Kamis, 04 November 2010

Rabu, 03 November 2010

Panduman


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Sehelai sungai. Panduman duduk di tepi. Tentu saja itu bukan sehelai sungai yang jernih, bercahaya, di tepinya ada bunga-bunga, kupu-kupu, dan ikan-ikan berkejaran di dalamnya bagaikan keterangan-keterangan dalam dongeng. Tapi, sehelai sungai yang di tepinya terdapat Panduman duduk melamun memandang air, adalah sungai di tepi kota yang bau, bangkai anjing mengapung, kaleng-kaleng, dan kotoran manusia, tidak ada ikan, cuma cahaya lampu-lampu dari bangunan-bangunan besar bersusah payah menggapai air sungai. Bagi Panduman, menghabiskan malam dengan duduk berlama-lama di tepi sehelai sungai yang bukan sehelai sungai seperti dalam dongeng, adalah keharusan. Entah kenapa itu harus menjadi keharusan bagi Panduman. Dan itu dilakukan Panduman pada musim-musim hujan. Panduman tidak berteduh. Ia tidak takut banjir. Ia duduk memandang sungai saat hujan turun malam, jutaan butir air tumpah ke permukaan sungai. Panduman adalah pelamun. Dia bukan penyair, bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang laki-laki bernama Panduman.

Paduman memandangi dengan tekun air sungai yang mengalir pelan membawa kotoran entah apa saja. Remang cahaya lampu-lampu menyinar ke muka air. Hujan turun. Musim hujan, hampir tiap malam hujan turun. Dan pada saat hujan lebat, sehelai sungai itu banjir. Panduman duduk di tepi sungai, tepatnya di atas gundukan tanah. Air selalu hampir meluap. Tapi,tidak menggapai Panduman.Dan Panduman kembali mengingat mimpi itu.Mimpi yang paling ganjil.Ia bermimpi membunuh seorang wanita tak dikenal berulang kali.
***

Panduman selalu diganggu mimpi-mimpi ganjil itu. Sehingga Panduman merasa takut untuk tidur pada malam hari."Setiap malam,orang akan tidur,dan mungkin dalam tidur mereka berharap bermimpi indah tentang segala hal yang barangkali gagal untuk didapatkan dalam kenyataan. Tapi,bagi saya, malam dan tidur adalah teror. Mimpi-mimpi ganjil itu mencekik leher saya. Saya tidak bisa bernafas setelah sadar dari mimpi-mimpi ganjil itu. Dan anehnya, mimpi-mimpi ganjil itu selalu menerorku di musim penghujan," kata Panduman entah kepada siapa. Itulah karenanya, Panduman tidak mau tidur malam hari. Dia tidak berani menghadapi mimpi. Lebih baik menghabiskan malam di tepi sehelai sungai yang sama sekali tidak menyenangkan, hujan, bau, kotor, suara katak, dan nyamuk. Sehelai sungai yang tidak seperti dalam dongeng.

Di kota itu, Panduman adalah pengangguran. Dia tinggal di rumah buruk warisan orangtuanya. Kedua orangtua Panduman tidak di situ. Kedua orangtua Panduman telah meninggalkan kota itu dan tinggal di kota lain bersama adik Panduman yang sukses di kota lain. Sebagai kakak, Panduman tidak bisa memberi contoh kesuksesan bagi adiknya. Rumah buruk itu ditempati Panduman, orangtuanya menyerahkan rumah buruk itu buat Panduman, orangtua Panduman telah dibuatkan rumah di sebelah rumah adik Panduman yang sudah sukses di kota lain. Orangtua Panduman berpesan kepada Panduman agar Panduman tidak menjual rumah buruk itu, agar Panduman segera mencari pekerjaan lalu menikah karena sudah berumur, agar Panduman bisa sukses seperti adik Panduman. Panduman tahu itu. Dan Panduman tidak tahu bagaimana bisa mencapai sukses seperti adiknya yang sukses sebagai pengusaha di kota lain. Panduman menolak bantuan adiknya. Dia sebagai kakak. Panduman hanya lulus SMA. Kerja tidak mudah. Uang tidak gampang. Hidup tidak semudah adik Panduman dan tidak semudah orang lain.

Panduman terkejut. Kedua matanya menangkap ada sesuatu mengapung di sungai. Sesuatu itu bukan bangkai anjing. Tidak jelas. Lampu-lampu remang tidak memperjelas pandangan Panduman. Hujan turun. Tidak lebat. Panduman basah. Sungai tidak banjir karena hujan tidak lebat. Panduman melihat ke sungai. Yang mengapung itu, sepertinya adalah tubuh manusia. "Mayat!" pekik Panduman pada dirinya sendiri. Panduman ingin pulang. Tapi, di rumah pasti dia akan tersiksa karena harus menahan diri supaya tidak tidur. Tidur berarti mimpi. Dan mimpi adalah teror. Panduman tidak mau.

Panduman meyakinkan matanya. Ia menajamkan tatapannya. Dan yang mengapung dan hanyut dengan pelan bersama sampah-sampah itu sepertinya adalah tubuh manusia. Hujan turun tidak lebat, tapi hujan turun malam seolah tak mau berhenti. Panduman merasa gentar. Ia khawatir itu tubuh manusia korban pembunuhan. Tapi, mungkinkah yang mengapung itu mayat? Panduman belum yakin dengan matanya. Paduman meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi. Panduman menoleh ke kiri ke kanan, ia khawatir ada orang lain selain dirinya. Panduman memutuskan meninggalkan sungai. Panduman bergegas. Hujan turun malam, tidak lebat dan seolah tidak mau berhenti. Panduman bergegas. Panduman mempecepat langkahnya.

"Berhenti!" sesesorang mencegahnya.

"Siapa?" Panduman tidak mengenal orang yang mencegahnya.

"Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan seorang wanita dan mayatnya Anda hanyutkan di sungai," petugas menangkap dan memborgol tangan Panduman. Hujan turun malam, tidak lebat, dan seperti tidak mau berhenti. Dan Panduman kini betul-betul yakin, dia tidak sedang bermimpi. Panduman tidak berkata-kata. Panduman dibawa petugas. Tangannya diborgol.

Banyuwangi, 2010

Selasa, 02 November 2010

SEBUAH KARANGANYAR

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


Tetese Eluh
Cipt: Yon’s DD

Sedino-dino mung nangis gawene
Sing leren-leren sampek alum matane

Yo mesesegen ilang suaranae
Kesuwen nangis sampek nono iluhe

Kepingin seru ketemu, eman
Nong kembang hang biso ngudang atine

Kadung urip nong endi sangkane
Dung wes mati nong endi paesane

Arep sun kirim kembang hang wangi gandane
Arep sun kirim gending nawi tah biso nentremaken atine

Terjemahan bebas:


Hanya hari mengurai tangis hidupnya
Tiada henti hingga layu matanya

Ya. Tersedu sedan putuslah suaranya
Terlampau jauh menangis hingga keringlah air mata

Berharap sangat untuk bertemu, sayang
Bunga yang kuasa menghibur hatinya

Jika masih hidup, di mana alamatnya
Bilapun telah tiada, di mana nisannya

Akan kukirim bunga yang wangi semerbaknya
Akan kukirimkan nyanyi, andailah bisa menentramkan hatinya

Syair di atas menggambarkan situasi pada tahun 1965 di Banyuwangi. Menurut pengakuan pencipta lagu tersebut, Yon’s DD, kepada saya, bahwa memang benar syair lagu tersebut menggambarkan kondisi sosial-psikologis akibat geger politik pada tahun 1965. Secara utuh dan orisinil, syair Yon DD tersebut sangat berhasil, pun mengusung nilai-nilai sejarah dan kemanusiaan. Secara historis, di Banyuwangi terdapat banyak orang yang dulunya sangat mengagumi dan menganut paham komunis, sehingga banyak yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia). Tentu tidaklah mengherankan, sebab PKI pada tahun 1955 memenangkan Pemilu; berada di urutan tiga besar. Tentu saja, ajaran komunis di Banyuwangi musti kita pisahkan dari peristiwa geger politik 1965 yang banyak menelan nyawa manusia dengan banyak pembantaian yang tidak beradab: manusia dipotong lehernya, lalu mayatnya digeletakkan di selokan, atau kedua kaki dan kedua tangan seseorang diikat dengan rantai, lalu keempat ujung rantai itu diikatkan pada sebuah truk, truk dijalankan pada empat arah yang berlawanan, lantas tubuh seseorang tersebut menjadi tersobek empat atau lima bagian, kepala manusia menggelinding dengan mata melotot, bibir menjulur, dan badannya entah ada di mana.

Geger politik yang ditandai dengan istilah “Pemberontakan Gerakan 30 September/PKI” (G 30 S/PKI) yang hingga tulisan ini ditulis, masih menyisakan kontroversi dan trauma sejarah yang misterius, semisterius kenapa orang-orang melakukan pembantaian sedemikain sadisnya. Perebutan tampuk kekuasaan di Indonesia dan eskalasi politik secara internasional telah mengakibatkan hal itu terjadi. Mungkin saya terlalu awam terhadap sejarah. Tapi, tentu saja agama dan budaya mana pun tidak akan pernah setuju dengan perbuatan sadis sebagai imbas pergolakan politik. Bangsa ini telah melakukan pembantaian terhadap dirinya sendiri, atau kepentingan politik dan negara telah berakibat menelan mentah-mentah daging anak kandungnya sendiri. Karena keawaman terhadap sejarah itulah, maka nampaknya saya lebih tepat bercerita.
* * *


Karanganyar adalah sebuah desa yang terletak di Kab. Banyuwangi, Kec. Rogojampi. Desa ini, lebih tepatnya dusun, memiliki penduduk mayoritas berdialek Using, beberapa pendatang juga ada di sini. Di situ kebun kelapa dan sawah yang cukup luas. Cukup untuk menghidupi daging kehidupan. Di situ anak-anak bermain dengan riang, sebagaimana di dusun-dusun lain. Organisasi politik dan Ormas berdiri. Hingga ke Karanganyar, underbouw PKI seperti Lekra, BTI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat tumbuh dengan subur dan hidup rukun bersama NU dengan segala underbouw-nya, seperti GP Ansor. Lesbumi, dll. Keguyuban ini tentu saja sebagai sebentuk wujud betapa masyarakat Banyuwangi adalah masyarakat yang humanis, kita adalah bangsa besar yang sejatinya guyub, walaupun sejarah kita telah diwarnai oleh darah, yakni realisasi konkret dari Amukti Palapa-nya Gajah Mada. Tanpa sedikitpun mengurangi kecintaan kepada sejarah bangsa sendiri, saya mencoba kritis, bahwa ekspansi dan invasi Majapahit terhadap bangsa-bangsa lain adalah sebentuk kekerasan yang tidak demokratis dan humanis.
* * *


Pada suatu malam. Udara dingin di tengah dusun Karanganyar melelapkan penduduk. Ketakutan dan keputusasaan merebah kelam ke dalam jiwa. Sebagian ada yang gemigil. Sebuah pesantren kecil yang diasuh oleh seorang kiyai (sebut saja Kiyai Ali), malam itu pun lelap. Para santri kecil berusia antara 8 sampai 10 tahun lelap dalam kamar-kamar. Umumnya para santri itu adalah yatim piatu. Rumah sang kiyai sepi. Isterinya telah tertidur dengan lelap. Isteri sang kiyai adalah seorang janda beranak satu, yang dinikahi sang kiyai. Dari isterinya itu, sang kiyai memiliki seorang anak laki-laki baru berusia 9 tahun.

Malam itu terasa dingin bagai jutaan jarum yang menyerbu kulit sampai ke tulang. Sang kiyai yang jangkung, wajahnya teduh, dan alisnya tebal itu belum tidur. Dini hari. Ia tegar di atas sajadah malamnya. Memutar tasbih dengan mata terpejam. Sunyi dan mencekam.

Dalam wiridnya, sang kiyai tak henti-hentinya melafazdkan “Ya Rahman Ya Rahim” (Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Hingga kekhusyukan sang kiyai tersentak oleh suara riuh di halaman rumahnya. Sekitar 25 orang turun dari atas truk, lalu 7 orang di antara mereka menggedor pintu rumahnya yang sederhana.

“Keluar, Ali! Keluar!” teriak mereka tak bersahabat.

Dengan tenang sang kiyai beranjak dari sajadahnya. Langkahnya tenang bagai tak menyentuh lantai. Seolah ia telah tahu apa yang akan terjadi. Raut wajahnya sedikitpun tidak berubah. Tetap teduh tak berganti warna. Sang kiyai membuka pintu. Isterinya mengikutinya dari belakang bersama anaknya yang juga terbangun oleh suara riuh. Begitu pintu dibuka, sekitar tujuh orang yang mengenakan baju hijau bermotif seperti kulit harimau, menerobos masuk ke ruang tamu sang kiyai. Dengan cekatan, mereka meringkus sang kiyai. Sang kiyai tidak melakukan perlawanan. Beliau hanya berkata tanpa penekanan suara.

“Silahkan saya dibawa. Biarkan anak isteri dan santri-santri saya tetap di sini,” katanya. Tanpa sedikitpun memberikan penekanan. Lembut. Suaranya terasa sejuk. Seperti air dari sumur yang dalam.

Namun tujuh orang yang berbaju hijau bermotif kulit macan itu tetap terbakar. Mereka melempar sang kiyai ke atas meja. Meja pecah ditimpa tubuh sang kiyai yang jangkung. Tapi, seolah tak sedikitpun sang kiyai merasakan sakit. Beliau diam saja. Tidak mengerang sakit. Tidak apa-apa. Tetap tenang dan tak sedikitpun raut wajahnya berubah. Wajah dan kedua bola matanya yang bening itu bagaikan danau yang dilempari beberapa batu besar ke dalamnya, sejenak berdebur, lalu tenang dengan segera.

Sang kiyai bangkit. Ditatapnya sebentar wajah isteri dan anaknya yang masih 9 tahun itu. Sang isteri menjerit meminta tolong sambil menangis. Sang isteri berteriak: “Maling... Maling... Maling...”

Sang kiyai hanya tersenyum kecil melihat ketakutan isterinya.

“Ayo teriak! Tidak ada satu pun yang bisa menolong!” jawab salah seorang dari tujuh lelaki kekar berbaju hijau bermotif kulit macan.

Mereka mengikat tangan sang kiya ke belakangi. Puluhan santri terbangun. Mereka berhambur ke rumah sang kiyai. Santri-santri kecil berusia 9 tahunan dan yatim piatu, menyaksikan kiyainya dilemparkan ke atas truk berisi beberapa orang tak dikenal.

“Ini orang komunis! Harus ditangkap dan ditiadakan!” ujar mereka.

Sang kiyai ditutup kepalanya dengan karung diikat ke lehernya. Dalam karung itu, matanya terpejam. Bibirnya bergetar kalimat “Ya Rahman Ya Rahim”. Suara itu pelan namun tegas. Truk berangkat menembus tikungan gelap di dusun Karanganyar. Dalam perjalanan entah ke mana, dzikir dari mulut sang kiyai tidak henti-hentinya. Mereka yang meringkus, mendengar dzikirnya. Mereka membentak.

“Diam! Bahkan Tuhan pun tidak akan bisa menyelamatkan kamu, komunis!” gertak mereka dengan kasar sambil membenturkan kepala kiyai ke dinding bak truk. Benturan yang keras. Kepalanya bocor. Tapi, sang kiyai tidak mengerang sakit. Dzikir dari mulutnya berhenti.

* * *


Pada sebuah hutan, truk berhenti. Di tengah hutan yang gelap, hanya diterangi lampu petromak dan sinar bulan sabit awal Ramadan. Di tepi sebuah jurang yang dalam, terdapat sebatang pohon jambu hutan yang tua. Dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan kepala ditutup karung, sang kiyai dilemparkan ke tanah, tubuhnya yang jangkung menghantam pohon jambu hutan yang tua. Terdengar suara patah dari tulang tangannya. Namun, tak terdengar erang dari mulutnya.

“Buka karung di kepalanya!” perintah salah seorang yang mengenakan baju hijau bermotif kulit macan. Tiga orang membuka karung di kepala sang kiyai. Dua orang lainnya memegang tangannya. Salah seorang berbaju hijau bermotif kulit macan, mengeluarkan sebilang pedang. Pedang itu mengkilat.

“Sebelum pedang ini saya tebaskan ke lehermu, katakan apa yang kau minta sebagai permintaan terakhir, anjing!”

Sang kiyai tetap tersenyum, membuat kesiur aneh pikiran orang-orang yang akan membantainya.

“Almautul Baabun,” jawab kiyai dengan nada lirih. Tersenyum.

Mereka tidak mengerti. Mereka segera menjalankan niatnya.

* * *


Pagi. Pesantren ramai. Santri-santri yatim piatu kehilangan pengasuhnya yang selalu bersahabat dan bercanda dengan mereka. Isteri dan anak sang kiyai tidak keluar dari kamarnya. Ketakutan dari kejadian tadi malam telah membekas di dalam jiwa mereka. Begitu dalam, begitu lengket, begitu mengerikan. Gemigil.

Beberapa saat kemudian. Sebuah truk datang lagi, menerobos ke dalam pesantren, menabrak pintu kayu pesantren hingga roboh. Tiga orang turun dari truk. Mesin truk tidak dimatikan. Tiga orang itu mendekati pintu rumah kiyai. Menggedor. Isteri sang kiyai sambil menggendong anaknya, membukakan daun pintu.

“Siapa?”

“Ini baju suamimu,” jawab mereka melemparkan baju putih penuh darah yang masih segar ke wajah perempuan yang menggendong anaknya. Mereka lalu melompat ke atas truk. Truk berputar. Lalu keluar dari pesantren. Truk itu berwarna hijau. Menghilang di tikungan sebelum ramai orang berangkat ke sawah dan ke pasar. Truk itu mengeluarkan asap knalpot. Hitam.

Baju putih sang kiyai, baju putih berlumuran darah segar. Sang isteri menangis meratap-ratap. Sang anak hanya terdiam memandang dan tak mengerti apa tengah terjadi. Sejak itu, setiap hari, setiap saat, malam atau siang, petang atau senja hari, perempuan itu selalu meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Terus meneteskan air mata. Tiada henti-hentinya mengenang suaminya yang hilang entah ke mana. Tak ada kabar. Tak ada apa-apa.
* * *


Waktu terus bergeser. Politik pun bergerak membuat rumah-rumah kekuasaan dan kekayaan dari tangis dan kematian. Pesantren itu dirobohkan massa yang mengamuk. Puluhan anak yatim piatu penghuni pesantren menghambur pergi, dan entah ke mana mereka melanjutkan hidup. Rumah sang kiyai telah dikuasai oleh saudara-saudaranya. Beberapa hektar kebun kelapa dan sawah telah dirampas oleh saudara-saudara sang kiyai. Anak dan isteri sang kiyai pergi dari Karanganyar. Mereka keluar. Perempuan itu berjalan tanpa tujuan, medatangi kota-kota di luar Banyuwangi sambil membesarkan anaknya. Ia menjadi pembantu rumah tangga di tiap kota yang sempat disinggahinya, atau menjajakan kain ke tiap-tiap tempat asing dan jauh. Baju suaminya yang berlumur darah itu tetap disimpan di dalam tasnya yang lapuk. Tiap kuburan yang dilewati dalam perjalanan, ia singgahi, ia duduk di tepi kuburan entah kuburan siapa, perempuan itu meyakini bahwa kuburan itu adalah kuburan suaminya. Ia tidak bisa baca tulis. Ia tidak membaca tulisan pada batu nisan. Ia mengaji di sana bersama anaknya. Ia yakin itu kuburan suaminya. Ia mengaji sambil menangis. Membaca Surat Yasin. Berdoa.

Waktu menggelinding terus. Sang anak tumbuh dewasa dengan kelainan mental. Perempuan itu dianggap masyakarat Karanganyar sebagai perempuan tua tidak waras, karena tiap kuburan ia datangi dan ia yakini sebagai kuburan suaminya tercinta, ia mengaji dan menabur bunga. Waktu terus menggelinding seperti kelereng di lantai keramik rumahmu. Dan tak ada yang mengetahui kisah ini, mungkin juga tak ada yang mau tahu. Sebuah kisah di antara ribuan kisah lain yang lebih mengerikan lagi. Secuil kisah terpendam di antara hiruk pikuk politik. Hingga ia menghembuskan nafas terakhir di Karanganyar karena tua, lelah, dan kesepian. Ia kembali ke Karanganyar, dusun yang pernah melahirkannya, dusun yang mencabik hatinya, dusun di mana cintanya bersemi kala remaja, dusun yang pernah ditanami jutaan harapannya bersama sang suami, Kiyai Ali, beserta puluhan santri yatim piatu yang pernah dirawat dan disekolahkan. Ia sudah tiada dalam keadaan tua, kurus, tak terawat, dan sunyi sekali. Rambutnya rontok, kulit rambutnya terlihat. Warnanya putih.

* * *


Tentu saja, saya tidak mengerti sejarah. Saya hanya bisa bercerita. Cerita ini saya dapatkan dari perempuan itu secara langsung. Ia bercerita sambil menangis dan tak pernah berhenti mengeluhkan tulang kakinya yang selalu linu. Ada sebuah kalimat yang tetap saya ingat hingga kini: “Tidurlah! Waktu sudah malam. Besok kamu harus hidup sebagaimana biasa. Alah.. alah... alah...”

Banyuwangi, 2009

Catatan:

Almautul Baabun= kata Bahasa Arab yang berarti: “mati hanyalah pintu.”

YANG DIPERSIDANGKAN


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

“HADAPKAN!” kata hakim ketua yang berkumis tebal dan agak memanjang di kedua sisinya itu.

“Saya hadapkan, Yang Mulia,” jawab seorang petugas kejaksaan. Baju dinasnya nampak sudah kekecilan. Dia membimbing seorang saksi kurus tinggi berpipi cekung itu ke muka.

“Nama Saudara Jumpalto Nartomo alias Jumo. Pekerjaan wiraswasta. Agama Islam. Betul?”

“Betul itu saya, Yang Mulia.”

“Bersumpah.”

Petugas kejaksaan bertubuh pendek gemuk dengan seragam dinas yang sudah kekecilan meletakkan kitab suci agama Islam di atas kepala Jumo.

“Ikuti yang saya ucapkan…”

Saksi Jumo belum duduk.

“Selesai, Yang Mulia.”

“Bagus. Suruh dia duduk.”

“Duduk.”

“Saya duduk, Yang Mulia.”

Saksi itu duduk. Pipinya cekung. Badannya kurus. Tinggi. Ia duduk di kursi kecil, menghadap hakim. Ia duduk bagaikan sebatang tiang yang melengkung.

“Saudara telah disumpah. Dengan demikian, tiap kata tiap huruf yang keluar dari mulut Saudara harus benar dan berdasarkan kebenaran. Saudara juga jangan keliru meletakkan titik koma dalam intonasi suara persaksian Saudara, karena itu akan menimbulkan penafsiran lain yang bisa menyesatkan. Saudara harus mengatakan semuanya dengan benar dan senyata-nyatanya. Saudara tidak diperkenankan berbohong sama sekali, sedikit pun. Kalau berbohong di hadapan hukum, Saudara akan terkena pasal kesaksian palsu, berat sanksi yang akan Saudara terima. Dan tentu saja Saudara tidak akan berani berbohong, bukan? Karena pastinya Saudara takut dikutuk oleh Tuhan dari agama Saudara sendiri. Maka sebagai hamba hukum, Saudara wajib mengabdi kepada hukum, wajib jujur, benar, dan wajib menyatakan segala yang telah Saudara saksikan dengan sebenar-benarnya dan dengan senyata-nyatanya. Saudara mengerti?”

“Mengerti, Yang Mulia.”

“Bagus. Sekarang silahkan Saudara ceritakan bagaimana perbuatan melanggar hukum itu terjadi dan dilakukan oleh terdakwa yang duduk di sebelah Saudara itu?”

“Waktu itu…”

“Sebentar,” hakim mengetuk palu sekali, “sebelum dilanjutkan, saya tanya; Saudara dalam keadaan sehat? Sadar? Saudara benar tidak gila? Saudara wajib tidak berbohong!”

“Saya sehat, Yang Mulia. Sadar. Dan tidak merasa sedang gila.”

“Bagus. Saudara kenal dengan terdakwa ini? Dia bukan famili Saudara?”

“Saya tidak mengenal terdakwa, Yang Mulia. Karena kenal saja tidak, mana mungkin lantas dia menjadi famili saya? Benar dan sudah jujurkah jawaban saya, Yang Mulia?”

Hakim diam sebentar. Dia tampak menelaah sejenak jawaban saksi di depannya, dahinya mengerut sedikit. Kemudian tidak berselang, hakim menjawab dengan rona wajah gembira seolah baru menemukan sesuatu yang dicari-cari.

“Ya. Masuk akal juga! Mana mungkin terdakwa itu adalah famili Saudara lha wong kenal saja Saudara tidak? Ya! Benar! Saudara sudah jujur! Itu bagus. Lanjutkan cerita Saudara.”

Yang dipersaksikan, Jumo membenahi kerah bajunya yang separuh belum terlipat, mungkin tadi dia lupa. Bajunya tidak diseterika. Dia memulai ceritanya.

“Waktu itu malam, Yang Mulia. Saya juga tidak mengerti mengapa kejadian itu di waktu malam, Yang Mulia. Saya melihat dia, Yang Mulia. Dia mengendap-endap di pekarangan rumah hakim Pak Sumali, Yang Mulia. Saya di balik semak, Yang Mulia. Mengintip dia, Yang Mulia. Dia tidak tahu kalau saya mengintipnya, Yang Mulia. Betul-betul, Yang Mulia. Kemudian….”

“Berhenti!” hakim mengetukkan palu sekali, “saya minta Saudara tidak perlu menutup tiap kalimat Saudara dengan kata “Yang Mulia”. Ceritakan saja. Saudara terlalu banyak menyebutkan kata “Yang Mulia”, itu sangat mengganggu konsentrasi saya mendengarkan kesaksian Saudara.”

“Benar, Saudara. Jangan begitu,” kata hakim anggota yang duduk di sebelah kiri hakim ketua yang memegang palu.

“Ya,” kata hakim anggota yang duduk di sebelah kanan hakim ketua yang memegang palu sambil menganggukkan kepala. Tersenyum sedikit dengan kesan yang berwibawa.

“Sudah! Lanjutkan, Saudara.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Ya. Bagus.”

“Malam itu. Saya sekali lagi tidak paham kenapa kejadian itu pada suatu malam. Saya menyaksikan dengan dua mata kepala saya sendiri, terdakwa ini mencongkel pintu rumah mewah milik hakim Pak Sumali, Yang Mulia. Saya tidak tahu Pak Sumali itu sebenarnya adalah seorang hakim. Yang saya tahu, Pak Sumali itu bekerja di kantoran karena tiap pagi dia keluar dengan mengenakan baju seragam kantor. Saya baru tahu kalau Pak Sumali itu seorang hakim setelah di persidangan ini, Yang Mulia. Sehingga saya tidak paham apa niat terdakwa mencongkel pintu rumah Pak Sumali. Waktu itu, saya pikir terdakwa ini hanya seorang pencuri. Terdakwa tidak tahu kalau saya secara diam-diam, tanpa disadari oleh terdakwa, mengintip perbuatannya. Saya memberanikan diri memasuki halaman rumah hakim Pak Sumali. Saya mengintip lewat jendela samping. Tapi, saya tidak berhasil melihat ke dalam. Saya mengendap lagi ke belakang rumah. Saya memilih tidak berteriak untuk membangunkan warga, sebab jujur saja, saya penasaran terhadap apa yang akan diperbuat terdakwa. Lagi pula, saya bukan termasuk orang yang suka dengan hal-hal ramai, Yang Mulia.”

“Itu tidak benar, Saudara!” kata hakim menyela, “semestinya saudara harus mencari bantuan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat! Membiarkan tindak pidana terjadi itu juga terkena pasal. Ini hukum, Saudara. Saudara jangan main-main! Silahkan lanjutkan.”

“Baik, Yang Mulia. Anehnya, malam setelah terdakwa berada di dalam rumah, lampu ruang tamu rumah hakim Pak Sumali menyala. Saya tahu dari luar. Saya terus mengintip lewat kaca rumah mewah. Saya tidak bisa melihat ke dalam. Saya mencari celah lain. Akhirnya saya menemukan sepotong jendela kaca yang selambunya tersibak sedikit, mungkin selambu itu tersibak karena angin, Yang Mulia. Saya kaget, ternyata terdakwa duduk berbicang dengan hakim Pak Sumali di ruang tamu, mereka berbicara serius, Yang Mulia. Lamat-lamat saya mendengar hakim Pak Sumali berbicara dengan suara seperti menahan marah: ‘kenapa kamu main congkel pintu rumah?’ kata Pak Sumali.”

“Baik. Ceritakan semua dengan seditil-detilnya!” kata hakim.

“Baik, Yang Mulia.”

Jumpalto Nartomo alias Jumo pun bercerita mengenai peristiwa kriminal malam itu di rumah hakim Pak Sumali. Ketiga majelis hakim mendengarkan dengan tenang. Terdakwa Misnawi duduk dengan kepala menunduk. Ketiga orang jaksa penuntut umum dan pengacara bersongkok putih juga memasang kuping mereka baik-baik. Pencatat sidang siaga dengan alat tulisnya.

***

“Misnawi, kenapa kamu main congkel pintu rumah?” tanya hakim Pak Sumali setelah keluar dari pintu kamarnya dengan nada yang menahan marah.

Misnawi duduk dengan tenang di kursi tamu hakim Pak Sumali. Hakim Pak Sumali menyalakan lampu besar, sebelum lampu besar itu dinyalakan, ruangan itu diterangi lampu kecil.

“Duduk!” jawab Misnawi.

“Kamu keterlauan!” hakim Pak Sumali duduk.

Hakim Pak Sumali dan Misnawi berhadap-hadapan.

“Saya tidak perlu memakai sopan santun untuk hakim macam kamu!” kata Misnawi.

“Kamu tidak bisa begitu! Kamu tidak bisa sewenang-wenang! Masalah hukum adikmu sudah saya ringankan,” jawab hakim Pak Sumali.

“Apa?! Diringankan?! Mana diringankan?!”

“Dia saya vonis hanya 2 tahun penjara. Itu belum potongan hukuman. Tidak sampai dua tahun, adikmu akan bebas.”

“Tidak! Itu bukan kesepakatan kita! Saya minta adik saya dibebaskan dari segala tuduhan dan ancaman hukum.”

“Itu tidak mungkin! Pelanggarannya berat. Vonis dua tahun itu sudah ringan bagi dia yang terancam hukuman 15 tahun penjara.”

“Tapi, itu bukan kesepakatan kita! Anda telah mendapatkan apa yang Anda inginkan, sedangkan saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan. Dan untuk itu, Anda harus membayarnya!”

Misnawi bangkit. Dia mencabut belati yang ia selipkan dipunggungnya. Belati itu mengkilap terkena cahaya lampu besar. Hakim Pak Sumali juga bangkit. Dia masih mengenakan pakaian tidur.

“Kamu mau apa?”

“Membayar Anda dengan belati.”

Misnawi melompat. Hakim Pak Sumali dengan sigap menghindar. Dia berlari ke arah kamarnya. Misnawi mengejar. Hakim Pak Sumali menutup pintu kamarnya. Misnawi terlambat, dia masih di luar dan hakim Pak Sumali sudah di dalam kamar. Kamar dikunci oleh hakim Pak Sumali. Misnawi terbakar, dia menendang-nendang, mendobrak-dobrak pintu kamar. Pintu kamar terlalu kokoh. Pintu kamar tidak roboh. Istri hakim Pak Sumali sudah bangun. Hakim Pak Sumali membuka laci bawah meja rias istrinya. Hakim Pak Sumali mengeluarkan pistol dari dalam laci. Jumo tidak mengetahui kejadian di dalam kamar. Dia hanya mengintip lewat kaca jendela yang selambunya tersibak sedikit oleh angin. Jumo hanya mendengar bunyi pintu didobrak oleh kaki Misnawi. Jumo berhasil mendengarkan pembicaraan keduanya tadi. Jumo takut, ia melompat ke semak-semak. Ia lari.

***

“Apakah yang Saudara katakan merupakan suatu kebenaran?” tanya hakim.

“Suatu kebenaran, Yang Mulia. Saya tidak mau melanggar sumpah. Saya tidak ingin dikutuk Tuhan karena berkata bohong dalam persidangan ini, karena saya sudah disumpah, Yang Mulia.”

“Bagus. Sekarang lantas jika kejadian itu sedemikian tragis dan mengerikan, kenapa jaksa penuntut umum ini hanya mengancamkan pasal yang ringan kepada terdakwa Misnawi? Misnawi hanya diancam 1 tahun penjara. Padahal jika mengikuti cerita Saudara, seharusnya Misnawi mendapatkan ancaman hukuman 15 tahun atau seumur hidup.”

“Saya tidak mengerti hukum, Yang Mulia. Saya hanya menceritakan apa yang saya saksikan.”

“Sekali lagi saya bertanya kepada Saudara, sudah benarkah kesaksian Saudara? Tidak bohong? Kalau bohong, Saudara akan dikutuk Tuhan agama Saudara sendiri. Dan ada pasal dengan sanksi hukuman yang sangat berat untuk sebuah kesaksian palsu. Ingat, Saudara! Ini negara hukum, setiap sesuatu sekecil apa pun harus diselesaikan dengan proses hukum, bukan kebohongan atau dendam. Ingat!”

“Saya selalu ingat, Yang Mulia.”

“Bagus.”

Hakim ketua berbisik kepada kedua anggotanya yang berada di kanan kirinya. Kedua hakim anggota itu nampak mengangguk sambil sedikit tersenyum, nampaknya keduanya tidak ingin diketahui bahwa sedang tersenyum.

“Baik. Saya minta terdakwa dan seorang jaksa, juga pengacara menghadap ke depan untuk melihat barang bukti,” kata hakim ketua.

Seorang jaksa dengan baju kekecilan itu maju ke meja hakim. Terdakwa Misnawi juga maju, pengacara gemuk kepalanya mengenakan songkok putih karena ia baru pulang dari tanah suci, juga maju.

“Benar ini belati yang Anda pegang pada malam itu di rumah hakim Pak Sumali?”

“Bukan, Yang Mulia,” jawab terdakwa Misnawi.

“Apa? Bukan?!”

“Benar! Betul-betul bukan, Yang Mulia.”

“Bagaimana, Saudara Jaksa?”

“Ini bukan belati milik terdakwa Misnawi, Yang Mulia. Misnawi mempunyai belati lain, Yang Mulia.”

“Lalu ini milik siapa? Mana belati yang lain?”

Terdakwa Misnawi, jaksa dan pengacara yang baru pulang dari tanah suci saling pandang penuh heran. Ketiga hakim itu pun saling pandang penuh heran.

“Lalu ini belati milik siapa? Kenapa sampai di persidangan jika belati ini memang bukan barang bukti yang meyakinkan? Bagaimana proses penyidikan? Mana belati yang lain?”

Terdakwa Misnawi, jaksa dan pengacara yang baru pulang dari tanah suci saling pandang penuh heran.
Jumo mencoba mengamat-amati belati itu.

“Baik. Silahkan kembali,” perintah hakim.

Terdakwa Misnawi, pengacara gemuk bersongkok putih karena baru pulang dari tanah suci dan jaksa kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Saudara Jumo.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Anda tahu ini belati milik siapa?”

Jumo mengamat-amati belati yang mengkilap bila terkena cahaya itu.

“Silahkan mendekat.”

Jumo berdiri. Badannya kurus jangkung, seolah kepalanya hendak menyundul eternit ruang persidangan. Diamat-amatinya belati itu baik-baik.

“Bagaimana, Saudara?”

“Belati ini seperti pernah saya lihat, Yang Mulia.”

“Apakah ini belati yang dibawa terdakwa Misnawi pada malam itu, Saudara?”
Jumo menamatkan pengamatannya. Diam. Dia mengingat-ingat dengan keras dan bersungguh-sungguh.

“Belati ini menjadi kunci masalah. Siapa pemilik belati ini? Siapa yang telah menggunakannya? Kalau bukan milik terdakwa Misnawi, mana belati yang lain?”

Jumo diam.

“Jawab, Saudara!”

Gugup.

“Saya tidak tahu, Yang Mulia. Malam itu saya tahu terdakwa Misnawi membawa belati, tapi saya tidak mengamati dan tidak menghapal ciri-ciri belatinya itu. Sehingga saya tidak ingat, Yang Mulia.”

“Baik.”

Jumo duduk kembali di tempat duduk saksi.

Hakim ketua berbisik-bisik dengan kedua orang anggotanya. Kedua anggota hakim itu terlihat manggut-manggut pertanda setuju dan memahami sesuatu. Lalu tersenyum sinis.

“Baik. Persidangan ditunda sampai hari Kamis yang akan datang!” hakim memukulkan palunya tiga kali, kumisnya yang memanjang di kedua sisinya itu mengesankan kepahaman menguasai persoalan.

Banyuwangi, 2010

Senin, 01 November 2010

KOTA MALAM

Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Pada sebuah kota. Orang menyebut kota ini dengan sebutan: Kota Malam. Kota Malam ditinggali oleh hanya hampir 5 ribu penduduk saja. Bila siang, kota ini tidak ramai, sepi, lengang di jalanan, kau tidak akan menemukan lalu lintas yang macet, karena di samping penduduknya hanya sedikit, kota ini tidak terlalu luas. Penduduknya jarang melakukan aktivitas pada siang hari. Sekolah dan tempat-tempat publik lainnya buka di waktu malam. Aneh. Tapi, memang ini nyata. Bukan fiksi. Kecuali sekolah TK dan SD, semua buka malam. Hanya anak-anak TK dan SD yang bersekolah di waktu pagi. Anak-anak SMP, SMA, dan mahasiswa beraktivitas malam hari.

Kota kecil yang bernama Kota Malam ini terletak dekat pantai. Dari pusat kota ke pantai hanya beberapa kilo saja. Dan ketika malam, segala aktivitas dijalankan. Perkantoran dan gedung-gedung pemerintah juga layanan-layanan publik buka. Segalanya menjadi bergairah di waktu malam, seolah kehidupan dimulai ketika malam. Kau akan melihat orang-orang berkendaraan dengan riang di jalanan ketika malam, berbelanja atau berjalan-jalan. Lampu-lampu dinyalakan. Tapi anehnya, Kota Malam tidak pernah menyalakan lampu terang benerang, mereka menyalakan lampu-lampu redup. Seolah di kota ini, orang-orang takut atau alergi dengan cahaya terang dan alergi terhadap siang hari.

Aku berada di kota ini. Tentu saja secara kebetulan. Berdagang di Kota Malam. Hanya berdagang kain keliling. Dan entah bagaimana tiba di Kota Malam ini. Awalnya aku menumpang kereta menuju pulang. Tapi, terjadi keanehan yang tidak kudaga denga akal, kereta menuju ke stasiun yang bukan tujuanku. Tiba-tiba malam, aku terbangun oleh bunyi suara pengeras suara yang mengumumkan: "Selamat datang di Stasiun Kota Malam. Jangan lupa barang-barang Anda. Selamat menikmati malam di Kota Malam, kota impian, kota sejuta kesenangan. Hati-hati dengan cahaya." Aku terbangun. Ini bukan tujuanku. Aku mulanya tidak mau turun. Tapi, petugas kereta menegurku: "Silahkan turun dan bertamasyalah di Kota Malam. Anda bisa langsung naik angkutan atau ojeg ke pusat Kota Malam. Kereta tidak akan diberangkatkan lagi," kata petugas kereta itu sambil tertawa, giginya hitam dan tidak menyenangkan. Terpaksa, aku turun. Naik ojeg dengan barang-barang daganganku. Kupikir baiklah berdagang di Kota Malam.

Sebulan sudah aku tinggal di Kota Malam ini. Aku tidur di sembarang tempat. Aku tidak perlu mengontrak kamar karena itu akan mengurangi laba daganganku. Laba berjualan kain tidak banyak, kain bukan barang dagangan yang laris. Orang-orang lebih baik membeli baju jadi di toko daripada membeli kain untuk kemudian dijahit menjadi baju atau celana. Aku bisa tidur di teras rumah entah rumah siapa. Dan waktu tidurku pun terbalik, aku tidur di waktu siang, karena di malam hari aku harus berdagang. Orang-orang di Kota Malam ini beristirahat di waktu siang dan beraktivitas di waktu sejak matahari tenggelam hingga matahari terbit. Tidak ada angkutan yang memungkinkan untuk bisa membawaku pulang. Dan di samping itu, aku tidak tahu di mana letak kota ini, sehingga aku tidak tahu harus menempuh jalan ke arah mana untuk menuju pulang.

Seorang gelandangan di kota ini pernah kudapati sedang tidak beristirahat di waktu siang. Ia tidur saat malam. Tiap kali saya mendasar dagangan di tepi jalan simpang di pusat kota, gelandangan itu kudapati tertidur pulas di atas trotoar di bawah tiang lampu. Dan ketika siang, ia tidak ada di situ. Aku merasa ada yang lain. Umumnya orang-orang kota ini tidur siang dan beraktivitas malam, tapi gelandangan ini lain. Mungkin ia bukan penduduk asli Kota Malam. Mungkin ia pendatang yang terjebak sepertiku di sini, pikir saya.

Dan keingintahuanku membuatku mendekatinya malam itu. Saya mencoba membangunkannya. Dia menggeliat, dengan mata yang masih mengantuk, ia menatapku.

"Mau apa mengganggu orang tidur?" tanyanya.

"Kenapa Bapak tidur malam? Bukankah hampir semua orang di kota ini beraktivitas di waktu malam dan tidur saat siang?" tanya saya.

"Anda orang baru ya?"

"Betul. Kereta membawa saya ke sini. Saya berdagang kain. Saya tidak menemukan jalan untuk pulang."

"Anda sama dengan saya. Saya sudah 13 tahun di sini sejak jatuhnya seorang presiden. Orang-orang di sini tidak mau beraktivitas siang, mereka takut ketahuan, takut terlihat, mereka akan membunuh semua lampu-lampu terang lalu menggantinya dengan lampu-lampu redup. Mereka tidak bisa membunuh matahari, itulah karenanya mereka mencintai malam, remang dan dalam remang segalanya tidak jelas. Ketidakjelasan itu tidak tercium hukum sebab hukum hanya mengenal yang jelas dan pasti."

Gelandangan itu tidur kembali. Dari jauh datang petugas menghampiriku.

"Anda ditangkap karena banyak bertanya," kat petugas memborgol tanganku.

Aku tidak paham.Aku masuk dalam kendaraan petugas.Saya teringat rumah dan istri berrama anakku yang pasti menungguku pulang membawa laba.Dan di jalanan Kota Malam, orang-orang bergembira ke sana ke mari pada malam hari bagai kelelawar.

Muncar, 2010

PABLO

Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

Di tepi sehelai sungai muara yang jernih, airnya mengalir segar dan tenang ke laut. Ikan-ikan berenang di sungai itu. Sebuah rumah kayu sederhana menghadap ke laut yang selalu mendebur, angin pantai, awan-awan melayang bagaikan dalam impian. Di situ ia hidup menghabiskan usia, menulis puisi dan berpolitik. Tukang pos hampir setiap saat mengantar surat-surat kepadanya, ia membaca surat-surat dan menulis surat-surat, membaca buku dan menulis buku. Karya sastra dan politiknya membawanya pada popularitas di mata dunia, menjadi integritas yang seolah tak tergantikan. Namun sama sekali ia tidak asing di kampungnya yang terpencil. Ia berbaur dengan rakyat kecil yang buta huruf di pedalaman Cile. Bisa kita bayangkan, betapa gilanya orang ini, seorang penyair yang hidup di tengah masyarakat buta huruf dan masyarakat itu menokohkannya justru karena puisi-puisinya. Semangat hidup yang berkilau yang tak terbantah oleh gairah gelombang lautan atau sekadar Nobel Sastra. Integritasnya diusung dari keterpencilan tempat tinggalnya yang terasing dari pergaulan nasional dan internasional, terbelakang dan ditinggalkan. Itu bukan kemustahilan. Ia tampil sebagai wakil mereka yang tertinggal di mata negara dan dunia.

Dia tersenyum bijak. Tertawa dengan renyah, ringan dan putih. Orang-orang buta huruf itu mengoleksi buku-buku puisinya, mereka memajangnya di almari kaca, setiap hari dibersihkan dan diberi wewangian. Masyarakat buta huruf itu selalu kagum dan terpana ketika ia membacakan puisi-puisinya, mereka selalu berharap mendengarkannya membaca puisi-puisinya. Puisinya menjadi penting bagi masyarakat buta huruf itu.

Demikian secarik kecil kisah Anthonio Skarmeta tentang Pablo Neruda.

Muncar, 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Catatan Akhir Oktober

Orang boleh terkena masuk angin, kedua lobang hidungnya mengeluarkan lendir, bersin-bensin dicampur batuk, tenggorokan seperti lengket di dalam karena pilek. Musim hujan tahun ini tidak konsisten, kadang panas tiba-tiba saja lalu hujan tiba-tiba pula. Perubahan cuaca yang cepat membuat orang gampang flu. Kau boleh mengusir flumu dengan minum jamu atau obat di toko, boleh juga dengan cara lama, yakni dikerok.

Ia pun menulis. Diam-diam sebenarnya ia mengimpikan rumah. Penulis itu, tentu saja ada yang punya rumah sendiri dan ada pula yang belum punya sendiri. Kau boleh meyakinkan dirimu bahwa sejatinya menulis itu adalah menyelenggarakan pesta pemikiran dan keindahan, bahan bacan yang kaya akan menjadi penentu pula kualitas tulisan.

Hari ini tubuhmu lemas akibat flu, padahal sudah minum jamu dan obat toko. Istrimu bermain bersama anakmu yang masih tiga tahun. Melihat istrimu, kau terkagum-kagum. Bagimu, istrimu adalah wanita seksi dengan kulit bersih yang selalu membuatmu ingin selalu bercinta dengannya di atas spring bed baru. Kau merasa sudah lama tidak bercinta dengan istrimu pada siang hari. Seks yang panas akan menyembuhkan flu, kata seorang pakar seksologi, karena itu membakar karbon dioksida dalam tubuh, tambahnya.

Sementara di luar sana, orang-orang berlalu-lalang di jalanan. Kita tidak tahu apa yang disibukkan oleh mereka satu persatu. Kita hanya melihat kesibukan yang begitu ramai dan terburu. Bulan ini Merapi menelan nyawa, termasuk juru kunci yang mati begitu indah itu, Mbah Maridjan. Kehidupan ini terkadang penuh misteri, tentu saja apa yang terpegang hari ini belum tentu terpegang esok hari. Apa boleh buat, waktu terus berlalu dan kehidupan hanya mengenal perubahan yang terus-menerus.

Tadi malam, seseorang telah menabrak kucing dengan motornya yang berlari kencang. Mayat kucing itu dibungkus bajunya, lalu dikuburkan menghadap ke utara dengan bunga pada pukul 23.00 Wib. Itu harus dilakukan untuk menghindarkan kesialan, nasehat Mbah Buyut. Ya. Lakukanlah dengan baik. Karena sejatinya, kau dididik untuk menghargai setiap makhluk ciptaan Tuhan sekecil apa pun, setelah menabrak kucing atau binatang lain hingga mati, sudah seyogianya kau menghormati bangkai binatang sebagai wujud penghormatan dan kerendahhatianmu kepada setiap ciptaan Tuhan yang Dia ciptakan dengan cinta. Jika kau tak menghargai ciptaan-Nya, seperti bangkai kucing itu, maka level kehambaan sama saja dengan kucing. Ironis. Manusia kayak kucing, itu merusak kehidupan.

Muncar, 31 Oktober 2010
Taufiq Wr. Hidayat