Minggu, 21 November 2010

Baginda Sulaiman, Semut dan Tongkat


Cerita: Taufiq Wr. Hidayat

Baginda Sulaiman memerintahkan kepada pasukannya yang terhimpun dari bangsa manusia, jin dan jenis-jenis hewan untuk berkumpul.

“Kita akan melakukan perjalanan,” titah Baginda Sulaiman. Wajahnya memancarkan wibawa yang agung.

Seluruh pasukan dan para abdinya patuh. Pasukan berkuda, gerombolan jin, dan hewan mengikuti Baginda Sulaiman yang memimpin rombongan terbesar dalam sejarah. Burung-burung membentuk barisan di udara, jin dan manusia mengawal sang baginda mulia itu. Sebagai nabi Tuhan, Baginda Sulaiman harus memimpin dengan sebaik-baiknya, dengan kekayaannya yang paling melimpah di jagad raya, dengan kekuasaan dan kemampuannya berdiskusi dengan hewan. Hewan-hewan besar hingga yang terkecil berada dalam daya kepemimpinannya yang menghipnotis, dalam tanggungjawabnya dalam kewenangannya. Baginda Sulaiman dianugerahi tugas untuk memimpin semua makhluk dan mengayomi mereka, membawa semua makhluk ke jalan Tuhan, menyembah hanya kepada Tuhan yang esa.

“Wahai bangsa burung, aku perintahkan kalian terbang terlebih dahulu ke depan untuk memantau dan memastikan bahwa di depan sudah aman,” seru Baginda Sulaiman kepada burung-burung, tentu Baginda menggunakan bahasa burung.

“Daulat, Baginda,” jawab burung-burung penuh kepatuhan.

Baginda Sulaiman menaiki kuda. Ia memimpin rombongan dengan gagah. Debu-debu mengepul oleh derap kaki kuda. Kalimat-kalimat Tuhan mengumandang dari rombongan bergairah. Rombongan jin, manusia, dan hewan itu melewati padang rumput, bukit, dan sungai-sungai, memasuki hutan rimba. Di antara rombongan jin, hewan dan manusia yang dipimpin Baginda Sulaiman itu belum ada yang tahu ke mana tujuan mereka. Mereka hanya patuh kepada perintah rajanya.

“Sebenarnya kita ini mau ke mana? Sudah seharian kita berjalan,” bisik seekor singa kepada kawannya.

“Mana aku tahu. Kita hanya mengikuti titah Baginda,” jawab singa yang lain.

“Kita akan ke mana?” tanya seorang pasukan kepada sahabatnya.

“Aku tidak mengerti. Ini sudah kehendak Baginda, kita tidak memiliki hak bertanya. Sebab, kalau Baginda marah, habislah kita,” jawab yang lain.

“Tapi, ini sudah lelah,” bisik sesosok jin.

“Hus! Jangan keras-keras bicara seperti itu, jika Baginda mendengar percakapan ini, kita akan selesai,” bisik jin yang lain mengingatkan kawannya.

Mereka pun diam. Dan di depan, Baginda Sulaiman terus tegap dan bersemangat memacu kudanya memimpin rombongan terpanjang dan terlengkap dalam sejarah.

“Ayo! Maju! Terus berlari! Lari yang kencang. Perjalanan kita masih jauh dari tujuan,” seru Baginda Sulaiman.

Seluruh bangsa jin, manusia dan hewan serentak mengumandangkan kata: “Daulat, Baginda.”

Rombongan terus melaju dengan kencangnya. Ribuan manusia menunggangi kuda. Ribuan hewan dan jin mengiringnya. Rombongan melaju dengan gagah. Pacu. Pacu. Pacu.

Baginda Sulaiman adalah manusia pilihan Tuhan. Ia memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa. Sehingga grundelan pasukannya di belakang, ia mendengar dengan jelas. Cuma ia diam saja. Ia hanya memaklumi bahwa manusia biasa, jin dan hewan tidak memiliki kekuatan semangat sebagaimana dirinya, dan mereka hanya patuh pada kebesaran kekuasannya. Baginda Sulaiman sambil memacu kudanya tengah berpikir mencari sebentuk alasan untuk mengajak seluruh pasukannya beristirahat. Dan suara kecil itu pun masuk ke dalam telinga Baginda Sulaiman. Suara kecil yang terdengar oleh telinga Baginda itu berjarak beberapa kilo meter di depan. Itulah suara segerombolan semut yang tengah mencari makan di permukaan bumi.

“Wahai seluruh rakyat semut, ayo berkumpullah kalian semua. Segeralah masuk ke dalam lobang, ajaklah anak dan istri kalian dengan segera. Jalan ini akan dilewati ribuan pasukan Baginda Sulaiman. Cepat masuk ke dalam lobang agar kalian tidak mati terinjak kaki-kaki pasukan Baginda Sulaiman,” seru raja semut.

Semut-semut panik. Jarak pasukan Baginda Sulaiman sudah amat dekat, mana mungkin semut-semut itu bisa berjalan cepat masuk ke dalam lobang persembunyian mereka di bawah bumi untuk menyelamatkan diri.

“Kita akan mati terinjak pasukan Baginda Sulaiman yang besar-besar itu. Ayo cepat masuk ke dalam lobang!” seru semut-semut kepada sesamanya. Debum-debum suara pasukan Baginda Sulaiman makin mendekat.

Dari jarak jauh, Baginda Sulaiman mendengar dengan jelas percakapan semut itu, ia tersenyum penuh kasih sayang. Dan dengan satu acungan tangan sebagai tanda berhenti, maka seluruh pasukan berhenti mendadak.

“Ada apa ini? Kenapa Baginda berhenti mendadak?” bisik seekor gajah.

“Tidak tahu,” jawab yang lain.

“Mungkin ada yang tidak beres,” bisik sesosok jin bertubuh seperti menara.

“Segera periksa keadaan! Utamakan keselamatan Baginda!” seru salah seorang manusia bertubuh tegap.

Beberapa panglima mendekat kepada Baginda Sulaiman yang masih berada di atas kudanya. Mereka menghaturkan sembah hormat. Lalu salah satu panglima pasukan dari kalangan jin menanyakan keadaan kepada Baginda.

“Ampun, Baginda. Gerangan apakah yang menyebabkan Baginda memerintahkan kami berhenti mendadak? Adakah sesuatu yang membahayakan, Baginda?” tanya seorang panglima pasukan jin dengan suara gemetar karena pengaruh wibawa Baginda Sulaiman.

“Ada sesuatu yang harus kalian ketahui. Dan ini adalah sesuatu yang penting, wahai hamba-hamba yang besar,” jawab Baginda Sulaiman. Suaranya menggetar penuh wibawa dan kharisma. Seluruh pasukan terdiam. Sepi. Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara jika Baginda Sulaiman tengah bertitah. Semua tunduk, patuh dan mendengarkan dengan seksama, sepenuh jiwa raga.

“Kalian harus kuberi tahu, karena kalian tidak tahu. Di depan sana terdapat segerombolan semut kecil yang tengah mengalami kepanikan sebab takut terinjak oleh kaki-kaki kalian yang besar. Semut-semut itu sedang berlari-lari masuk ke lobang persembunyian mereka di dalam bumi, mereka takut terlambat masuk ke dalam lobang mereka. Karena jika terlambat, mereka akan mati terinjak oleh kita yang berlari kencang. Oleh karena itu, saya berkenan memberikan kesempatan bagi semut-semut sepele itu untuk menyelamatkan hidupnya. Kita tunggu sampai semut-semut itu telah masuk semua ke dalam lobang persembunyian mereka, sampai tidak tersisa seekor nyawa semut pun di permukaan bumi sehingga akan menyebabkan mereka mati terinjak-injak kita.”

“Daulat, Baginda.”

Seluruh pasukan jin, hewan dan manusia serentak tunduk dan patuh terhadap titah Baginda Sulaiman. Dalam hati mereka merasa nyaman terhadap sikap kepemimpinan Baginda Sulaiman. Tapi, ada juga yang memandang sinis namun tidak berani menampakkan wajah kesinisan mereka.

“Ah! Semut ajah ia pikirin. Injak saja kenapa?!” pikir beberapa makhluk di dalam hati mereka.

Dan tentu saja, tiap kata yang terucap di dalam hati, Baginda Sulaiman tidak dapat mendengarnya walaupun ia memiliki pendengaran yang sangat tajam melebihi apa pun. Soal kata dan kehendak hati, hanya Tuhan yang mendengarnya. Baginda Sulaiman tidak menyadari bahwa ada cukup banyak makhluk yang menjadi hamba-hambanya itu menyimpan kesinisan diam-diam terhadap dirinya, terutama dari kalangan manusia dan jin, namun tentu saja mereka tidak berani sedikit pun menampakkan sikapnya apalagi sampai terucap. Sedangkan di kalangan hewan tidak terdapat kesinisan itu, hewan-hewan lebih tulus jika dibandingkan kalangan jin dan manusia yang sama-sama menghamba kepada Baginda Sulaiman.

Rombongan pun berhenti. Baginda Sulaiman memerintahkan rombongan untuk beristirahat, meneguk air, dan mengendurkan otot-otot sambil menunggu semut-semut selesai masuk ke dalam lobangnya. Baginda Sulaiman menancapkan tongkat kayunya di atas bumi. Sedangkan ia duduk di atas sebongkah batu di tepi jalan di mana rombongannya berhenti. Baginda Sulaiman bangkit. Dengan tangkas ia melompat ke atas punggung kudanya. Seluruh hamba-hambanya pun ikut bangkit, membungkuk memberikan hormat.

“Kalian tunggu di sini. Saya akan ke depan memeriksa keadaan semut-semut itu,” kata Baginda.

“Daulat, Baginda.”

Baginda Sulaimana melaju dengan kudanya beberapa kilo meter ke depan menuju tempat semut-semut kecil itu memasuki lobang di bumi. Sesampai di depan lobang semut, Baginda Sulaiman mengamati aktivits semut-semut kecil yang berlarian memasuki lobang persembunyian mereka sambil tersenyum. Tampak sang raja semut tengah mengawasi rakyat-rakyatnya. Melihat kehadiran Baginda Sulaiman, buru-buru sang raja semut dan beberapa ekor semut yang masih tersisa di luar lobang itu memberikan sembah hormat yang mendalam kepada Baginda Sulaiman.

“Ampun, Baginda. Hamba tidak mengetahui kedatangan Paduka,” kata raja semut gugup dan penuh hormat.

“Baiklah, raja semut. Masuklah ke dalam lobang persembunyian kalian, dan tidak perlu merasa panik serta takut. Aku dan pasukanku akan menunggu sampai kalian benar-benar telah masuk semua dengan aman ke dalam lobang persembunyia kalian,” jawab Baginda Sulaiman.

“Dengan sepenuh hormat dan patuh, kami patuh, Baginda,” jawab raja semut, “ijinkan kami masuk dengan tenang ke dalam lobang persembunyian kami, Baginda.”

“Baik. Masuklah kalian.”

Semua semut telah masuk, dan yang tertinggal di permukaan bumi kini hanya seekor raja semut saja.

“Ijinkan hamba juga masuk ke dalam lobang persembunyian hamba menemui rakyat hamba di dalam, Baginda,” raja semut memohon diri.

“Masuklah. Aku akan meneruskan perjalanan. Salam sejahtera untuk seluruh bangsa semut,” jawab Baginda Sulaiman sembari kudanya berbalik arah menuju rombongan yang tengah beristirahat.

Raja semut menghaturkan sembah hormat. Lalu masuklah sang raja semut sebagai semut terakhir yang memasuki lobang. Baginda Sulaiman kembali kepada rombongannya. Seluruh rombongan memberikan hormat.

“Kita lanjutkan perjalanan,” titah Baginda.

Seluruh rombongan patuh. Perjalanan pun dilanjutkan.

***

Sampailah rombongan pada suatu tempat yang indah. Di situ sungai dan padang rumputan yang lapang. Baginda Sulaiman berkenan berhenti. Ia memerintahkan seluruh rombongannya berhenti. Baginda memerintahkan seluruh raja jin, manusia dan hewan berkumpul. Baginda akan menyampaikan sesuatu yang amat penting.

“Aku berkenan membangun istana di tempat ini,” kata Baginda Sulaiman.

“Daulat, Baginda,” jawab raja jin, manusia, dan hewan.

“Kuperintahkan kalian membangun istana yang paling mewah di sini. Perintahkan rakyat kalian untuk membangun istana dengan secepatnya. Dan setelah istana selesai, aku meminta kalian semua memberikan pelayanan kepada sesama kalian yang membutuhkan dan mengajak mereka yang tersesat untuk kembali pulang ke jalan Tuhan yang esa.”

“Titah Paduka dengan sepenuh jiwa raga, kami patuhi.”

“Bagus. Setelah istana selesai, maka kekuasaan kita makin tertancap kokoh di atas bumi, negeri Saba dengan ratu Balqis itu kini telah beriman. Ucapan terima kasih yang medalam kusampaikan kepada burung Hud-hud, yang di antara burung yang dulu pernah tersesat dan telah menemukan negeri Saba dengan ratu perempuan bernama Balqis.”

“Daulat, Baginda.”

Pembangunan negeri dengan istana yang megah pun dilakukan. Seluruh rakyat manusia, jin dan hewan bahu membahu membangun negeri. Dalam hitungan sekejap, istana megah dan negeri yang dipagari oleh dinding-dinding permata pun berdiri. Helaian sungai mengelilingi istana Baginda Sulaiman. Kerikil-kerikil yang menghias halaman istana adalah emas dan berlian. Sungguh kekayaan yang dimiliki Baginda Sulaiman tak terhingga. Setelah istana selesai dalam sekejap, Baginda Sulaiman pun berkenan menduduki istana dan duduk di atas kursi kerajaannya. Ditancapkan tongkatnya di sebelah kursinya. Tongkat kayu biasa itu nampak memancarkan wibawa karena ia adalah tongkat yang senantiasa dibawa Baginda Sulaiman. Itu hanya tongkat kayu, bukan dari emas. Hanya kayu biasa yang sederhana. Dan tongkat itulah yang menjadi benda kesayangan Baginda Sulaiman sehingga dibawa ke mana pun ia berada, bahkan ketika beliau tidur, tongkat kayu tua itu ia tancapkan di sebelah ranjangnya. Dan kini, tongkat kayu itu beliau tancapkan tepat di sebelah kursi kerajaannya.

Bertahun-tahun Baginda Sulaiman memerintah seluruh bangsa manusia, jin, dan hewan dengan bijaksana. Seluruh rakyatnya diliputi kesejahteraan dan menyembah kepada Tuhan yang esa. Tiap hari Sabtu, seluruh rakyat melakukan ibadah kebaktian rutin kepada Tuhan yang esa. Semua berjalan dengan baik-baik saja, penuh kemakmuran dan kesejahteraan yang melimpah. Baginda Sulaiman melelehkan tembaga yang kemudian dimanfaat oleh rakyatnya untuk pembangunan negeri serta membuat benda-benda kebutuhan hidup lainnya.

Seluruh hamba-hamba Baginda Sulaiman patuh kepadanya, tidak ada satu pun yang menampakkan sikap tidak menyenangkan. Semua tunduk dan patuh. Namun, diam-diam di dalam hati kalangan jin dan manusia tersimpan rasa sinis terhadap Baginda Sulaiman, akan tetapi sekali lagi itu tidak mereka tampakkan, mereka tetap memasang wajah yang manis dan patuh kepada Baginda Sulaiman, raja di atas raja jin dan manusia. Dan tentu saja Baginda Sulaiman tidak mengerti. Hanya hewan-hewanlah yang sangat tulus mengabdi kepada Baginda Sulaiman. Dari kalangan jin dan manusia menyimpan kekurangrelaan diperintah Baginda Sulaiman, tapi mereka tidak berdaya terhadap kekuasaan dan mukjizat nabi Tuhan itu. Sehingga mereka memilih diam dan patuh saja.

Berpuluh tahun Baginda Sulaiman memerintah. Usianya telah tua. Ia adalah raja yang sangat merakyat. Ia memerintahkan abdi-abdinya untuk membangun sebuah bangunan megah yang akan dijadikan tempat rakyat berkumpul untuk menyatakan pendapat. Seluruh bangsa jin dan manusia patuh, mereka mengerjakan perintah Baginda Sulaiman. Baginda Sulaiman mengawasi pekerjaan mereka. Siapa pun akan bekerja dengan sepenuhnya karena raja langsung yang mengawasi. Baginda Sulaiman duduk di singgahsana istananya, tangannya memegang tongkat kayu kesayangannya. Dan dalam keadaan duduk di atas singgahsana sambil tangan kanannya memegang tongkat kayunya, Baginda Sulaiman wafat. Tidak ada satu pun yang tahu jika Baginda Sulaiman telah wafat, karena Baginda Sulaiman wafat dalam keadaan duduk di atas singgahsananya dan tangannya tengah memegang tongkat kayu itu. Seorang raja yang bijaksana, mayatnya tidak mengeluarkan bau, mayat Baginda Sulaiman menyebarkan wangi, wajahnya tidak pucat, tapi matanya terpejam, ia telah wafat. Bertahun-tahun kematian Baginda Sulaiman tidak ada yang mengetahuinya, dan tidak ada satu pun yang berani menghadapnya atau menyampaikan sesuatu kepadanya karena dirasa takut mengganggu. Baginda Sulaiman dikira sedang tertidur pulas di atas singgahsananya sembari tangannya menggenggam tongkat yang ditancapkan di sebelah kursi singgahsananya. Bangsa jin dan manusia terus melaksanakan titah Baginda Sulaiman. Mereka tetap merasa diawasi oleh Baginda Sulaiam, padahal mereka menganggap raja mereka tengah tertidur dengan pulas di atas singgahsananya. Baginda Sulaiman telah wafat. Tidak ada yang tahu. Setelah beberapa tahun lamanya, rayap-rayap itu menggerogoti tongkat Baginda Sulaiman. Rapuhlah tongkat kayu yang menopang tubuh Baginda Sulaiman, dan tubuh Baginda Sulaiman ambruk. Seluruh abdi Baginda Sulaiman dari kalangan jin dan manusia baru tersadar bahwa raja mereka telah wafat.

Kalangan jin dan manusia melakukan pesta suka duka atas kematian Baginda Sulaiman. Mereka menghambur memenuhi istana, titah Baginda Sulaiman telah dihentikan, mereka pun menggelar tari-tarian di istana yang megah itu, menikmati fasilitas istana yang sangat mewah, menyediakan minuman memabukkan dan memandikan tubuh mereka dengan minuman-minuman syetan itu, mendatangkan perempuan-perempuan segar. Mereka melakukan pesta minum, pesta perempuan, bersenggama sesama jenis, bersenggama dengan hewan, dan tidak mempercayai Tuhan. Mereka tertawa. Mereka merasa benar-benar bebas. Mereka tertawa. Tertawa dengan sangat bahagia sekali.

Banyuwangi, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar