Rabu, 13 Oktober 2010

Syarat Rahasia Menjadi Kiai (Keterangan-keterangan Budikarna yang Diambil dari Penjelasan Kangmuda’iyah)


Oleh: Taufiq Wr. Hidayat


KANGMUDA'IYAH menyampaikan definisi mengenai kiai, ulama’, ustad, da’i, dan guru. Ini terdengar aneh, kenapa harus dibedakan?

“Bukankah kiai, ulama’, ustad, da’i, dan guru itu sama saja pengertiannya, Kangmuda’iyah?” tanya Budikarna, sahabatnya.

“Beda!” jawab Kangmuda’iyah tegas.

“Bedanya?”

“Jelas beda.”

***

Kangmuda’iyah dan Budikarna adalah sahabat sejak mondok di sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang kiai agung, Kiai Agung Darsodin Qardo, di Ponpes Jambu Nyamplong. Keduanya dulu adalah sahabat sekamar, dan keduanya menjadi santri selama 14 tahun lamanya sejak keduanya masih amat belia.

Keterangan-keterangan yang berguna tentang penjelasan Kangmuda’iyah itu telah Asnoto peroleh dari sahabat Kangmuda’iyah sendiri secara langsung, yakni Budikarna. Dan dengan demikian merupakan keterangan yang cukup akurat. Menurut Budikarna, bahwa sahabatnya, Kangmuda’iyah, sehari-harinya berprofesi sebagai pemasang susuk, yakni mulai susuk pengasihan, susuk penglaris, susuk kecantikan, dll. Kangmuda’iyah sangat ahli menancapkan susuk di tengkuk atau di dahi orang yang meminta dipasang susuk. Seperti Yurtani, tetangga Budikarna di Rogojampi, dipasang susuk kecantikan dan penglarisan oleh Kangmuda’iyah, sehingga wajahnya akan selalu tampak cantik walaupun usianya telah setengah baya, dan dagangannya selalu laris.

“Susuk itu memiliki daya magis. Dan itu terjadi karena ijin Allah,” ujar Budikarna kepada Asnoto ketika ia ngopi di Singotrunan di waktu pagi di rumah Kargiwat.

Asnoto tidak pernah mondok di pesantren. Tapi, Budikarna dan Kangmuda’iyah pernah mondok di pesantren 14 tahun lamanya, menimba ilmu-ilmu agama Islam, di Pondok Pesantren asuhan Kiai Agung Darsodin Qardo yang biasa dipanggil Gung So oleh penduduk sekitar pesantren. Gung So adalah kiai dan tokoh agama yang sangat kramat, memiliki kesaktian, sebagian menganggapnya wali. Gung So sangat berwibawa, ia adalah sesepuh seluruh kiai di wilayah Jawa waktu itu. Gung So meninggal sekitar tahun 1990-an karena sakit lambung di usia 95 tahun. Semua kiai di Jawa pada waktu itu, menjadikan Gung So sebagai maha guru, bahkan presiden pun sungkem cium tangan kepada Gung So. Gung So yang adalah guru dari Budikarna dan Kangmuda’iyah itu terkenal dengan ketegasan sikapnya serta keteguhannya memegang prinsip hidup beragama Islam. Gung So tidak pernah sudi sedikit pun berkompromi kepada hal-hal yang menurut keyakinannya menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Menurut Budikarna, Gung So adalah “assalafus shalih”, atau yang biasa dikenal dengan sebutan “kiai salaf”. Ciri penting kiai salaf ini, menurut Budikarna adalah dari kebiasaannya, yakni kebiasaan meminum kopi agak pahit dan menghisap rokok lintingan dengan gaya seperti orang menghisap ganja. “Ciri kiai salaf itu selalu dapat dipastikan punya kebiasaan meminum kopi agak pahit dan merokok lintingan, dan termasuk perokok super berat” tegas Budikarna serius.

Namun uniknya, Gung So adalah orang pertama dan kiai pertama di Indonesia yang dengan tegas menerima Pancasila sebagai dasar negara yang final di saat tak seorang pun tokoh Islam atau kiai Islam pada waktu itu yang menyatakan menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara. Sikap Gung So ini kemudian diikuti oleh kiai-kiai yang lain lantaran apa pun yang menjadi fatwa dan ketetapan Gung So diyakini sebagai kebenaran yang tidak main-main, jika dilanggar akan beresiko kena kuwalat dunia akhirat. “Semua fatwa dan ketetapan saya, akan saya pertanggungjawabkan sampai di hadapan Allah,” kata Gung So suatu kali dalam hidupnya sebagaiamana yang dikutip oleh Budikarna. Gung So juga kiai pertama di Jawa yang memperbolehkan mencampur laki-laki dan perempuan dalam satu kelas sekolah di saat tak satu pun pesantren di Jawa membolehkan perkara itu. Karena menurut Islam, laki dan wanita bercampur dalam satu tempat itu haram sebab bukan muhrim. Tapi, menurut Gung So itu tidak masalah, karena kelas adalah tempat yang aman dan diawasi guru. Jadi, tidak perlu khawatir. Gung So juga yang memperbolehkan pemimpin wanita dan pemimpin non-muslim asalkan dia mampu memimpin dan mampu menjamin adanya keadilan juga kebebasan di dalam kehidupan rakyat.

“Ini unik dan aneh. Padahal Gung So itu kiai salaf, kiai yang paling fanatik dan ortodok,” kata Budikarna. “Tapi, menurut beliau, justru sikapnya itu adalah cerminan pemikiran kitab-kitab klasik dan salaf yang murni. Unik, bukan?” lanjut Budikarna menjawab keheranannya dengan keheranan di hadapan Asnoto.

Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah mengutip ayat Tuhan; “al-ulama’ waratsatul ‘anbiya’”, bahwa ulama’ itu ahli warisnya nabi. Kata “ulama’” itu Bahasa Arab yang dalam Bahasa Jawa disebut “kiai”. Sedangkan kata “ulama’” dalam Bahasa Indonesia berarti tokoh Islam yang menguasai ajaran-ajaran Islam formal. Demikian Budikarna menjelaskan penjelasan dari sahabatnya, Kangmuda’iyah. Menurut Budikarna kepada Asnoto, Kangmuda’iyah menjelaskan bahwa seorang da’i, guru, ustad dan ulama’ itu levelnya sama. Sama-sama orang yang pandai dalam ilmu agama Islam yang diperoleh dari belajar tekun berpuluh tahun. Sehingga sering kita temui Majelis Ulama’, Majelis Guru atau Dewan Guru, Majelis Ustad atau Mejelis Da’i atau Akademi Da’i, dll. Budikarna juga memaparkan, bahwa menurut Kangmuda’iyah, kiai berada di level tertinggi. Kiai adalah orang yang menguasai ilmu-ilmu Islam dan sekaligus konsisten menjalankan ilmu-ilmu Islam yang dimiliki dalam kehidupannya. Misalnya ia menguasi ilmu salat, maka seorang kiai adalah orang yang tekun bersalat, menguasai zakat, maka seorang kiai rajin berzakat, dan seterusnya. Beda dengan ulama’ dalam istilah Bahasa Indonesia, da’i, ustad atau guru, mereka menguasai ilmu salat tapi hampir dapat dipastikan dia tidak melaksanakan salat, dia menguasai ilmu zakat hampir pasti dia tidak suka berzakat, dia tahu berzina itu dosa hampir pasti dia melakukan zina.

“Wah! Kenapa demikian? Apa tidak salah pendefinisian seperti itu? Kalau begitu, selain kiai, yakni ustad, da’i, guru dan ulama’ itu semua gak beres kepribadiannya?” tanya Asnoto.

“Ya! Hampir dipastikan. Ingat! Hampir bisa dipastikan. Hampir! Ini menurut Kangmuda’iyah kepadaku,” jawab Budikarna.

Asnoto juga heran dan merasa aneh dengan penjelasan Budikarna yang merupakan penjelasan sahabatnya, Kangmuda’iayah itu. Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah menyampaikan bahwa menjadi kiai itu syaratnya tiga. Pertama; berilmu yang amat banyak dan amat dalam. Kedua; menjalankan ilmu yang telah dimilikinya dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Ketiga; punya murid atau pengikut. Ini belum satu syarat lagi yang bersifat rahasia dan paling utama.

“Apa itu?” tanya saya.

“Menurut Kangmuda’iyah, ketiga syarat jadi kiai itu sudah menjadi ketetapan. Syarat yang rahasia itu adalah puasa,” kata Budikarna.

“Ah! Itu mudah,” kata Asnoto.

“Jangan main-main!”

“Kenapa?”

“Syarat rahasia yang hanya diketahui oleh calon kiai dan Tuhannya itu, itu bukan main-main! Ini yang membedakan level kiai dengan level ulama’ dalam istilah Bahasa Indonesia, da’i, guru, dan ustad. Dengan puasa ia akan menjadi pewaris nabi yang sejati.”

“Cuma puasa mudah toh?”

“Tidak mudah! Justru di syarat inilah banyak yang gagal. Karena menurut Kangmuda’iyah, menjadi kiai itu wajib menempuh syarat berpuasa. Yakni berpuasa tidak makan tidak minum dengan “mutih”, berpuasa dengan mengurangi bicara, berpuasa mengurangi tidur, berpuasa tidak menyimpan harta benda selain hanya untuk dibagi-bagikan kepada orang lain, berpuasa tidak mau dipuji, berpuasa dari rasa paling bisa dan paling suci, berpuasa tidak berkuasa dan dekat dengan penguasa. Dan itu dikerjakan selama 25 tahun. Bayangkan! 25 tahun!”

Asnoto takjub.

“Apakah Gung So sudah menjalani hal itu?”

“Betul. Gung So menjalani itu, bahkan ia menjalani seumur hidupnya, itulah yang menempatkan dia sebagai kiai yang paling agung di pelosok Jawa ini. Dan ketika di pasar, Gung So sering berkata ‘saya bukan kiai, saya orang biasa. Yang kiai itu romo saya pendiri pesantren, saya cuma meneruskan saja’, begitu kepada setiap orang bahkan kepada santrinya.”

Budikarna juga menjelasakan, bahwa setelah Kangmuda’iyah memaparkan perihal syarat-syarat menjadi kiai itu, Kangmuda’iyah juga menyampaikan sesuatu yang paling serius kepada Budikarna.

“Apa?” tanya Asnoto.

“Kangmuda’iyah menyampaikan kepadaku, bahwa sekarang sudah tidak ada kiai. Di antara sejuta orang yang disebut kiai, yang betul-betul kiai sejati “waratsatul ‘anbiya’” itu mungkin cuma satu, itu pun sudah amat setengah sinting kita untuk bisa menemukannya,” jawab Budikarna.

Menurut Budikarna, Kangmuda’iyah menyedot rokok kreteknya kuat-kuat. Lalu, dengan tenang ia menancapkan susuk di dahi Yurtani, tetangga Budikarna di Rogojampi. “Bismillah… yang punya kehendak hanya Tuhan, ini hanya alat,” kata Kangmuda’iayah.

Banyuwangi, 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar