Selasa, 28 Desember 2010

50-08 : Pomo Martadi

Tidak perlu langit menjatuhkan hujan,
pada petang,
pada lengang,
pada tenggelam,
pada benam,
pun kelam.

Mata-mata kelabu,
dongeng kijang yang biru,
seteru dari segala debu,
dan kerinduan,
dan jejak yang mungkin terlupakan,
dan kata memperpanjang usia,
dan umur yang menegas kapuk tua,
dan mencari yang tidak berhenti.

Apa boleh buat,
kita berjalan belaka,
langit hitam,
malam,
hujan pun,
jendela rumah tua,
dan tidak bertanya mengenai sofa,
kopi,
rokok,
berjalan belaka,
becek dan mengepul di bawah genting entah siapa.

Kucoba menemukan peninggalanmu,
tanda baca dan tata kata,
tak kutemu,
tak kaudatang.

Bukankah langit,
bumi,
dan sebatang dji sam soe,
malam,
lobang bumi kelabu,
seteru debu,
rindu,
melulu.

Taufiq Wr. Hidayat
Banyuwangi, Desember 2010

Selasa, 21 Desember 2010

Bulan Desember

Kemudian kita bergegas di malam yang benam.
Bulan tertawan.
Sedang hujan, katanya.
Jauh dari rumah.
Dan jendela tua.
Tak usah membayangkan sofa dan keripik tortilla.
Kita ke situ saja, melipat kemeja, basah.
Lalu bertanya arah pada seseorang yang berdiri di tikungan sana, yang entah siapa.

Taufiq Wr. Hidayat
Muncar, 21 Desember 2010

Rabu, 08 Desember 2010

Bupati yang Cantik dan Pasar Tradisional










Oleh: Taufiq Wr. Hidayat



Pasar induk tradisional Banyuwangi sudah ramai tepat pukul 02.00 dini hari. Orang-orang membawa dagangan; terong, cabe, bawang, alpokat, dll. Mereka mendasar dagangan di sepanjang jalan, tepatnya di belakang mall Sritanjung. Di sepanjang jalan itu, sejak dini hari, aroma timun dan sayuran, wortel dan bawang merah menggoda hidung. Warung kopi Pak Kopok menyediakan kopi panas dan nasi bungkus hangat, kerupuk dan tahu goreng. Riuh. Jam 02.00 dini hari, waktu di mana para pejabat sedang tidur lelap di kasur empuk dalam mimpi malam lelap berdua senyap. Tapi, waktu dini hari di pasar induk Banyuwangi itu sudah ramai dan diliputi semangat. Suasananya hangat walaupun ketika diserang hujan angin yang gemigil, akrab dan menyenangkan. Kita bisa mendapatkan keharmonisan di pasar tradisional Banyuwangi ini, keramahan, dan rasa kebersaudaraan yang lekat yang tidak mungkin didapatkan di dalam mall atau supermarket. Di pasar tradisional ini, kita akan melakukan tawar menawar, harga bisa berkurang dari nominal yang ditawarkan penjual. Proses ini pun menciptakan sebentuk kedekatan emosional antarorang yang tidak membedakan status sosial-politik-ekonomi, melainkan lebih pada suatu komunikasi kemanusiaan yang indah dan wajar. Tentu saja tidak demikian halnya di supermarket atau mall, barang telah ditempeli angka nominal yang lengket, tidak bisa ditawar, sudah harga bandrol.



Adanya pasar tradisional adalah satu indikator aktual dari kegiatan ekonomi rakyat di suatu daerah. Pemerintah semestinya melihat serius keberadaan pasar tradisional sebagai satu di antara sarana publik yang menyokong ekonomi kerakyatan. Keberadaan ruang dan rentangan waktu, life style yang diiklankan oleh media publik menjadi “iman baru” sudah membuat eksistensi pasar tradisional sedikit terusik. Tapi pada kenyataan yang tidak terpungkiri, pasar tradisional tetap mampu bertahan dan bersaing di tengah invasi pasar modern dalam segala bentuk dan caranya. Pasar tradisional mampu memutar uang sekian ratus juta dalam hitungan jam dibandingkan dengan supermarket yang 24 jam itu, lihat saja pasar tradisional induk Banyuwangi, Rogojampi, Genteng, dan beberapa tempat lain di Banyuwangi. Kualitas barang-barang di pasar tradisional pun tidak kalah, cuma tidak memakai bandrol harga dalam kemasan. Karakter dan budaya konsumen mempertahankan eksistensi pasar tradisional, yakni proses tawar-menawar, kekeluargaan, dan tentu saja murah meriah. Pemerintah semestinya bersungguh menata dan mempertahankan eksistensi pasar tradisional, ia musti sadar bahwa pasar tradisional sebagai pusat aktivitas ekonomi masihlah dibutuhkan rakyat. Perhatian pemerintah perlu dinyatakan dengan melakukan revitalisasi pasar tradisional di Banyuwangi. Sasarannya sederhana saja dan menyentuh kebutuhan mendasar para pelaku. Sejauh ini, pasar tradisional selalu memiliki citra sebagai tempat belanja kumuh, becek, bau, dan oleh sebab itu hanya dikunjungi oleh kelompok masyarakat kelas bawah, kecuali kunjungan calon bupati ketika berkampanye. Pencitraan pasar tradisional itu harus diubah menjadi tempat yang bersih dan nyaman. Dengan demikian, rakyat dari semua kalangan tertarik datang dan melakukan transaksi. Pemerintah mempunyai hak mengatur pasar tradisional dan pasar modern. Tetapi aturan yang dibuat pemerintah tentu tidak boleh diskriminatif. Pedagang kecil, menengah, besar, bahkan perantara (makelar) atau pun pedagang toko seharusnya punya kesempatan sama dalam berusaha.



Persaingan antarpedagang tidak mudah saja, tidak hanya saingan antara yang besar lawan yang kecil, melainkan pula antara yang besar lawan yang besar, yang kecil lawan yang kecil. Sebagai regulator, pemerintah perlu mewadahi aspirasi yang berkembang tanpa ada yang merasa dicelakakan, melindungi dan memberdayakan pedagang kelas teri karena jumlahnya mayoritas. Di lain pihak, peritel (pedagang) besar pun punya sumbangan besar dalam ekonomi; menyerap tenaga kerja dan justru memberdayakan dan meningkatkan kualitas ribuan pemasok yang umumnya pengusaha kecil menengah. Keseimbangan antara besar dan kecil mestilah dijaga dengan baik. Dan pemerintah mempunyai peran itu.



Di Banyuwangi, pedagang kecil di pasar tradisional selalu merasa disisihkan. Mereka bagaikan menjalani nasib “kutukan” sebagai pedagang sepele yang hak dan labanya selalu saja tidak mencukupi. Mereka bagaikan bekerja belaka, memutar roda kehidupan. Namun, tentu saja karakter dan budaya penjual-pembeli memberikan sebentuk ruang bernapas bagi mereka di tengah ruang dan rentang waktu yang menyempit, bahkan mengancam. Man Sardawat mengeluhkan kepada saya, bahwa akhir-akhir ini ia tidak memperoleh laba sebagai rejeki dari Tuhan yang tentu dibagi rata oleh-Nya di muka bumi. Man Sardawat adalah pedagang kecil di pasar tradisonal Banyuwangi, ia mengeluhkan dagangannya yang diambil tanpa sepengetahuannya oleh petugas pada malam hari. Cabe yang di bulan Desember 2010 ini berkisar Rp30.000,- diambil, dan untuk mendapatkan dagangannya itu kembali, Man Sardawat harus menyiapkan sejumlah uang tebusan (denda?), diberi penataran dulu, baru boleh membawa dagangannya. Berapa laba yang didapatkan Man Sardawat jika ia harus membayar uang tebusan? “Malah saya sering temblong,” keluhnya ketika berbincang dengan saya di warung kopi Pak Kopok dini hari itu. Keluhan Man Sardawat mewakili keluhan pedagang-pedagang kecil lainnya di pasar induk tradisional Banyuwangi. Tentu saja, “belum ada seorang anggota dewan pun yang telah mendengarkan keluhan kami,” kata Man Sardawat. Jangan berharap, gumam saya di dalam hati, dan Man Sardawat tidak mendengarnya.



Tempat itu memang bukan untuk berjualan, tempat yang digunakan untuk berjualan oleh pedangang kecil tradisional Banyuwangi adalah jalan raya. Sehingga mereka harus mendasar jualan mereka pada pukul 02 dini hari, sebagian besar mendasar dagangannya pada pukul 05 pagi, lalu mereka semua harus sudah membersihkan dagangan mereka dari badan jalan tepat pukul 07 pagi, karena jika mereka terlambat satu menit saja, maka dagangan mereka akan diangkut oleh truk petugas berseragam: disita. Mereka pun tergopoh-gopoh, padahal para pembeli masih banyak yang akan melakukan transaksi di pasar tradisional itu. Dan di warung-warung kopi, mereka akan meluapkan grundelan mereka, makian, juga rasa kesal yang menyedihkan. Bagaimana tidak, mereka kehilangan laba, pun setoran di “bank harian” dan setoran-setoran kredit lainnya menunggak, tentu saja berbunga. Keluhan itu bukan gaung suara besar, namun ia mewakili penderitaan kelompok kecil di tengah kehidupan kita yang terdengar begitu lirih, sesekali mendengung bagai lebah. Mereka bercerita, bahwa beberapa bulan yang lalu mereka pernah didatangi seorang calon bupati yang kini sudah terpilih sebagai bupati Banyuwangi. Calon bupati itu, menurut mereka, datang untuk berbelanja ke pasar tradisional, ia berjanji akan memperhatikan pasar tradisional dengan sebaik-baiknya dan mengijinkan pasar buka sampai pukul 09 pagi. Tapi, pada kenyataannya pasar harus sudah tutup persis pukul 07 pagi.



Tata kota kita tampak kumuh. Bukan pasar tradisional kita yang kumuh. Di situ sudah ada tukang sampah yang tentu saja didanai oleh dana dari rakyat. Kita memerlukan kebersihan, keindahan dan kecantikan. Kebersihan, keindahan, dan kecantikan tidak serta-merta datang bagaikan hujan dari langit. Ia harus diupayakan dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan seorang pemimpin harus melakukan hal itu dengan semangat mengayomi yang lemah, pun menurut regulasi yang ada. Di tengah keluhan dan kekesalan rakyat, di situlah seorang pemimpin berada. Sederhana saja mencari letak peran pemimpin itu, bukan?



Immanuel Kant dalam Idea for a Universal History from a Cosmopolitan Point of View, 1784, mengetengahkan tentang keramahtamahan universal (cosmopolitan right) yang tentu didasari regulasi dan keperdulian yang tidak sekadar “abang-abang lambe” dari pemegang kebijakan. Ia mendasar pada hubungan simbiosis sejarah-budaya dalam istilah Antony Black. Dalam Islam, yang disebut sebagai jabatan dan aktivitas politik termasuk dalam kategori “amanah” dan “tugas publik” (waliyat). Dengan demikian, seorang penguasa politik wajib “menyampaikan amanat kepada pemberi amanat itu” dan untuk “menghukumi secara adil” (QS. An-Nisa [4]: 61-62). Tujuan semua tugas publik (waliyat) adalah mewujudkan kesejahteraan material dan spiritual manusia, sebagaimana kaidah fiqh tasaruful imam ‘ala arro’iyatih al manutun bil mashlahah, yakni bahwa kebijakan atau tingkah pola pemimpin dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin harus mempertimbangkan dan demi kesejahteraan rakyat. Pemimpin seperti ini, yang dalam istilah kita disebut seorang “pemimpin yang cantik”. Bukan tampan, karena ketampanan tidak mencakup popularitas. Dalam kecantikan bukan tidak ada kejantanan atau keberanian mengambil keputusan untuk kebaikan bersama. Demikianlah seorang pemimpin. Jika ia sekadar cantik, yakni gagah dalam posisinya, dengan baju formal, senyum yang indah, kulit bersih yang mengkilau oleh hand body, dan retorika yang membuai, maka itu bukan kecantikan. Tapi sebaliknya.



Pasar tradisional Banyuwangi merindukan bupati baru atau pemimpin “yang cantik” yang telah mereka pilih dalam pemilu 2010 dan menyimpan kesempurnaan manusiawi sebagai pemimpin dengan segala perangkat formalitasnya. Mereka adalah rakyat, orang kecil yang memegang kedaulatan. Sungguh suatu yang wajar mendengarkan dan memenuhi harapan mereka, bukan?



Banyuwangi, Desember 2010

Senin, 22 November 2010

Darmo Kanal


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Darmo Kanal adalah nama pemberian orangtuanya sejak kecil. Tidak ada tendensi dan prestise apa pun terkait namanya tersebut. Ia lahir sebagai seorang laki-laki. Genap berumur 40 hari setelah lahir ke dunia, ia diberi nama oleh bapaknya, Darmo Kanal. Darmo Kanal bagaikan sebuntal daging ayam segar yang selalu menarik perhatian orang, kemudian orang akan membayangkan jika daging itu digoreng atau dimasak merah bumbu pedas. Dagingnya berwarna kekuningan. Segar. Matanya seperti sumur, yang dalam dan gelap, kita tidak tahu apa yang terdapat di dalam lubang gelap itu. Alisnya yang tebal membuat orang yang memandangnya ingin bersembunyi di sela-selanya. Di sela alisnya. Warnanya hitam. Telinganya seperti telinga gajah, membuat kita yang memandangnya seolah menunggu kapan telinga itu mengibas-ngibaskan dirinya. Di perumahan yang mirip perkampungan itu, Darmo Kanal tinggal. Sebuah kota kabupaten.

Darmo Kanal tinggal di sebuah rumah yang berdinding sirap pohon kapuk. Tidak dicat. Tanpa eternit. Dan bila hujan, butiran air menyerbuk dari sela-sela genting rumahnya ke dalam ruang, di saat bersamaan, cahaya lampu 5 watt menerpa butiran itu, maka serasa terlihatlah taburan butir air bagaikan serbuk kristal. Bertaburan. Kopi pahit di atas mejanya. Ia hidup sendiri. Tidak punya isteri dan anak. Di perumahan itu, Darmo Kanal dianggap orang aneh. Daging ayam yang dibungkus kain itu, mengisi waktunya dengan bermain-main bersama anak kecil. Tangannya dengan tekun dan bersungguh-sungguh membuat layangan, membuat tembak mainan dari kayu, atau membuat gasing. Anak-anak sangat senang datang ke rumahnya, ke rumah daging ayam kekuningan yang dibuntal kain. Darmo Kanal dengan riang memberikan mainan-mainan kepada anak-anak cuma-cuma. Anak-anak pun menaikkan layangan bersama Darmo Kanal. Anak-anak menarik benang layangan. Darmo Kanal mengunjukkan layangan. Layangan yang dibuat dengan kertas tipis berwarna-warni. Layangannya lumayan besar. Anak-anak harus mengikuti arah layangan yang dipermainkan angin bersama tubuh mereka.

Usia Darmo Kanal tidak terlalu tua. Usianya sekitar setengah abad. Tapi, matanya seperti sumur. Dalam dan misterius. Sumur yang tidak ada talinya. Namun mata itu adalah mata sumur yang tentu saja menyimpan air di dalamnya, sehingga anak-anak sangat gemar bermain-main di tepi pelupuk matanya karena menyimpan kesejukan, yakni kedalaman sumur itu dingin dan sepi. Namun anak-anak tetap tidak coba-coba untuk terjun ke dalamnya (walaupun di benak mereka, mereka ingin sekali masuk ke dalam lubang sumur yang gelap itu untuk mengetahui ada apa di dalamnya, mungkin ikan atau makhluk lain, mungkin juga layangan yang jatuh ke dalamnya). Tentu saja, anak-anak sangat suka sekali menyelinap di sela-sela alisnya yang tebal membelukar. Bersembunyi di balik sehelai alisnya, tangan mereka berpegangan pada sehelai alisnya itu. Mereka bermain petak umpet.

Para orangtua di perumahan seringkali melarang anak-anak mereka agar tidak terlalu asyik bermain bersama Darmo Kanal. Anak-anak bila bermain dengan Darmo Kanal, selalu lupa makan dan belajar. Padahal, Darmo Kanal selalu memasak untuk anak-anak kecil dan dimakan bersama-sama, sering juga Darmo Kanal mengajari anak-anak menghitung luas lahan persegi empat, menghitung segi tiga, atau menghitung lamanya gasing berputar.

“Bukankah itu juga belajar?” ujar seorang anak kepada ibunya. Anak itu cerdas. Ibunya sedang menyisir rambut.

“Bukan! Belajar tidak seperti itu! Belajar harus memegang buku dan alat tulis, bukan bermain-main, apalagi bermain gasing dan layangan,” jawab ibunya. Sisir terus menggaruk kepala ibunya.

Sang anak menunduk. Mungkin ia anak yang penurut pada orangtua. Sang anak masuk ke dalam rumahnya. Berpura-pura memegang buku agar terlihat oleh ibunya seolah tengah belajar. Masuk kamar, memeluk guling. Memejamkan mata seolah-olah sedang tidur. Sedikit dengkur yang palsu. Di dalam pikiran dan ingatan mereka terus terbayang wajah dan tawa Darmo Kanal. Wajah yang lapang, sehingga membuat anak-anak gemar bermain bola di permukaan pipinya yang empuk. Membuat dua buah gawang di situ. Kening Darmo Kanal adalah sungai dangkal yang bening. Selalu mengalir. Sejuk. Airnya bisa diminum. Dan setelah lelah bermain bola, anak-anak mandi di keningnya. Di sungai yang bening. Enak. Sambil bertelanjang. Sesekali minum karena haus.

Darmo Kanal adalah sosok orang yang akrab dengan anak-anak kecil. Siang hari, anak-anak ke rumahnya dan mendapati pintu rumah Darmo Kanal tertutup, mereka segera membuka daun pintu rumahnya yang tidak pernah dikunci itu. Anak-anak langsung saja masuk ke kamar Darmo Kanal yang kecil tak berpintu itu, mereka membangunkan Darmo Kanal dan menarik-narik tangan Darmo kanal mengajaknya bermain sambil merengek manja. Dengan kondisi yang agak lelah dan masih mengantuk, Darmo Kanal pun bangun dan menuruti kemauan anak-anak menghabiskan hari itu untuk bermain-main.

Kalian tidak usah iri. Darmo Kanal bagaikan seorang raja yang sangat berpengaruh di hadapan anak-anak walaupun ia tidak pernah bersikap seperti raja bagi anak-anak, kecuali jika bermain raja-rajaan. Pernah sekali waktu, Darmo Kanal melewati sebuah sekolah Tamana Kanan-kanak (TK). Dengan tanpa dikomando, anak-anak berhambur keluar dari kelasnya meninggalkan guru mereka yang sedang mengajarkan pelajaran berhitung, menghampiri Darmo Kanal sambil merengek-rengek manja. Pertama-tama seorang anak yang duduk di sudut kelas melihat Darmo Kanal sedang melewati jalan kecil di mana kelas berada di tepi jalan kecil itu.

“Darmo Kanal. Darmo Kanal di luar!” teriak seorang anak itu. Mereka tidak memanggil Darmo Kanal dengan panggilan “pak”, “pak de”, “paman”. Anak-anak memanggil namanya.

Mendengar seorang di antara anak-anak itu berteriak, spontan yang lain berdiri melongok jendela.

“Ya. Darmo Kanal.”

“Darmo.”

“Darmo, layanganku belum kau selesaikan.”

“Ya.”

“Ayoooooooooo.”

Seketika anak-anak berhambur keluar tanpa menghiraukan gurunya yang sedang mengajarkan pelajaran berhitung pagi itu di depan kelas. Anak-anak seusia 5 sampai 7 tahun itu berhambur mengerubut Darmo Kanal, ada yang bergelayut di tangannya, ada yang denga sigap melompat ke bahunya.

“Andi! Andi! Jangan! Nanti jatuh,” teriak Darmo Kanal kepada salah seorang anak yang nekat melompat ke bahunya.

Guru-guru TK keheranan. Para guru tidak bisa menghalangi murid-muridnya yang berhambur keluar kelas tanpa menghiraukan gurunya di depan papan tulis. Seorang guru perempuan berteriak-teriak.

“Ayo, anak-anak kembali ke kelas.”

“Tidak mau. Kita mau bermain dengan Darmo Kanal,” jawab anak-anak.

“Nakal ya! Kalau tidak segera kembali ke kelas, nanti bu guru kasih kalian hukuman.”

“Silahkan saja,” jawab seorang anak perempuan kecil yang menggelayut di tangan Darmo Kanal.

“Ya! Silahkan saja! Siapa takut,” sahut anak-anak yang lain.

Guru-guru tidak bisa berbuat apa-apa. Seorang guru perempuan mendekat. Dia berbicara kepada Darmo Kanal.

”Tolong Bapak tidak mengajari anak-anak yang bukan-bukan,” kata si guru.

”Maaf, Bu. Kami hanya bermain-main. Kami tidak melakukan apa-apa selain bermain.”

”Ya. Tapi, anak-anak sekarang perlu belajar.”

”Baiklah. Ayo anak-anak sekarang kembali ke kelas. Kalian harus belajar ujar bu guru. Ayo masuk,” kata Darmo kepada anak-anak itu. Sepontan anak-anak menuruti kata-kata Darmo. Satu persatu mereka berjalan memasuki kelas.

”Tapi, awas layanganku nanti harus selesai ya,” kata seorang dari mereka sambil berjalan menuju kelas.

”Ya. Dongeng ketela dan roti belum selesai,” sahut yang lain.

”Ya. Nanti harus ada dongeng lain.”

”Ya. Jangan dongeng ketela dan roti saja, terlalu panjang.”

”Ya. Segera tamatkan dong.”

”Terus ganti dongeng lain.”

”Aku setuju.”

”Aku ikut.”

”Ayo sudah cepat masuk kelas, bu guru sudah menunggu,” jawab Darmo Kanal.

Anak-anak kembali masuk ke dalam kelas. Tinggal Darmo Kanal dan Bu Guru di tepi jalan.

“Mohon maaf, Bu. Saya pamit pulang,” kata Darmo Kanal.

“Silahkan. Dan jangan mengganggu anak-anak lagi. Anda saya ingatkan,” jawab Bu Guru sinis sambil berjalan menuju kelas.

***

Siang itu komplek perumahan sepi. Suara ayam yang mau bertelur seperti memecah lengang. Darmo Kanal tengah tertidur di kamarnya yang sempit dan tanpa pintu. Terdengar ruang depan pintu diketuk keras.

”Selamat siang,” ujar suara dari luar.

Darmo Kanal segera terbangun dan menuju pintu.

“Selamat siang, Pak,” ujar tamu yang berseragam. Dua orang berseragam itu tidak masuk, hanya berdiri di pintu.

“Benar Anda yang bernama Darmo Kanal?”

”Saya, Pak.”

”Dengan ini, kami membawa perintah memanggil Bapak untuk kami minta keterangan di kantor polisi.”

”Atas tuduhan apa saya dibawa, Pak?” tanya Darmo kanal keheranan.

”Anda tidak kami minta berkata-kata lagi. Atas tuduhan menimbulkan perasaan tidak mengenakkan bagi warga di sini.”

”Saya...”

”Benar Anda Darmo Kanal?”

”Saya, Pak.”

”Ikut kami.”

Kedua orang itu membawa Darmo Kanal dalam sebuah mobil polisi. Mobil berwarna hitam, meninggalkan halaman Darmo Kanal yang berdebu. Knalpot mobil mengepul, kepulnya berwarna hitam.

***

Darmo Kanal duduk di kursi pengadilan. Siang itu tidak ada anak-anak yang boleh mengikuti persidangan atas tuduhan menimbulkan perasaan tidak menyenangkan terhadap Darmo Kanal. Padahal banyak anak-anak kecil hendak mengikuti persidangan itu setelah mereka mendengar bahwa Darmo Kanal disidangkan. Para orangtua mengurung anak-anaknya supaya tidak keluar rumah. Anak-anak dimasukkan ke dalam kamar dan dikunci dari luar oleh orangtua mereka, Bapak mereka tidak tahu karena sedang bekerja.

”Sidang dibuka,” kata hakim ketua mengetukkan palu.

”Saudara yang bernama lengkap Darmo Kanal?” tanya hakim.

”Saya, Pak,” jawab Darmo Kanal tenang.

“Saudara tahu kenapa berada di sini?”

“Saya, Pak.”

“Mengenai apa?”

“Mengenai tuduhan menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.”

“Anda dituduh terjerat Pasal 335 KUHP.”

”Betul, Pak. Tapi, saya heran, siapa yang merasa tidak enak atas keberadaan dan tindakan saya?”

”Para orangtua dan para guru. Anda dianggap mengajari anak-anak mereka, anak-anak didik mereka hal-hal yang tidak baik. Sehingga para guru dan orangtua itu tidak senang. Jelas tidak senang, Anda selalu mengajak anak-anak itu beramain sampai-sampai melupakan makan dan beralajar. Para guru dan orangtua tidak senang terhadap perilaku Anda. Anda berhak memberikan pembelaan, tapi pembelaan Anda harus akurat dan masuk akal.”

”Baik, Pak Hakim.”

”Bagus.”

”Saya tidak membela diri, Pak Hakim. Tapi, saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang telah dituduhkan kepada saya.”

”Anda bisa membuktikan?”

”Anak-anak kecil itu bisa menjadi saksi, Pak Hakim.”

”Tidak bisa! Mereka masih anak-anak, kejujuran dan kebenaran mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan. Boleh jadi, mereka akan bersaksi karena takut kepada Saudara jika mereka meringankan Saudara, dan akan memberatkan Saudara jika mereka takut kepada orang-orang yang menuduh Saudara. Mereka masih kecil, mereka tidak bisa disumpah. Mereka tidak tersentuh sanksi dari hukum.”

Sebagaimana kisah yang telah umum terjadi, orang seperti Darmo Kanal tidak akan pernah menang dalam persidangan. Ia divonis 1 tahun penjara, potongan tahanan 4 bulan, berarti ia harus mendekam selama 8 bulan.

Petugas membawa Darmo Kanal ke penjara. Di dimasukkan ke dalam satu sel bersama para pelaku kejahatan berat. Dalam satu ruang sel tersebut, Darmo Kanal berkumpul dengan dua orang pelaku kejahatan berat. Yang bertubuh tegap dan tubuhnya penuh tato itu bernama Nurandi alias Pandik, ia adalah pelaku pembunuhan. Pandik membunuh korbannya dengan keji. Motiv pembunuhan yang dilakukan Pandik sepele sekali. Pandik mengikat tubuh korbannya dalam gudang, menyumpal mulutnya pakai gombal, lalu Pandik memotong telinga korban yang masih hidup itu, menyiram korban dengan air panas, memotong kelamin korban, kemudian memotong leher korbannya. Pandik mengaku sangat menikmati perbuatannya itu di muka persidangan. Ia divonis seumur hidup. Wajah Pandik tidak pernah bersahabat dengan siapa pun. Dan seorang lagi bertubuh agak pendek, berkumis tebal, ia bernama Mahmudi alis Madi. Madi adalah tahanan pelaku pemerkosaan atau kejahatan seksual dan pembunuhan. Madi memperkosa perempuan berusia 14 tahun. Madi mengikat tubuh korbannya di atas ranjang rumahnya, korbannya dibius. Madi memotong payudara korbannya itu, memotong rambutnya sampai gundul, memutuskan urat leher korbannya. Dan setelah korbannya mati, baru Madi memperkosa korbannya berkali-kali. Madi dituntut hukuman mati, dan hakim memvonisnya seumur hidup. Seperti juga Pandik, Madi mengaku sangat menikmati perbuatann kejinya itu dan sama sekali tidak ada rasa bersalah. Madi selalu berliur ketika ia melihat gadis kecil usia belasan tahun, birahinya memuncak, dan ia akan melakukan kejahatan. Pandik dan Madi sudah sering melakukan pembunuhan demi pembunuhan, hanya saja yang terjerat hukum hanya satu perkara pembunuhan. Bahkan Pandik pernah menghajar sipir penjara hingga babak belur. Madi dan Pandik berkumpul baru setahun dalam satu sel, keduanya tidak pernah akur, mereka sering berkelahi, dan hasil perkelahian selalu membuat wajah keduanya bonyok. Sipir tidak lagi mengurus kedua orang kelas berat itu, itu lantaran keduanya memang susah diatur dan menyulitkan. Keduanya hampir tidak pernah dikeluarkan dari sel. Darmo Kanal dikumpulkan dalam satu ruangan dengan dua orang pelaku kejahatan yang sudah mendekam 3 tahun.

Tapi, sebagaimana kau ketahui, Darmo Kanal memiliki kelembutan yang memuat anak-anak lengket dengannya. Ia memiliki mata yang dalam seperti sumur, kening yang lapang dan mengalir sungai, alis rimbun, dan telinga yang lebar seperti telinga gajah. Telinga itu membuat orang yang memandangnya berharap mengibar-ngibaskan diri. Ia adalah sebuntal daging yang ranum. Keningnya sering digunakan mandi dan minum oleh anak-anak, pipinya digunakan lapangan sepak bola oleh, anak-anak melompat-lompat di pipinya yang empuk. Semua orang mengira, Darmo Kanal akan habis jika seminggu saja berkumpul satu sel dengan dua orang kelas berat itu. Para sipir dan penghuni penjara lainnya sudah menduga-duga akan terjadinya hal-hal yang mengerikan pada diri Darmo Kanal. Tapi, dugaan-dugaan mereka meleset.

Pandik dan Madi heran melihat wajah Darmo Kanal. Mereka seperti bertemu dengan sesosok malaikat. Darmo Kanal tersenyum. Ia tidak seolah tidak pernah memiliki rasa khawatir dan takut, seperti anak-anak. Darmo Kanal tidak kehilangan keriangannya. Pandik dan Madi merasa ada yang aneh, mereka tidak bisa memasang wajah kejam di hadapan Darmo Kanal. Mereka berdua yang selama ini tidak pernah bertegur sapa, akhirnya berdiskusi malam itu dengan berbisik-bisik agar Darmo Kanal tidak mendengar. Darmo Kanal tidur. Pandik dan Madi berbisik.

”Siapa dia? Kejahatan apa yang sudah diperbuatnya? Masa orang seperti ini melakukan kejahatan? Saya rasa dia tidak mungkin melakukan kejahatan,” bisik Madi ke telinga Pandik sambil matanya mengamati sebuntal daging yang tertidur pulas itu.

”Saya tidak tahu! Saya juga heran,” jawab Pandik pendek.

Darmo Kanal tertidur pulas. Sama sekali Darmo Kanal tidak khawatir apa-apa. Ia tidur dengan pulas seperti anak-anak. Dan dalam tidurnya, Darmo Kanal bermimpi bermain bersama anak-anak itu, anak-anak yang kulitnya putih dan tawanya juga putih. Darmo Kanal tertawa-tawa dalam tidurnya.

Banyuwangi, 2010

Minggu, 21 November 2010

Baginda Sulaiman, Semut dan Tongkat


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Baginda Sulaiman memerintahkan kepada pasukannya yang terhimpun dari bangsa manusia, jin dan jenis-jenis hewan untuk berkumpul.

“Kita akan melakukan perjalanan,” titah Baginda Sulaiman. Wajahnya memancarkan wibawa yang agung.

Seluruh pasukan dan para abdinya patuh. Pasukan berkuda, gerombolan jin, dan hewan mengikuti Baginda Sulaiman yang memimpin rombongan terbesar dalam sejarah. Burung-burung membentuk barisan di udara, jin dan manusia mengawal sang baginda mulia itu. Sebagai nabi Tuhan, Baginda Sulaiman harus memimpin dengan sebaik-baiknya, dengan kekayaannya yang paling melimpah di jagad raya, dengan kekuasaan dan kemampuannya berdiskusi dengan hewan. Hewan-hewan besar hingga yang terkecil berada dalam daya kepemimpinannya yang menghipnotis, dalam tanggungjawabnya dalam kewenangannya. Baginda Sulaiman dianugerahi tugas untuk memimpin semua makhluk dan mengayomi mereka, membawa semua makhluk ke jalan Tuhan, menyembah hanya kepada Tuhan yang esa.

“Wahai bangsa burung, aku perintahkan kalian terbang terlebih dahulu ke depan untuk memantau dan memastikan bahwa di depan sudah aman,” seru Baginda Sulaiman kepada burung-burung, tentu Baginda menggunakan bahasa burung.

“Daulat, Baginda,” jawab burung-burung penuh kepatuhan.

Baginda Sulaiman menaiki kuda. Ia memimpin rombongan dengan gagah. Debu-debu mengepul oleh derap kaki kuda. Kalimat-kalimat Tuhan mengumandang dari rombongan bergairah. Rombongan jin, manusia, dan hewan itu melewati padang rumput, bukit, dan sungai-sungai, memasuki hutan rimba. Di antara rombongan jin, hewan dan manusia yang dipimpin Baginda Sulaiman itu belum ada yang tahu ke mana tujuan mereka. Mereka hanya patuh kepada perintah rajanya.

“Sebenarnya kita ini mau ke mana? Sudah seharian kita berjalan,” bisik seekor singa kepada kawannya.

“Mana aku tahu. Kita hanya mengikuti titah Baginda,” jawab singa yang lain.

“Kita akan ke mana?” tanya seorang pasukan kepada sahabatnya.

“Aku tidak mengerti. Ini sudah kehendak Baginda, kita tidak memiliki hak bertanya. Sebab, kalau Baginda marah, habislah kita,” jawab yang lain.

“Tapi, ini sudah lelah,” bisik sesosok jin.

“Hus! Jangan keras-keras bicara seperti itu, jika Baginda mendengar percakapan ini, kita akan selesai,” bisik jin yang lain mengingatkan kawannya.

Mereka pun diam. Dan di depan, Baginda Sulaiman terus tegap dan bersemangat memacu kudanya memimpin rombongan terpanjang dan terlengkap dalam sejarah.

“Ayo! Maju! Terus berlari! Lari yang kencang. Perjalanan kita masih jauh dari tujuan,” seru Baginda Sulaiman.

Seluruh bangsa jin, manusia dan hewan serentak mengumandangkan kata: “Daulat, Baginda.”

Rombongan terus melaju dengan kencangnya. Ribuan manusia menunggangi kuda. Ribuan hewan dan jin mengiringnya. Rombongan melaju dengan gagah. Pacu. Pacu. Pacu.

Baginda Sulaiman adalah manusia pilihan Tuhan. Ia memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa. Sehingga grundelan pasukannya di belakang, ia mendengar dengan jelas. Cuma ia diam saja. Ia hanya memaklumi bahwa manusia biasa, jin dan hewan tidak memiliki kekuatan semangat sebagaimana dirinya, dan mereka hanya patuh pada kebesaran kekuasannya. Baginda Sulaiman sambil memacu kudanya tengah berpikir mencari sebentuk alasan untuk mengajak seluruh pasukannya beristirahat. Dan suara kecil itu pun masuk ke dalam telinga Baginda Sulaiman. Suara kecil yang terdengar oleh telinga Baginda itu berjarak beberapa kilo meter di depan. Itulah suara segerombolan semut yang tengah mencari makan di permukaan bumi.

“Wahai seluruh rakyat semut, ayo berkumpullah kalian semua. Segeralah masuk ke dalam lobang, ajaklah anak dan istri kalian dengan segera. Jalan ini akan dilewati ribuan pasukan Baginda Sulaiman. Cepat masuk ke dalam lobang agar kalian tidak mati terinjak kaki-kaki pasukan Baginda Sulaiman,” seru raja semut.

Semut-semut panik. Jarak pasukan Baginda Sulaiman sudah amat dekat, mana mungkin semut-semut itu bisa berjalan cepat masuk ke dalam lobang persembunyian mereka di bawah bumi untuk menyelamatkan diri.

“Kita akan mati terinjak pasukan Baginda Sulaiman yang besar-besar itu. Ayo cepat masuk ke dalam lobang!” seru semut-semut kepada sesamanya. Debum-debum suara pasukan Baginda Sulaiman makin mendekat.

Dari jarak jauh, Baginda Sulaiman mendengar dengan jelas percakapan semut itu, ia tersenyum penuh kasih sayang. Dan dengan satu acungan tangan sebagai tanda berhenti, maka seluruh pasukan berhenti mendadak.

“Ada apa ini? Kenapa Baginda berhenti mendadak?” bisik seekor gajah.

“Tidak tahu,” jawab yang lain.

“Mungkin ada yang tidak beres,” bisik sesosok jin bertubuh seperti menara.

“Segera periksa keadaan! Utamakan keselamatan Baginda!” seru salah seorang manusia bertubuh tegap.

Beberapa panglima mendekat kepada Baginda Sulaiman yang masih berada di atas kudanya. Mereka menghaturkan sembah hormat. Lalu salah satu panglima pasukan dari kalangan jin menanyakan keadaan kepada Baginda.

“Ampun, Baginda. Gerangan apakah yang menyebabkan Baginda memerintahkan kami berhenti mendadak? Adakah sesuatu yang membahayakan, Baginda?” tanya seorang panglima pasukan jin dengan suara gemetar karena pengaruh wibawa Baginda Sulaiman.

“Ada sesuatu yang harus kalian ketahui. Dan ini adalah sesuatu yang penting, wahai hamba-hamba yang besar,” jawab Baginda Sulaiman. Suaranya menggetar penuh wibawa dan kharisma. Seluruh pasukan terdiam. Sepi. Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara jika Baginda Sulaiman tengah bertitah. Semua tunduk, patuh dan mendengarkan dengan seksama, sepenuh jiwa raga.

“Kalian harus kuberi tahu, karena kalian tidak tahu. Di depan sana terdapat segerombolan semut kecil yang tengah mengalami kepanikan sebab takut terinjak oleh kaki-kaki kalian yang besar. Semut-semut itu sedang berlari-lari masuk ke lobang persembunyian mereka di dalam bumi, mereka takut terlambat masuk ke dalam lobang mereka. Karena jika terlambat, mereka akan mati terinjak oleh kita yang berlari kencang. Oleh karena itu, saya berkenan memberikan kesempatan bagi semut-semut sepele itu untuk menyelamatkan hidupnya. Kita tunggu sampai semut-semut itu telah masuk semua ke dalam lobang persembunyian mereka, sampai tidak tersisa seekor nyawa semut pun di permukaan bumi sehingga akan menyebabkan mereka mati terinjak-injak kita.”

“Daulat, Baginda.”

Seluruh pasukan jin, hewan dan manusia serentak tunduk dan patuh terhadap titah Baginda Sulaiman. Dalam hati mereka merasa nyaman terhadap sikap kepemimpinan Baginda Sulaiman. Tapi, ada juga yang memandang sinis namun tidak berani menampakkan wajah kesinisan mereka.

“Ah! Semut ajah ia pikirin. Injak saja kenapa?!” pikir beberapa makhluk di dalam hati mereka.

Dan tentu saja, tiap kata yang terucap di dalam hati, Baginda Sulaiman tidak dapat mendengarnya walaupun ia memiliki pendengaran yang sangat tajam melebihi apa pun. Soal kata dan kehendak hati, hanya Tuhan yang mendengarnya. Baginda Sulaiman tidak menyadari bahwa ada cukup banyak makhluk yang menjadi hamba-hambanya itu menyimpan kesinisan diam-diam terhadap dirinya, terutama dari kalangan manusia dan jin, namun tentu saja mereka tidak berani sedikit pun menampakkan sikapnya apalagi sampai terucap. Sedangkan di kalangan hewan tidak terdapat kesinisan itu, hewan-hewan lebih tulus jika dibandingkan kalangan jin dan manusia yang sama-sama menghamba kepada Baginda Sulaiman.

Rombongan pun berhenti. Baginda Sulaiman memerintahkan rombongan untuk beristirahat, meneguk air, dan mengendurkan otot-otot sambil menunggu semut-semut selesai masuk ke dalam lobangnya. Baginda Sulaiman menancapkan tongkat kayunya di atas bumi. Sedangkan ia duduk di atas sebongkah batu di tepi jalan di mana rombongannya berhenti. Baginda Sulaiman bangkit. Dengan tangkas ia melompat ke atas punggung kudanya. Seluruh hamba-hambanya pun ikut bangkit, membungkuk memberikan hormat.

“Kalian tunggu di sini. Saya akan ke depan memeriksa keadaan semut-semut itu,” kata Baginda.

“Daulat, Baginda.”

Baginda Sulaimana melaju dengan kudanya beberapa kilo meter ke depan menuju tempat semut-semut kecil itu memasuki lobang di bumi. Sesampai di depan lobang semut, Baginda Sulaiman mengamati aktivits semut-semut kecil yang berlarian memasuki lobang persembunyian mereka sambil tersenyum. Tampak sang raja semut tengah mengawasi rakyat-rakyatnya. Melihat kehadiran Baginda Sulaiman, buru-buru sang raja semut dan beberapa ekor semut yang masih tersisa di luar lobang itu memberikan sembah hormat yang mendalam kepada Baginda Sulaiman.

“Ampun, Baginda. Hamba tidak mengetahui kedatangan Paduka,” kata raja semut gugup dan penuh hormat.

“Baiklah, raja semut. Masuklah ke dalam lobang persembunyian kalian, dan tidak perlu merasa panik serta takut. Aku dan pasukanku akan menunggu sampai kalian benar-benar telah masuk semua dengan aman ke dalam lobang persembunyia kalian,” jawab Baginda Sulaiman.

“Dengan sepenuh hormat dan patuh, kami patuh, Baginda,” jawab raja semut, “ijinkan kami masuk dengan tenang ke dalam lobang persembunyian kami, Baginda.”

“Baik. Masuklah kalian.”

Semua semut telah masuk, dan yang tertinggal di permukaan bumi kini hanya seekor raja semut saja.

“Ijinkan hamba juga masuk ke dalam lobang persembunyian hamba menemui rakyat hamba di dalam, Baginda,” raja semut memohon diri.

“Masuklah. Aku akan meneruskan perjalanan. Salam sejahtera untuk seluruh bangsa semut,” jawab Baginda Sulaiman sembari kudanya berbalik arah menuju rombongan yang tengah beristirahat.

Raja semut menghaturkan sembah hormat. Lalu masuklah sang raja semut sebagai semut terakhir yang memasuki lobang. Baginda Sulaiman kembali kepada rombongannya. Seluruh rombongan memberikan hormat.

“Kita lanjutkan perjalanan,” titah Baginda.

Seluruh rombongan patuh. Perjalanan pun dilanjutkan.

***

Sampailah rombongan pada suatu tempat yang indah. Di situ sungai dan padang rumputan yang lapang. Baginda Sulaiman berkenan berhenti. Ia memerintahkan seluruh rombongannya berhenti. Baginda memerintahkan seluruh raja jin, manusia dan hewan berkumpul. Baginda akan menyampaikan sesuatu yang amat penting.

“Aku berkenan membangun istana di tempat ini,” kata Baginda Sulaiman.

“Daulat, Baginda,” jawab raja jin, manusia, dan hewan.

“Kuperintahkan kalian membangun istana yang paling mewah di sini. Perintahkan rakyat kalian untuk membangun istana dengan secepatnya. Dan setelah istana selesai, aku meminta kalian semua memberikan pelayanan kepada sesama kalian yang membutuhkan dan mengajak mereka yang tersesat untuk kembali pulang ke jalan Tuhan yang esa.”

“Titah Paduka dengan sepenuh jiwa raga, kami patuhi.”

“Bagus. Setelah istana selesai, maka kekuasaan kita makin tertancap kokoh di atas bumi, negeri Saba dengan ratu Balqis itu kini telah beriman. Ucapan terima kasih yang medalam kusampaikan kepada burung Hud-hud, yang di antara burung yang dulu pernah tersesat dan telah menemukan negeri Saba dengan ratu perempuan bernama Balqis.”

“Daulat, Baginda.”

Pembangunan negeri dengan istana yang megah pun dilakukan. Seluruh rakyat manusia, jin dan hewan bahu membahu membangun negeri. Dalam hitungan sekejap, istana megah dan negeri yang dipagari oleh dinding-dinding permata pun berdiri. Helaian sungai mengelilingi istana Baginda Sulaiman. Kerikil-kerikil yang menghias halaman istana adalah emas dan berlian. Sungguh kekayaan yang dimiliki Baginda Sulaiman tak terhingga. Setelah istana selesai dalam sekejap, Baginda Sulaiman pun berkenan menduduki istana dan duduk di atas kursi kerajaannya. Ditancapkan tongkatnya di sebelah kursinya. Tongkat kayu biasa itu nampak memancarkan wibawa karena ia adalah tongkat yang senantiasa dibawa Baginda Sulaiman. Itu hanya tongkat kayu, bukan dari emas. Hanya kayu biasa yang sederhana. Dan tongkat itulah yang menjadi benda kesayangan Baginda Sulaiman sehingga dibawa ke mana pun ia berada, bahkan ketika beliau tidur, tongkat kayu tua itu ia tancapkan di sebelah ranjangnya. Dan kini, tongkat kayu itu beliau tancapkan tepat di sebelah kursi kerajaannya.

Bertahun-tahun Baginda Sulaiman memerintah seluruh bangsa manusia, jin, dan hewan dengan bijaksana. Seluruh rakyatnya diliputi kesejahteraan dan menyembah kepada Tuhan yang esa. Tiap hari Sabtu, seluruh rakyat melakukan ibadah kebaktian rutin kepada Tuhan yang esa. Semua berjalan dengan baik-baik saja, penuh kemakmuran dan kesejahteraan yang melimpah. Baginda Sulaiman melelehkan tembaga yang kemudian dimanfaat oleh rakyatnya untuk pembangunan negeri serta membuat benda-benda kebutuhan hidup lainnya.

Seluruh hamba-hamba Baginda Sulaiman patuh kepadanya, tidak ada satu pun yang menampakkan sikap tidak menyenangkan. Semua tunduk dan patuh. Namun, diam-diam di dalam hati kalangan jin dan manusia tersimpan rasa sinis terhadap Baginda Sulaiman, akan tetapi sekali lagi itu tidak mereka tampakkan, mereka tetap memasang wajah yang manis dan patuh kepada Baginda Sulaiman, raja di atas raja jin dan manusia. Dan tentu saja Baginda Sulaiman tidak mengerti. Hanya hewan-hewanlah yang sangat tulus mengabdi kepada Baginda Sulaiman. Dari kalangan jin dan manusia menyimpan kekurangrelaan diperintah Baginda Sulaiman, tapi mereka tidak berdaya terhadap kekuasaan dan mukjizat nabi Tuhan itu. Sehingga mereka memilih diam dan patuh saja.

Berpuluh tahun Baginda Sulaiman memerintah. Usianya telah tua. Ia adalah raja yang sangat merakyat. Ia memerintahkan abdi-abdinya untuk membangun sebuah bangunan megah yang akan dijadikan tempat rakyat berkumpul untuk menyatakan pendapat. Seluruh bangsa jin dan manusia patuh, mereka mengerjakan perintah Baginda Sulaiman. Baginda Sulaiman mengawasi pekerjaan mereka. Siapa pun akan bekerja dengan sepenuhnya karena raja langsung yang mengawasi. Baginda Sulaiman duduk di singgahsana istananya, tangannya memegang tongkat kayu kesayangannya. Dan dalam keadaan duduk di atas singgahsana sambil tangan kanannya memegang tongkat kayunya, Baginda Sulaiman wafat. Tidak ada satu pun yang tahu jika Baginda Sulaiman telah wafat, karena Baginda Sulaiman wafat dalam keadaan duduk di atas singgahsananya dan tangannya tengah memegang tongkat kayu itu. Seorang raja yang bijaksana, mayatnya tidak mengeluarkan bau, mayat Baginda Sulaiman menyebarkan wangi, wajahnya tidak pucat, tapi matanya terpejam, ia telah wafat. Bertahun-tahun kematian Baginda Sulaiman tidak ada yang mengetahuinya, dan tidak ada satu pun yang berani menghadapnya atau menyampaikan sesuatu kepadanya karena dirasa takut mengganggu. Baginda Sulaiman dikira sedang tertidur pulas di atas singgahsananya sembari tangannya menggenggam tongkat yang ditancapkan di sebelah kursi singgahsananya. Bangsa jin dan manusia terus melaksanakan titah Baginda Sulaiman. Mereka tetap merasa diawasi oleh Baginda Sulaiam, padahal mereka menganggap raja mereka tengah tertidur dengan pulas di atas singgahsananya. Baginda Sulaiman telah wafat. Tidak ada yang tahu. Setelah beberapa tahun lamanya, rayap-rayap itu menggerogoti tongkat Baginda Sulaiman. Rapuhlah tongkat kayu yang menopang tubuh Baginda Sulaiman, dan tubuh Baginda Sulaiman ambruk. Seluruh abdi Baginda Sulaiman dari kalangan jin dan manusia baru tersadar bahwa raja mereka telah wafat.

Kalangan jin dan manusia melakukan pesta suka duka atas kematian Baginda Sulaiman. Mereka menghambur memenuhi istana, titah Baginda Sulaiman telah dihentikan, mereka pun menggelar tari-tarian di istana yang megah itu, menikmati fasilitas istana yang sangat mewah, menyediakan minuman memabukkan dan memandikan tubuh mereka dengan minuman-minuman syetan itu, mendatangkan perempuan-perempuan segar. Mereka melakukan pesta minum, pesta perempuan, bersenggama sesama jenis, bersenggama dengan hewan, dan tidak mempercayai Tuhan. Mereka tertawa. Mereka merasa benar-benar bebas. Mereka tertawa. Tertawa dengan sangat bahagia sekali.

Banyuwangi, 2010

LAUTAN JINGGA


















Lautan Jingga. Matahari merah. Lalu malam membawa bulan bunga mawar. Rahang-rahang waktu mengikuti sebentuk pergantian siang kepada malam, diikuti ruang yang tangkas. Degup jantung dalam pacu. Luruh dalam dekap. Leleh dalam dadamu. Para kembara, gelas-gelas air mata, dan jiwa yang mabuk cahaya. Sayap-sayap menggetar, abad-abad kesenyapan mendiami rumah tua. Jalan-jalan hilang. Sebangun kelam, sebentang kecemasan.

Lautan jingga.
Lautan jiwa.
Gunung sukma.
Menggelung derita.
Pun.
Telah.

2010
Taufiq Wr. Hidayat

Sabtu, 20 November 2010

Perjalanan Baru Musa dan Khidir


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Nabi Musa merebahkan badannya di atas rumputan. Beliau lelah. Segala perjalanan telah ia lewati, mulai dari melawan Fir’aun, melawan para penyihir Fir’aun yang menyerangnya dengan ular-ular kecil dan dengan kehendak Tuhan, tongkatnya menjadi ular raksasa yang menelan ular-ular kecil penyihir Fir’aun, menyeberangi samudra yang diiris menjadi sebentang jalan oleh tongkatnya atas ijin Tuhan, berlar-lari sampai sakit perut, sampai ia tak kuasa menyaksikan cahaya Tuhan di bukit Sinai. Cukup melelahkan menjadi Kalimullah, Juru Bicara Tuhan Yang Agung dan cukup melelahkan pula ketika ia harus menyampaikan Sepuluh Perintah Tuhan kepada manusia. Musa merebahkan badannya di atas hamparan rumputan. Ia sendirian kali ini. Ia menatap ke langit lepas. Ia terkagum-kagum atas kebesaran Tuhan. Dan dengan tanpa ia sengaja, “Kira-kira adakah yang melakukan perjuangan seberat aku dengan pengetahuan seperti yang kumiliki. Kalaulah ada, siapakah dia?” gumamnya pelan. Tapi, Tuhan Yang Maha Mendengar tentu mendengar setiap apa pun dari makhluk-Nya.

“Musa! Pergilah ke pantai. Temuilah seseorang yang bernama Khidir. Dan bergurulah kepadanya,” seru suara entah dari mana. Dan Musa meyakini itu adalah perintah Tuhan.

“Baik, Tuhan. Saya akan cari orang yang bernama Khidir itu, dan saya akan berguru kepadanya. Karena mungkin ia adalah manusia yang lebih segalanya daripada aku.”

Maka, berangkatlah Musa menyusuri sungai hingga ke tepi lautan. Dan bertemulah Musa dengan seseorang yang jauh lebih rendah penampilan fisiknya daripada Musa.

“Apakah, Tuan, yang bernama Tuan Khidir?” tanya Musa.

“Benar. Ada gerangan apakah, Tuan?” tanya Khidir.

“Saya mendapatkan perintah Tuhan, supaya saya berguru kepada Tuan.”

Khidiri merenung sejenak. Lalu, Khidir berkata heran; “Apakah belum cukup Tuhan menyampaikan Torat kepadamu sehingga engkau harus berguru lagi kepadaku?”

“Saya tidak mengerti rahasia Tuhan. Saya hanya harus patuh kepada-Nya,” jawab Musa.

“Ya. Ilmu Tuhan itu maha luas, ilmu kita sangat sedikit.”

“Benar, Tuan. Itulah mungkin kenapa saya harus berguru kepada Tuan Khidir.”

“Jika memang itu perintah Tuhan, maka Tuan aku terima sebagai muridku. Dan sebagai murid, Tuan harus mematuhi apa yang aku perintahkan kepada Tuan. Namun, apakah Tuan sanggup? Saya rasa Tuan tidak akan sanggup.”

“Saya sanggup, Tuan Khidir.”

“Baiklah. Tuan Musa boleh mengikuti saya, dan dalam perjalanan, Tuan saya larang untuk memperotes setiap sikap dan tindakan saya. Tuan harus bersabar mengikuti saya. Lihatlah saja tindakan saya, jangan Tuan protes. Tuan sanggup? Saya rasa Tuan tidak akan sanggup.”

“Saya sanggup. Ini sudah perintah Tuhan.”

“Baiklah.”

Keduanya pun berjalanlah. Musa berjalan di belakang Khidir. Keduanya lalu menumpang sebuah perahu. Dan ketika perahu itu berada di tengah samudra, Khidir melobangi perahu itu, lalu ia dan Musa menyelamatkan diri dengan perahu lain. Perahu yang telah dilobangi oleh Khidir itu pun tenggelam. Musa gelisah, dan ia pun memprotes perbuatan Tuan Khidir yang baru saja menjadi gurunya itu.

“Wahai Tuan Khidir, kenapa engkau melakukan kejahatan dengan melobangi perahu itu? Bukankah engkau telah mencelakakan orang-orang di dalam perahu itu?”

“Wahai Musa, bukankah telah kukatakan kepadamu supaya kamu tidak kuperkenankan memprotes segala tindakanku sebelum aku memberitahukannya kepadamu? Apakah engkau lupa dengan perjanjian kita?”

“Baiklah.”

Musa menahan kegelisahannya.

Sampailah keduanya pada sebentang jalan di sebuah desa. Melintaslah di hadapan mereka seorang anak kecil, dan dengan tangkas, Khidir menangkap anak kecil itu. Khidiri membawa anak kecil itu, menutup mulutnya supaya tidak menjerit, kemudian Khidir memotong leher anak kecil tak berdosa itu dengan sebilah pedangnya. Pedang itu mengkilap.

Musa kembali gusar. Ia tidak mungkin membiarkan perbuatan keji itu berlalu tanpa alasan.

“Tuan Khidir! Kenapa Tuan membunuh anak kecil yang sama sekali belum melakukan perbuatan dosa, anak yang masih bersih dan suci itu? Itu kekejian!”

Khidir tersenyum.

“Bukankah telah kukatakan kepadamu, Wahai Musa, janganlah bertanya sebelum aku menjelaskan semuanya,” jawab Khidir.

“Baik. Maafkan,” jawab Musa gugup.

“Bagaimana? Apakah kau masih sanggup mengikutiku tanpa bertanya dan mempersoalkan perbuatanku? Jika tidak sanggup, cukup di sini kita berpisah dan akan kujelaskan semuanya kepadamu,” kata Khidiri.

“Berikan aku satu kesempatan lagi, Wahai Tuan Khidir.”

“Baik.”

Keduanya pun kembali berjalan. Kemudian tibalah keduanya di sebuah desa. Khidir memasuki desa tersebut, dan dia memohon supaya diperkenankan bermalam di desa tersebut. Namun, penduduk di desa itu mengusir dan menolak Khidir dan Musa dengan keji. Maka, Khidir dan Musa pun meninggalkan desa itu. Di tengah perjalanan, sebangun tembok desa yang penduduknya mengusir Khidir dan Musa itu mengalami kerusakan yang sangat berat. Dengan penuh semangat dan cekatan, Khidir memperbaiki tembok desa yang mengalami rusak berat itu. Tentu saja Musa kembali bertanya.

“Tuan Khidir, kenapa engkau memperbaiki tembok desa yang penduduknya telah mengusir kita?”

“Tuan Musa, sebagaimana permintaanmu sendiri, kita tidak bisa lagi bersama. Kita berpisah di sini. Tuan Musa telah tiga kali melanggar janji Tuan untuk tidak mempertanyakan dan memprotes segala perbuatanku.”

Musa pun menyadari kesalahannya. Dan dengan penuh tanda tanya, Musa bertanya kepada Khidir akan apa maksud dan motif dari segala tindakannya itu.

“Sebelum kita berpisah, Wahai Tuan Khidir. Perkenankan hamba mengetahui apa gerangan maksud dan motif semua perbuatan Tuan yang menyimpang itu?” tanya Musa.

Khidir tersenyum.

“Wahai Tuan Musa, Wahai Juru Bicara Tuhan Yang Agung, Wahai Penerima Torat Yang Suci, apa maksud dan motif perbuatanku tadi, tidaklah sepatutnya kujelaskan di sini. Karena aku tidak punya alasan apa pun dan tidak mempunyai motif apa pun dari seluruh perbuatanku. Aku hanya menjalankan perihatah Tuhan sebagaimana Tuan Musa.”

Khidir pun menyelinap ke balik semak dan menghilang.

Banyuwangi, 2010