Minggu, 08 Agustus 2010

Tambal Ban "Salahe Sopo"

Kehidupan ini amat instan dan praktis, mulai baju, mode, komunikasi sampai pada istilah, agama dan percintaan, hingga yang sesepele-sepelenya. Masa bodoh dengan proses. Langsung jadi saja. Tepat dan cepat. Sehingga lalu kita boleh bersedih karena nyaris hidup ini kehilangan kesegaran jiwa yang hakiki, yakni kegelisahan, kecemasan, kerinduan yang adalah pusat reinterpretasi segala yang serba baku dan melulu. Kepastian teknologi dan pola pembagian kerja (job discription) dan status, membuat kita terjebak ke dalam sikap harus dalam berkehendak, lalu hidup kita pun hanya sekadar untuk hidup, bukan hidup yang dengan kearifan menerima kehidupan, alangkah kakunya. Padahal hidup kita ini sejatinya membutuhkan ketidakpastian-ketidakpastian dan satire untuk menertawakan diri sendiri sebagai wujud betapa manusianya kita. Tapi, di tengah ini semua, tukang tambal ban memberi nama tempat praktek kanisirnya di tepi jalan dengan tulisan pada benner, yang berbunyi: "Tambal Ban Pak Yanto. Dokter Tambal Ban "Salahe Sopo". Nah..

Taufiq Wr. Hidayat
Muncar, 8 Agustus 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar