Kamis, 05 Agustus 2010

Pohon Jambu dan Usia

di antara lalu lalang benda-benda, balok-balok pikiran menata diri dalam sebentuk ruang segi tiga. Orang-orang menyemburkan asap seperti membuang kecemasan, warung becek, dan kopi jahe. Berita tentang kematian dari ledakan tabung gas tiga kilo. Dan pohon jambu tua di tepi jalan itu melambaikan daun-daunnya yang berdebu, ia berbunga dan bunga-bunganya berserakan di situ. Entah bertahun lamanya, ketika kau menyampaikan sepucuk surat kepada seseorang yang tak dikenal di bawah batangnya yang terus menua. Barangkali karena hujan menikami atap-atap toko yang terbuat dari seng itu, wajahmu sepucat jamur. Dan orang asing itu secara diam-diam tersenyum lesu sambil mengiris alpokat yang layu. Buah-buah merana, semangka yg tak dijamah, singkong yang luka, apel dan wortel mengeriput di atasnya. Setiap orang mungkin pernah berteduh di bawah pohon jambu tua itu di saat panas lepas dari perakiraan cuaca, atau ketika gerimis yang ragu-ragu. Namun tak mungkin seorangpun berdiam lebih lama, karena segala waktu telah punah dalam kesibukan kerja

Taufiq Wr. Hidayat
Muncar, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar