok oleh Pakubuwono IV. Sebelumnya, Pakubuwono IV telah mengeluarkan seluruh rokok di dalam kotak rokoknya tersebut tanpa sepengetahuan siapa pun. Esoknya, ia memanggil Ronggowarsito ke istana. Pakubuwono IV meminta Ronggowarsito menebak, apakah kotak rokok yang isinya sudah dikeluarkan oleh Pakubuwono IV tanpa sepengetahuan siapa pun itu kosong atau masih ada isinya. Kotak rokok itu diletakkan tepat di depan Ronggowarsito. Pakubuwono IV mengejek Ronggowarsito yang tidak bisa langsung memberikan jawaban apakah kotak tersebut bersisi rokok atau sudah kosong. Pakubuwono IV berkata: "Mana mungkin kamu bisa melihat sesuatu yang jauh dan gaib, jika melihat isi kotak rokok tertutup yang di depan matamu ini saja kamu tidak mampu." (Saya masih mengingat dialog dalam tulisan sampeyan itu, Mas Kus). Setelah merenung (di dalam renungannya, Ronggowarsito hanyut dalam dimensi ketuhanan yang mendalam, batinnya berperang tentang ada dan tiada isi di dalam kotak rokok yang tertutup dan tidak terlihat oleh pandangan matanya itu, hingga ia menemukan keyakinan yang final bahwa ada dan tiada menyatu dalam keutuhan), Ronggowarsito lalu menjawab:

"Kotak rokok itu berisi, Sinuhun," kata Ronggowarsito dengan mantap dan seyakin-yakinnya.

Pakubuwono IV ngakak-ngakak, tertawa kepingkel-pingkel, karena jelas jawaban penasehatnya itu, Ronggowarsito, salah besar. Pastinya isi kotak itu sudah kosong sebab tadi malam ia telah mengeluarkan seluruh isinya. Setelah Pakubuwono IV puas mengejek dan menghina penasehatnya sendiri, Ronggowarsito meminta sinuhun Pakubuwono IV untuk membuka kotak tersebut. Pakubuwono IV membuka kotak tersebut. Dan memang kosong.

"Coba sinuhun periksa lagi," kata Ronggowarsito tenang dan tetap yakin.

Pakubuwono IV memeriksa lagi kotak rokoknya itu. Takjub! Ternyata masih ada sebatang rokok yang tersangkut di sela lipatan penutup kotak rokok, hal itu terjadi tentu tanpa disadari sama sekali oleh Pakubuwono IV tadi malam saat mengeluarkan seluruh isi rokok dari dalam kotak. Dan dengan demikian, jawaban Ronggowarsito benar. Pakubuwono IV merasa tersudut, ia marah, lalu melemparkan kotak rokok itu ke hadapan Ronggowarsito dan mengusir Ronggowarsito dari hadapannya.

"Keluar!" teriak Pakubuwono IV dengan wajah yang terbakar.

Tulisan selesai. Ketika saat ini saya mengingat kembali, betapa satire dan kritis, tajam dan menyehatkan tulisan sampeyan itu, Mas Kus, di mana tulisan itu terbit di tahun 90-an saat Soeharto masih gagah perkasa.

Ada lagi tulisan sampeyan tentang televisi (tentu saja judul dan isi detil tulisan-tulisan sampeyan itu, saya sudah lupa). Sebuah keluarga kecil yang memiliki tv hitam putih yang tv mereka selalu gangguan, muncul bintik-bintik hitam di layarnya. Dialog pun terbangun antara tokoh aku dengan istrinya tentang tv mereka. Anak-anak mereka selalu protes, kenapa tv selalu mengeluarkan bintik hitam dan gambarnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Malam hari, ketika tv gangguang dan diperbaiki berulang-ulang tetap saja tidak beres, tokoh aku mematikan tvnya. Anak-anak mereka sudah tidur. Tokoh aku dan istrinya berdialog tentang masa lalu mereka, saudara-saudara mereka, juga teman-teman mereka dulu. Hingga larut malam dan keduanya tertidur melupakan tv mereka. Itu tulisan sampeyan yang segar menurut saya, yang saya baca dulu ketika saya berusia SD, 19 tahun yang lalu.

Mungkin sampeyan sudah lupa bahwa sampeyan pernah menulis tulisan-tulisan yang pernah saya baca 19 tahun yang lalu itu. Tapi, saya masih cukup mengingatnya dan memetik manfaat darinya. Andai saya bisa memiliki koleksi karya sampeyan, betapa senangnya saya. Karena di toko-toko buku saya cari tulisan sampeyan, saya tidak menemukan, mungkin karena toko buku di kota kabupaten yang saya tempati ini hanya ada satu toko buku yang kurang lengkap. Untuk ke kota besar mencari buku-buku, saya mungkin tidak bisa melakukannya karena kendala waktu dan uang. Jika Mas Kus berkenan memberi saya koleksi tulisan-tulisan Mas Kus yang lama-lama, saya akan sangat berterima kasih. Entah bagaimana caranya, lewat pos, lewat email, atau apalah. Saya hanya meyakini, bahwa jika Tuhan menakdirkan saya bertemu kembali dengan tulisan-tulisan sampeyan, maka saya akan menemukannya. Teman-teman saya bilang, bahwa Kusprihyanto itu pelopornya "revitalisasi sastra pedalaman". Jika iya, saya berada dalam "barisan" itu. Karena sastra kadang kala dipengaruhi oleh jaringan, uang dan tempat ("pusat" atau "non-pusat"). Lalu bagaimana dengan mereka yang berkarya di tengah keterpencilan tempat dan miskinnya uang dan jaringan? Saya rindu kebersamaan dan kesejajaran yang obyektif, sehingga karya ditimbang dari kualitasnya, bukan kuantitasnya.

Salam Kebudayaan

Kamis, 28 Oktober 2010

Pantat Mbah Maridjan

Sejumlah orang menjemput Mbah Maridjan di rumahnya untuk mengajaknya segera meninggalkan rumah, mengungsi karena Merapi emergency. Mbah Maridjan tahu bahwa Merapi akan memuntahkan "wedhus gembel" dan menelan nyawa. Karena ketahuannya itulah, dia memerintahkan seluruh warga Kinahrejo mengungsi segera. Dan setelah semua warga mengungsi, tinggal Mbah Maridjan hendak mengungsi belakangan setelah yang lain telah dipastikannya aman.

"Ayo, Mbah, kita ngungsi," kata salah seorang yang menjemputnya.

"Yo ayo! Aku sembahyang disek yo, entenono sedilut," jawab Mbah Maridjan.

Lalu dia pun sembahyang. Di saat sujud, Merapi muntah, Mbah Maridjan wafat dan mayatnya ditemukan dalam posisi sedang bersujud membelakangi Merapi. Mbah Maridjan tahu bahwa Merapi itu hanya level "silit" (pantat) dibanding kepasrahan penghambaannya kepada Tuhan yang ia sembah. Dan para penemu mayatnya dan yang melihat posisi mayatnya (baik itu ustad atau ulama'-ulama' karbitan yang menyeru-nyeru moral, para pemimpin mulai lurah sampai presiden, anggota dewan atau siapa pun yang pengabdiannya hanya untuk dirinya sendiri dan gemerlap segala hal selain ketulusan) hanya selevel pantat Mbah Maridjan. Dan dengan tanpa beban Mbah Maridjan memantati mereka seperti ia memantati Merapi. Itu benar-benar "roso", pengabdiannya lebih roso daripada sekadar Merapi, pengabdian sejati yang mengabdi-sembah hingga akhir. Mbah Maridjan meyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa bukan Merapi atau sultan mana pun yang ia jaga dan ia junjung dengan jiwa raganya, tapi bahwa sejatinya ia mengabdi kepada Kang Murbheng Dumadi, Allah, sesembahan manusia dan muara segala pengabdian total. Karena "tidaklah diciptakan segala makhluk selain hanya untuk mengabdi-nyembah kepada Allah Kang Murbheng Dumadi", dhawuh-Nya. Kematian Mbah Maridjan itu kematian paling indah dan yang paling dirindu-dambakan bagi tiap-tiap kita yang berhati nurani dan yang mengorbankan seluruh jiwa raga hanya untuk mengabdi-sembah kepada-Nya dengan menunaikan selunas-lunasnya pengabdian pada tanggungjawab kemanusiaan yang sejati. Sampai akhir. Sampai tiba nyata segala rindu pada perjumpaan dengan Tuhan Yang Maha Menguasai Segalanya.

Muncar, 29 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat